PINISI.co.id- Menyusul geliat kuliner Nusantara yang lebih dahulu merambah kawasan Jabodetabek, kini masakan Bugis dan Makassar turut memperkaya lanskap cita rasa Indonesia. Kehadirannya tidak lagi terbatas di kota-kota besar, tetapi mulai menjangkau kota-kota kabupaten di berbagai wilayah Tanah Air, terutama di daerah dengan komunitas perantau Sulawesi Selatan yang cukup kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar soal makanan, melainkan juga medium budaya yang bergerak mengikuti mobilitas manusia.
Menariknya, penerimaan masyarakat terhadap kuliner Makassar kini semakin luas. Hidangan-hidangan khas seperti Es Pisang Ijo, Coto Makassar, dan Konro tidak lagi asing di lidah masyarakat di luar Sulawesi Selatan. Bahkan, menu-menu ini mulai menjadi bagian dari pilihan kuliner sehari-hari, bersanding dengan makanan daerah lain yang lebih dulu populer secara nasional.

Di Depok, misalnya, geliat kuliner Makassar telah terasa sejak satu dekade terakhir. Berbagai rumah makan hadir di titik-titik strategis, membawa autentisitas rasa sekaligus pengalaman budaya. Salah satu yang cukup menonjol adalah Rumah Makan Carammeng berlokasi di Jl. Melati Raya No.6, Pancoran Mas, Kota Depok. Tempat ini menyajikan kuliner autentik seperti coto makassar, sop konro, mie titi, nasi goreng merah hingga olahan ikan seperti sop kepala ikan dan pallumara.
Tak ketinggalan, aneka kudapan tradisional seperti jalangkote, panada, barongko, pisang goreng, serta es pisang ijo menjadi pelengkap yang menggugah selera.
Lebih dari sekadar tempat makan, Carammeng menawarkan pengalaman yang berbeda melalui konsep arsitektur dan suasana. Fasad bangunannya menampilkan replika Perahu Pinisi, dengan bagian buritan yang menjorok ke depan, menjadikannya mudah dikenali oleh pengunjung. Elemen ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol kuat identitas budaya Bugis-Makassar yang sarat makna sejarah dan filosofi pelaut.
Pemiliknya, pasangan Syamsuwito Latif dan Bu Emma, tidak hanya menyajikan makanan lezat, tetapi juga berupaya memperkenalkan warisan budaya melalui ikon pinisi. “Selain sajian menu, kami juga ingin memperkenalkan perahu pinisi sebagai ikon Bugis-Makassar,” ujar Syamsuwito.

Ia bahkan berharap restoran Makassar lainnya dapat mengusung konsep serupa, sebagaimana rumah makan Minang yang identik dengan ornamen khasnya.
Keunikan lain, pengunjung dapat naik ke bagian “kapal” untuk menikmati suasana santai sambil menyeruput kopi atau Sarabba, ditemani pisang atau singkong goreng. Spot ini juga menjadi favorit untuk berswafoto, menghadirkan nuansa seolah berada di kampung halaman di pesisir Sulawesi.
Dengan demikian, pengalaman yang ditawarkan tidak hanya soal rasa, tetapi juga atmosfer, menghadirkan sensasi makan sekaligus bernostalgia. Di tempat seperti Carammeng, pengunjung bukan hanya mendapatkan hidangan, tetapi juga cerita dan identitas.
Jadi, jika ingin menikmati kuliner khas Makassar sambil merasakan sentuhan budaya yang autentik, tak ada salahnya mampir ke Carammeng. Makanannya dapat, suasananya pun ikut terasa. (Lif)













