Strong Brand Aktivis Literasi di Era Informasi

0
48
- Advertisement -

Kolom Ata                                                  Wakil Sekretaris GPMB Maros

Di tengah derasnya arus informasi, seorang aktivis literasi tidak lagi cukup hanya menjadi pembaca buku atau penyelenggara kegiatan membaca. Ia dituntut menjadi penafsir zaman. Dunia hari ini bergerak bukan semata karena kekuatan ekonomi atau politik, tetapi karena siapa yang mampu mengelola informasi, membangun narasi, dan menjaga kepercayaan publik. Di sinilah pentingnya strong brand bagi pegiat literasi: sebuah identitas intelektual yang lahir dari konsistensi gagasan, integritas moral, dan kemampuan memanfaatkan informasi secara bijaksana.

Tokoh perbukuan nasional yang juga ketua GPMB Maros Bachtiar Adnan Kusuma Selaras dengan pemikiran Filsuf Prancis Michel Foucault yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan. Dalam pandangannya, informasi bukan sekadar data, melainkan alat yang membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Seorang aktivis literasi yang mampu mengelola informasi dengan cerdas akan memiliki pengaruh sosial yang besar. Ia bukan hanya menyebarkan bacaan, tetapi membangun kesadaran masyarakat.

Sementara itu, Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang sehat melalui komunikasi yang rasional. Aktivis literasi memiliki posisi strategis untuk menciptakan ruang dialog di tengah maraknya hoaks, propaganda, dan budaya instan media sosial. Strong brand seorang pegiat literasi lahir ketika masyarakat melihatnya sebagai sumber pengetahuan yang terpercaya, kritis, dan mencerahkan.

Di sisi lain, Marshall McLuhan mengingatkan bahwa “medium is the message.” Cara menyampaikan informasi sama pentingnya dengan isi informasi itu sendiri. Karena itu, pegiat literasi modern harus mampu memanfaatkan media digital, desain komunikasi, dan jejaring sosial untuk memperluas pengaruh gerakan literasi. Buku tetap penting, tetapi cara membumikan nilai buku kepada masyarakat adalah tantangan utama zaman ini.

Bagi seorang aktivis literasi, membangun brand bukan berarti mencari popularitas semata. Strong brand adalah tentang menghadirkan karakter yang kuat: dikenal karena gagasan, dihormati karena integritas, dan diingat karena kontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam filsafat Aristotle, manusia yang baik adalah manusia yang membiasakan kebajikan dalam tindakan sehari-hari. Maka, konsistensi membaca, menulis, berdiskusi, dan menyebarkan pengetahuan adalah fondasi utama membangun citra intelektual yang otentik.

Pada akhirnya, aktivis literasi bukan hanya penjaga buku, tetapi penjaga peradaban. Di era informasi yang serba cepat ini, mereka yang mampu memanfaatkan pengetahuan dengan bijak akan menjadi cahaya bagi masyarakat. Sebab literasi bukan sekadar kemampuan membaca kata-kata, melainkan kemampuan memahami dunia dan mengubahnya menjadi lebih beradab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here