PINISI.co.id- Pimpinan Pondok Pesantren Ilmul Yaqin Tompobulu, Kabupaten Maros, Prof. (H.C.) Dr. K.H. Amirullah Amri, M.A., memendam ambisi besar: menulis 100 judul buku. Target ini bukan tanpa alasan—ia terinspirasi oleh produktivitas ulama besar dunia Islam seperti Ibnu Sina yang menulis sekitar 275 karya, serta Buya Hamka dengan lebih dari 120 judul buku.
Meski dikenal luas sebagai ulama,
Amirullah Amri justru enggan disematkan gelar tersebut. Ia lebih memilih menempatkan dirinya sebagai penulis yang terus belajar dan berkarya.
“Saya ingin menulis buku saja sambil mengurus pesantren. Semoga bisa mengikuti jejak Buya Hamka dan Ibnu Sina,” ujarnya kepada Bachtiar Adnan Kusuma.
Bagi Amirullah Amri, membaca dan menulis adalah dua hal yang tak terpisahkan—ibarat matahari dan bulan. Dunia menjadi terang karena keduanya hadir bergantian. Ia pun berpesan: membaca di siang hari, menulis di malam hari.
Dorongan menulis itu bukan sekadar wacana. Ia telah menghasilkan sejumlah karya, di antaranya 77 Tanya Jawab Seputar Kematian, Kado Terbaik Ahli Kubur, Menyulam Benang Impian, Pernikahan Suku Bugis, Ilmuku Sedikit, Semangatku yang Banyak, Ketika Batu Nisan Bicara, hingga Dahulukan Adab daripada Ilmu.
Tokoh literasi nasional, Bachtiar Adnan Kusuma, menilai Amirullah Amri sebagai sosok ulama yang unik. Penampilannya sederhana, tutur katanya lugas, tegas, jujur, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Beliau tidak hanya piawai di atas podium, tetapi juga memiliki kekuatan dalam tulisan yang sangat mengesankan,” ungkap Bachtiar, yang juga menjadi editor buku.
Sebagai muballigh yang kerap berkeliling ke berbagai daerah, Amirullah Amri dinilai memiliki wawasan luas dan kepekaan tinggi terhadap fenomena sosial. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pengusaha travel umrah dan haji yang menjunjung tinggi nilai kejujuran.
Nilai tersebut, menurut Bachtiar, telah ditanamkan sejak kecil oleh sang kakek, Sulindra. Kisah tentang kejujuran itu bahkan ia tuangkan dalam bukunya Kenangan Daun Pisang. Baginya, kejujuran bukan sekadar prinsip, melainkan warisan yang mengalir dalam darah.
Karakter itu sejalan dengan gagasan Stephen M. R. Covey dalam bukunya The Speed of Trust, yang menekankan pentingnya kepercayaan sebagai fondasi kehidupan dan kepemimpinan.
Lebih jauh, Bachtiar menilai ambisi menulis 100 buku yang dimiliki Amirullah Amri merupakan bentuk nyata dari upaya melanjutkan tradisi intelektual ulama terdahulu. Ia menyebut sejumlah tokoh inspiratif seperti Ali Yafie, Ali Mustafa Yaqub, Zakiah Darajat, hingga pemikir dunia Islam seperti Al-Farabi, Al-Kindi, dan Ibnu Batutah.
Di tengah arus zaman yang serba cepat, langkah Amirullah Amri menjadi pengingat bahwa tradisi membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan panjang untuk meninggalkan jejak peradaban.














