Kolom Yarifai Mappeaty
Penikmat Sejarah
Bantaeng, adalah sebuah entitas antropologis yang kaya dengan jejak sejarah kuno. Mulai dari Dinasti Song, Yuan, Majapahit, hingga Dinasti Ming, semuanya memiliki jejak di sana. Sehingga sebutan Butta Toa (Tanah Tua) baginya, pun bukan asal, tapi memiliki referensi sejarah yang valid. Begitu pun usianya, sangat mungkin jauh lebih tua dari pada yang kita ketahui.
Catatan sejarah yang menyebutnya memang terbatas. Paling tua adalah catatan Mpu Prapanca (1365 M) dalam Negarakertagama. Tetapi, penemuan berbagai jenis keramik yang berasal dari Dinasti Song di Situs Lembang Cina, adalah bukti bahwa Kerajaan Bantaeng sudah eksis sebelum Abad ke-13, jauh dari tahun jadinya, 1254 M.
Dinasti Song berdiri pada tahun 960 M. Taruhlah satu abad kemudian (1060 M), para pedagang Song sudah sampai di Nusantara berdagang rempah, sembari membawa keramik untuk dipertukarkan. Dalam pelayaran ke Maluku itulah mereka singgah di Pelabuhan Bantaeng.
Adapun Lembang Cina, ditengarai sebagai pemukiman yang didirikan oleh orang-orang Song. Hal itu semakin menegaskan bahwa Bantaeng kala itu, memang sudah menjadi bandar laut besar yang sudah terkenal hingga di daratan Tiongkok.
Muncul pertanyaan, mengapa pedagang Song lebih memilih mendirikan pemukiman di Bantaeng dari pada di daerah lain?
Karena letaknya di pesisir. Sangat mudah diakses dan disinggahi oleh kapal dagang asing yang berlayar ke Maluku atau sebaliknya. Coba tengok di peta, posisi Bantaeng tepat berada di jalur pelayaran yang menghubungkan Barat dan Timur Nusantara. Di masa itu, posisi Bantaeng tak ada duanya.
Dinasti Yuan yang muncul setelah Dinasti Song, juga menyadari eksistensi Bantaeng. Keramik yang ditemukan di Lembang Cina yang berasal dari dinasti tersebut, mengungkapkan kalau para pedagang Yuan, pun pernah sampai di Bantaeng. Dinasti Mongol itu berdiri pada tahun 1271 – 1368 M.
Sekitar Abad ke-14, Majapahit tampaknya mencoba mengontrol perdagangan rempah di Nusantara, dengan mendirikan pemukiman di pesisir Selat Makassar. Jejak pemukiman itu masih bisa ditemukan pada Kampung Manjopai di Bontonompo, Gowa, dan Manjopaiq di Tinambung, Mandar. Secara linguistik, keduanya sangat dekat dengan penyebutan Majapahit.
Memang sedikit aneh tatkala pemukiman Majapahit tidak ditemukan di Bantaeng. Apakah Bantaeng ketika itu sudah mengalami kemunduran? Ataukah ada kekuatan lain bercokol di sana, misalnya, Ming.
Masih ingat ekspedisi Laksamana Ceng Ho ke Nusantara pada awal Abad ke-15? Sejatinya, itu adalah ekspedisi dagang. Diyakini juga pernah berlabuh di Bantaeng, kemudian diikuti oleh para pedagang Ming lainnya dari generasi berikutnya hingga Abad ke-17. Penemuan keramik biru – putih khas Dinasti Ming produksi Abad ke-15 hingga 17, menegaskan hal itu.
Tetapi kendati demikian, bukan berarti bahwa jejak Majapahit luput di Bantaeng. Penemuan Arca Terakota yang berasal dari Majapahit di beberapa situs, seperti Pattallasang, Kaloling, Borong Kapala, dan Banyorang, menunjukkan bahwa Majapahit pun pernah menjejakkan kaki di Butta Toa.
Selain itu, Lumpangeng dan Lasepang yang saat ini merupakan dua perkampungan Bugis di Bantaeng, juga menyimpan jejak sejarah masa lampau yang tidak kurang menarik. Siapa mereka, dari mana berasal, dan sejak kapan bermukim, belum benar-benar terang.
Dengan jumlah populasi relatif cukup besar, justeru membuatnya terlihat unik. Tampak menyempil di tengah hegemoni dan dominasi masyarakat Suku Makassar dalam segala hal. Tetapi, identitas primordialnya benar-benar kukuh, tak punah oleh proses akulturasi.
Dalam bertutur, misalnya, logat dan dialeknya sangat mirip dengan orang Bugis Bulukumba. Namun ada yang berbeda. Beberapa suku kata yang kerap diucapkan, justeru tidak umum dipakai oleh orang Bugis Bulukumba.
Sebagai contoh pada kalimat, “Di mana kamu simpan?” Orang Bugis Bulukumba dan atau Sinjai menyebut, “Digai mutaro?” Sedangkan orang Lumpangeng dan Lasepang, “Tegai mutaro?”
Hal itu menegaskan kalau mereka tidak berasal dari Bulukumba maupun Sinjai. Sebab suku kata “tegai” itu, khas dan umum dijumpai pada orang Bugis Bone, Soppeng, dan Wajo. Benar saja. Sebab ketika ditanya, mereka mengaku kalau leluhurnya berasal dari Bone, meski dialek mereka terpengaruh sepenuhnya oleh Bulukumba.
Apakah keberadaan mereka itu ada kaitannya dengan peristiwa pengusiran La Tenri Ruwa, Raja Bone ke – 11 pada awal Abad 17? Kita coba telusuri sekaligus melakukan rekonstruksi.
Pada tahun 1611, La Tenri Ruwa memeluk Islam atas ajakan Sultan Alauddin, Raja Gowa. Namun Dewan Adat Bone tidak menyetujuinya. La Tenri Ruwa yang bergelar Sultan Adam itu pun dilengserkan dan diusir.
Mendengar hal itu, Sultan Alauddin mengirimkan kapal untuk menjemput La Tenri Ruwa di Pattiro. Sempat terjadi perang, namun Bone dapat dikalahkan. Kakek buyut La Tenritatta Arung Palakka itu bersama pengikutnya berhasil dibawa ke Gowa dengan selamat.
Selama tinggal di Gowa, La Tenri Ruwa mendalami Ilmu Islam kepada Datuk Ribandang. Setelah dirasa cukup, ia bermaksud meninggalkan Gowa, dan Sultan Alauddin memberi kebebasan untuk memilih tempat bermukim. La Tenri Ruwa pun kemudian memboyong seluruh pengikutnya, berlayar menuju Bantaeng.
Di Bantaeng, “Kaum Muhajirin” dari Bone itu disambut dengan suka cita oleh penguasa Bantaeng, lalu diberi tanah untuk bermukim di sebelah Timur Balla Lompoa (istana), sekitar 5 Km. Tanah itu semula tak berpenghuni, namun tiba-tiba dipenuhi banyak orang (Allumpa tau). Mungkin semenjak itu disebut Lumpangeng oleh penduduk ssli Bantaeng (Suku Makassar).
Secara linguistik, “Lumpangeng” juga punya kemiripan dengan penyebutan “Leppangeng” dalam Bahasa Bugis, artinya, tempat persinggahan.
Bagi sebagian besar pengikut La Tenri Ruwa, Lumpangeng memang merupakan tempat persinggahan, sebelum dipindahkan sedikit ke arah Barat, sekitar 1 Km. Tempat itu, kini disebut Lasepang.
Adapun La Tenri Ruwa serta kerabat dekatnya, diyakini tetap bermukim di Lumpangeng. Hal itu ditandai oleh adanya “Galung Akkinanreng”, yaitu lahan persawahan sumber makanan raja dan keluarganya. Letaknya, sedikit ke Timur.
Karena itu, Lumpangeng dan Lasepang, jelas bukan pemukiman yang muncul secara alamiah. Tetapi tanah yang dihadiahkan oleh Karaeng Bantaeng kepada La Tenri Ruwa. Hal itu mengingatkan pada tanah perdikan di Jawa. Misalnya, Tanah Perdikan Manoreh dalam cerita silat “Api di Bukit Manoreh”. Adapun pemilik sekaligus penguasa tanah itu dipanggil Gede Manoreh.
La Tenri Ruwa kurang lebih sama. Bedanya, ia bukan orang kebanyakan yang diberi hadiah, namun seorang Mangkau’. Kedudukannya setara dengan Sombayya di Gowa. Di samping itu, La Tenri Ruwa bagi Karaeng Bantaeng adalah saudara seiman yang harus ia perlakukan dengan hormat dan penuh cinta, termasuk menyapanya dengan panggilan yang pantas untuknya.
Lantas, apa sapaan yang dianggap paling pantas bagi seorang La Tenri Ruwa? Karena bermukim di Lumpangeng, maka Karaeng Bantaeng pun menyapanya, Puatta Lumpangeng, mengikuti tradisi di Bone. Namun seiring berjalannya waktu, sapaan itu berubah menjadi “Puang Lumpangeng”. Setelah mangkat, La Tenri Ruwa yang meninggal di Bantaeng diberi gelar “Matinroe ri Bantaeng”.
Saat ini, tidak jauh dari Lumpangeng ke arah Utara, di pinggir jalan poros menuju Bateballa, terdapat sebuah makam tua yang sangat disakralkan. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai makam Puang Lumpangeng, dan dipercaya sebagai leluhur orang-orang Lumpangeng.
Salah satu nara sumber penulis, Salahuddin Alam, seorang tokoh asli dari Lumpangeng, mengungkapkan, “Kami di Lumpangeng dan Lasepang, berbicara dalam Bahasa Bugis dan Makassar. Namun dalam sehari-hari di rumah, kami bertutur dalam Bahasa Bugis. Juga, orang-orang tua kami dahulu, kerap bercerita kalau leluhur kami berasal dari Bone.”
“Makam di sana itu yang disebut Puang Lumpangeng, itu leluhur kami orang Lumpangeng. Bahwa ada kaitannya dengan Puatta La Tenri Ruwa, saya tidak berani menyimpulkan. Hanya saja, begitu sakralnya kedua nama itu bagi orang Lumpangeng, sehingga tidak boleh sembarang diceritakan,” pungkasnya.
Muchlis Hadrawi, seorang filolog (Ahli naskah kuno) dari Unhas, kurang lebih membenarkan bahwa memang pernah ada pemukim asal Bone di Bantaeng pada awal Abad ke-17. Pemukim itu terkait dengan peristiwa sejarah La Tenri Ruwa mengalami pengusiran dari Bone, yang kemudian memilih menetap di Bantaeng hingga akhir hayatnya.
Timbul pertanyaan, jika bukan di Lumpangeng dan Lasepang, maka di mana lagi saat ini keturunan Kaum Muhajirin dari Bone itu di Bantaeng? Sedangkan menganggap mereka telah punah dalam rentang waktu empat ratus tahun, tentu sumir, bahkan terlalu naif.













