Kolom Syamsul Zakaria
Dalam perjalanan panjang organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Jakarta, ada banyak nama yang hadir bukan sekadar sebagai penggembira, melainkan sebagai penggerak. Mereka bekerja tanpa banyak sorotan, mengabdi tanpa menghitung untung rugi, dan membangun organisasi dengan tenaga, pikiran, bahkan pengorbanan pribadi. Di antara nama-nama itu, Achmad ahir Ratu dan Aprial Hasfa : adalah dua sosok yang layak dikenang.
Keduanya bukan tokoh yang lahir dari privilese besar. Mereka tidak datang dengan gelar akademik yang panjang, tidak pula dibesarkan oleh kekuatan kekuasaan atau jaringan elite. Mereka tumbuh dari kerasnya kehidupan Jakarta, merintis dari bawah, bahkan dari perjuangan “door to door”, mengetuk satu demi satu pintu kehidupan untuk membangun masa depan. Dari proses itulah mereka ditempa menjadi pribadi yang tangguh dan dekat dengan masyarakat akar rumput.
Saya mengenal mereka bukan hari ini. Sejak lama, ketika aktivitas organisasi mahasiswa dan paguyuban daerah masih sangat dinamis di Jakarta, keduanya sudah aktif dalam berbagai kegiatan KKSS maupun IKAMI. Mereka hadir bukan karena ingin dikenal, tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap organisasi dan sesama warga Sulawesi Selatan di perantauan.
Achmad Tahir Ratu adalah sosok organisatoris yang progresif. Ketika dipercaya menjadi Ketua KKSS Jakarta Utara, ia memperlihatkan energi kepemimpinan yang luar biasa. Gerakannya begitu aktif, komunikasinya menjangkau banyak kalangan, mulai dari warga di tingkat bawah hingga para petinggi KKSS di pusat, bahkan sampai kepada Jusuf Kalla yang menjadi tokoh penting KKSS nasional.
Aktivitas Achmad Tahir Ratu sering kali melampaui batas-batas formal wilayahnya. Sebagai Ketua KKSS Jakarta Utara, kegiatannya terasa seperti kegiatan tingkat pusat. Namun saya justru melihat di situlah semangat pengabdiannya. Sebelum melaksanakan berbagai agenda, ia hampir selalu datang berkonsultasi di kantor saya. Dari komunikasi-komunikasi itulah lahir kesadaran bahwa organisasi KKSS di Jakarta membutuhkan struktur yang lebih kuat dan lebih luas.
Saya kemudian berpikir bahwa tidak cukup hanya Jakarta Utara yang aktif. KKSS harus dibangun secara merata di seluruh wilayah Jakarta. Dari gagasan dan dinamika itulah akhirnya dibentuk BPW KKSS DKI Jakarta, yang kemudian saya pimpin selama dua periode. Dalam proses sejarah itu, Achmad Tahir Ratu menjadi salah satu motor penggerak yang memberi warna penting bagi perkembangan organisasi.
Sementara itu, Aprial memiliki karakter yang berbeda. Jika Tahir Ratu kuat dalam konsolidasi organisasi dan komunikasi massa, Aprial hadir dengan talenta seni dan kepekaan politik yang tinggi. Ia tidak hanya memahami seni dalam arti musik dan hiburan, tetapi juga memiliki “seni” dalam membangun relasi, membaca situasi, dan menjaga komunikasi politik organisasi.
Keduanya sering berjalan bersama, saling mendukung dan saling melengkapi. Dalam banyak kesempatan saya melihat bagaimana mereka membangun solidaritas tanpa pamrih. Mereka memahami bahwa organisasi besar tidak mungkin tumbuh hanya dengan satu orang, melainkan melalui kebersamaan dan saling menopang.
Sebagai aktivis sejak masa mahasiswa, saya menyaksikan sendiri bagaimana perjalanan mereka dalam dinamika KKSS dan IKAMI. Hampir seluruh Ketua Umum KKSS dari masa ke masa mengenal keduanya. Mulai dari Andi Yunus, H. Taha, Beddu Amang, Hasanuddin Massaile, A. Rivai, Sattar Taba, Muchlis Patahna, hingga Ketua Umum sekarang, Andi Amran Sulaiman, mereka tetap menjaga komunikasi dan hubungan baik. Itu menunjukkan bahwa pengabdian mereka tidak dibangun secara sesaat, melainkan melalui konsistensi dan loyalitas panjang terhadap organisasi.
Banyak kenangan yang tertinggal dari perjalanan mereka. Dan sesungguhnya, kenangan itu bukan sekadar nostalgia pribadi, melainkan bagian dari sejarah pengabdian KKSS di Jakarta. Organisasi sebesar KKSS tidak lahir begitu saja. Ia dibangun oleh banyak tangan, banyak pikiran, dan banyak pengorbanan dari berbagai generasi.
Karena itu, siapapun yang hari ini menikmati besarnya nama KKSS, hendaknya menghargai para pejuang organisasi. Jangan melihat hanya mereka yang tampil di depan layar, tetapi lihat pula orang-orang yang selama ini bekerja dalam diam. Mereka adalah fondasi yang membuat organisasi tetap berdiri kokoh.
Di balik perjalanan panjang itu, ada pula nama-nama lain yang patut diberi penghormatan, salah satunya Fiam Mustamin yang menurut saya memiliki kontribusi besar dalam mendorong kemajuan KKSS di berbagai era. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya diberi ruang, dukungan, dan penghargaan, agar organisasi tidak kehilangan arah dan tetap berjalan di rel pengabdian.
Pada akhirnya, organisasi bukan hanya soal struktur dan jabatan. Organisasi adalah tentang jejak pengabdian, tentang ketulusan menjaga persaudaraan, dan tentang orang-orang yang rela bekerja tanpa menunggu tepuk tangan. Achmad Tahir Ratu dan Aprial telah menunjukkan itu semua. Dan karena itulah, mereka layak dikenang.













