PSBM XXVI: Haji Adhan Wollong, Jejak Perantau dari Emperan Pasar hingga Pemilik Jaringan Usaha

0
37
- Advertisement -

PINISI.co.id- Haji Adhan Wollong bersama istrinya, Hj. Nurhaedah, turut hadir dalam perhelatan PSBM ke-26 di Makassar, 25-27 Maret lalu. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi menjadi refleksi panjang perjalanan hidup seorang perantau Bugis Makassar yang penuh ketekunan dan konsistensi.

Pria yang akrab disapa Haji Dehan ini tercatat telah mengikuti PSBM sejak pertama kali digelar pada tahun 1993. Sejak itu, ia hampir tak pernah absen, seolah selalu terpanggil setiap kali kegiatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dilaksanakan.

Perjalanan hidupnya dimulai dari titik nol. Di tanah rantau Serui, Papua, ia mengawali usaha sebagai pedagang sembako kecil di emperan Pasar Central. Dari usaha sederhana itulah, langkah demi langkah ia bangun kehidupan. Kini, setelah lebih dari 50 tahun bermukim di Serui, ia tidak hanya menetap dan membesarkan keluarga, tetapi juga menjadi bagian penting dari masyarakat setempat.
Ketekunannya membuahkan hasil. Di bawah bendera usaha “Serui Indah”, Haji Dehan kini mengelola sekitar 15 unit gerai ritel yang tersebar di wilayah tersebut. Usahanya menjadi bukti nyata bahwa kerja keras dan keteguhan dapat mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan.

Lahir di Barru pada 1954, Haji Dehan dikenal sebagai sosok sederhana. Selain berkiprah di dunia usaha, ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi kemasyarakatan. Ia pernah berperan dalam Partai Golkar serta dipercaya sebagai Ketua Muhammadiyah di Serui, menjadikannya figur yang dihormati di tengah masyarakat.

Di balik kesibukannya sebagai pengusaha, Haji Dehan juga menikmati perjalanan spiritual dan pengalaman hidup yang luas. Secara diam-diam, ia telah menjelajahi hampir seluruh penjuru dunia. Ibadah haji dan umrah telah berkali-kali ia tunaikan, termasuk kesempatan mengunjungi Masjid Al-Aqsa di Palestina.

- Advertisement -

Dalam kehidupan pribadi, ia dikenal sebagai sosok yang memegang teguh komitmen keluarga, hidup setia bersama satu istri dalam rumah tangga yang mawaddah warahmah.
Perjalanan hidup Haji Dehan menjadi cerminan falsafah Bugis: Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata—kerja keras yang sungguh-sungguh akan mengundang rahmat Tuhan. Dari emperan pasar hingga menjadi pengusaha sukses, kisahnya adalah inspirasi tentang keteguhan, kesabaran, dan keyakinan. (Lif/Fik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here