Iskandar, Muh Rais, dan Andi Rusdi: Tiga Jiwa, Satu Semangat dan Tindakan

0
53
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

“Satu jiwa dan satu semangat” dalam judul tulisan ini bersifat metaforis dan filosofis.

Mengapa dalam kehidupan, baik dalam lingkup kaum, komunitas, masyarakat, maupun bangsa diperlukan kepemimpinan yang memiliki simetri visi dan platform yang jelas? Kepemimpinan yang dijalankan bukan sekadar formalitas, melainkan berorientasi pada kemaslahatan dan keselamatan bangsa.

Kepemimpinan bangsa tidak boleh bersifat coba-coba, apalagi terjebak dalam sistem kekuasaan politik yang transaksional. Kekuasaan tidak seharusnya dibagi-bagi melalui “lisensi politik” di antara pemilik partai tanpa standar kompetensi dan integritas moral yang kuat.

Tulisan ini merupakan bagian kecil dari dinamika salah satu institusi, yaitu Institut Lembang Sembilan (IL9), yang berdiri sejak tahun 2003 dan telah berperan dalam tiga kali Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Tiga Bersahabat, Satu Jiwa dan Semangat
Makna “tiga” dalam tulisan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu untuk memahami jejak pemikiran almarhum MH Alwi, khususnya sejak beliau mulai sakit pada tahun 2019.

Beberapa kali direncanakan pertemuan konsolidasi pengurus. Hingga kemudian hadir aktivis senior: Iskandar, Andi Rusdi, dan Muh Rais. Ketiganya telah bersahabat bahkan sebelum bergabung di IL9.

Entah dorongan apa yang mempertemukan mereka kembali, Andi Rusdi kemudian menginisiasi pertemuan. Mereka sepakat untuk menyambung silaturahmi melalui video call pada Senin malam. Pertemuan daring tersebut dihadiri oleh Iskandar, Andi Rusdi, Muh Rais, Nelson, dan penulis.

Dari pertemuan itu, disepakati untuk mengadakan pertemuan lanjutan bersama para aktivis senior lainnya. Penulis kemudian menghubungi Inan, Aryo, Nanang, serta tiga orang content creator media.

Pertemuan awal dilaksanakan di Kedai Sop Saudara Sentral 1954, Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat—milik Muh Rais—yang memiliki ruang kantor di lantai dua.
Setelah menikmati hidangan Sop Saudara dan ikan bandeng bakar, para peserta naik ke lantai dua untuk melaksanakan salat dan melanjutkan diskusi.

Karena pertemuan ini bernuansa silaturahmi, potensi berlangsung lama cukup besar. Oleh karena itu, penulis memandu jalannya pertemuan dengan batas waktu dua jam.

Dalam waktu tersebut, dibahas dua agenda utama yaitu penyikapan terhadap fitnah dan kriminalisasi terhadap Muh Jusuf Kalla. Konsolidasi pengurus Institut Lembang Sembilan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Kesepakatan dan Kepemimpinan Transisi
Salah satu kesepakatan penting adalah penunjukan Dr. Iskandar sebagai Ketua Umum IL9 untuk memimpin masa transisi hingga Musyawarah Nasional (Munas) DPP IL9 pada Agustus 2026.

Dalam kepengurusan harian transisi, Ketua Umum didampingi oleh anggota pleno, antara lain Fiam Mustamin, Sugito, Inan Riau Hasibuan, Basri Cako, Aryo Rama, Chandra, Nanang Supendi, Andi M. Rusdi, Ellen Kusumawaty, Anggia, Nelson, Muh Rais, Abdul Rahman, Ety Surya, dan Lemen K.

Di akhir pertemuan, disampaikan beberapa poin seruan terkait ketegasan penegakan hukum demi menjaga marwah bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seruan tersebut dibacakan oleh Iskandar selaku Ketua Umum dan komando pergerakan.

Dalam rangka persiapan Munas, Ketua Umum bersama para senior juga akan melakukan kunjungan kepada para pembina, antara lain Jusuf Kalla, Sofyan Jalil, dan Aksa Mahmud.

“Polo paa polo. Panni/paha dan sayap boleh patah, tetapi kebenaran dan harga diri harus tetap ditegakkan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here