MENYONGSONG MUKTAMAR XVI TAPAK SUCI

0
87
- Advertisement -

Menjaga Tradisi, Menguatkan Prestasi, Melanjutkan Kepemimpinan

Catatan Muslimin Mawi
Ketua Departemen Pembinaan Organisasi & Hubungan Luar Negeri PB. IPSI
Periode 2003 – 2007

Dalam perjalanan sebuah organisasi, terdapat momentum-momentum penting yang tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi titik refleksi, evaluasi dan penentuan arah masa depan. Bagi keluarga besar Perguruan Seni Bela Diri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah, momentum tersebut akan hadir melalui Muktamar XVI yang akan diselenggarakan pada tanggal 6–9 Agustus 2026 di Semarang, Jawa Tengah.

Muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, muktamar merupakan ruang konsolidasi gagasan, penyatuan visi, serta peneguhan komitmen organisasi dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Di dalam forum inilah sejarah masa lalu dievaluasi, capaian masa kini diapresiasi dan cita-cita masa depan dirumuskan secara bersama-sama.

Tapak Suci Putera Muhammadiyah memiliki jejak sejarah yang panjang dalam perjalanan bangsa. Didirikan di Yogyakarta pada tanggal 10 Rabiul Awal 1383 Hijriah yang bertepatan dengan 31 Juli 1963 Masehi, organisasi ini lahir dari semangat dakwah, pendidikan dan pelestarian budaya bangsa melalui seni bela diri pencak silat. Kehadirannya menjadi bukti bahwa pencak silat tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertahanan diri, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter,
penguatan spiritualitas dan pembinaan generasi muda yang berakhlak mulia.
Secara akademis, keberhasilan sebuah organisasi dapat diukur dari kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan lingkungan tanpa kehilangan identitas dasarnya. Dalam konteks tersebut, Tapak Suci telah menunjukkan kapasitas transformasi yang luar biasa. Dalam usia yang memasuki 63 tahun, Tapak Suci telah berkembang dari sebuah perguruan seni bela diri tradisional menjadi organisasi modern yang memiliki jaringan luas dan sistem organisasi yang semakin matang.

Transformasi tersebut terlihat dari perkembangan struktur organisasinya yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Drs. H. M. Afnan Hadikusumo, P.Br., Tapak Suci berhasil memperluas dan memperkuat jaringan organisasi hingga memiliki kepengurusan wilayah PIMWIL di 36 dari 38 provinsi di Indonesia. Di tingkat daerah, kepengurusan dan unit-unit latihan telah hadir di berbagai Kabupaten dan Kota, bahkan pembinaan organisasi ini telah berkembang melalui pembentukan perwakilan Tapak Suci di sejumlah negara di mancanegara.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Tapak Suci tidak lagi sekadar menjadi organisasi pencak silat nasional, tetapi telah bergerak menuju organisasi berbasis budaya dan dakwah yang memiliki jangkauan global. Fenomena ini menjadi indikator bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Tapak Suci memiliki daya tarik universal yang mampu diterima oleh berbagai kalangan dan lintas negara.
Dari perspektif olahraga prestasi, kontribusi Tapak Suci terhadap perkembangan pencak silat Indonesia juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Pesilat-pesilat Tapak Suci secara konsisten menorehkan prestasi mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga kejuaraan nasional dan Pekan Olahraga Nasional (PON). Bahkan di arena internasional, baik tingkat ASEAN, Asia, maupun kejuaraan dunia, atlet-atlet Tapak Suci berulang kali mengharumkan nama Indonesia melalui raihan medali emas dan gelar juara.

Prestasi tersebut tidak lahir secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari sistem pembinaan yang berkelanjutan, disiplin organisasi yang kuat, serta perpaduan antara pengembangan kemampuan fisik, mental dan spiritual. Dalam perspektif manajemen organisasi modern, keberhasilan semacam ini merupakan buah dari kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan visi organisasi dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia secara berkesinambungan.
Namun demikian, kekuatan utama Tapak Suci sesungguhnya tidak hanya terletak pada kemampuan melahirkan pesilat-pesilat berprestasi. Keunggulan yang membedakannya dengan banyak perguruan bela diri lainnya adalah karakter ideologis dan moral yang melekat dalam sistem pembinaannya. Sebagai organisasi otonom di bawah Persyarikatan Muhammadiyah, Tapak Suci tidak hanya mendidik anggotanya menjadi pendekar yang tangguh, tetapi juga membina mereka menjadi pribadi yang beriman, berakhlak dan memiliki tanggung jawab sosial.
Hal tersebut tercermin dalam moto yang selama ini menjadi ruh perjuangan Tapak Suci: “Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat, Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah.”

Moto tersebut mengandung pesan filosofis yang sangat mendalam. Kekuatan sejati tidak semata-mata terletak pada kemampuan fisik atau teknik bela diri, melainkan pada kualitas iman dan akhlak yang menjadi fondasi setiap tindakan. Dalam era modern yang sering kali mengagungkan kekuatan material dan kompetisi tanpa batas, nilai-nilai yang diajarkan Tapak Suci justru menjadi semakin relevan.

Menjelang Muktamar XVI, salah satu pertanyaan yang mulai mengemuka di kalangan kader dan warga Tapak Suci adalah: siapakah yang akan memimpin organisasi ini untuk lima tahun mendatang?

Pertanyaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi yang demokratis. Namun, dalam perspektif tata kelola organisasi modern, pergantian kepemimpinan idealnya tidak hanya didasarkan pada figur semata, melainkan pada kebutuhan organisasi untuk menjaga kesinambungan program, stabilitas kelembagaan dan pencapaian tujuan strategis yang sedang berjalan.

Dalam konteks itulah, keberlanjutan kepemimpinan menjadi salah satu opsi yang layak dipertimbangkan secara objektif. Terlebih, terdapat agenda besar yang saat ini masih dalam proses penyelesaian, yaitu pembangunan Pedepokan Pencak Silat Tapak Suci bertaraf nasional di Yogyakarta. Proyek strategis tersebut bukan hanya pembangunan fisik semata, melainkan investasi jangka panjang bagi pengembangan Tapak Suci sebagai pusat pendidikan, pelatihan, kaderisasi, penelitian dan pengembangan pencak silat nasional.

Secara teoritis, keberlanjutan kepemimpinan sering kali diperlukan ketika organisasi sedang menjalankan program strategis berskala besar yang membutuhkan konsistensi visi, kesinambungan kebijakan dan pengalaman manajerial yang memadai. Oleh karena itu, kepemimpinan yang memiliki rekam jejak keberhasilan dalam memperluas jaringan organisasi, meningkatkan prestasi dan mengelola pembangunan kelembagaan memiliki legitimasi yang kuat untuk melanjutkan amanah organisasi.

Tentu saja, keputusan akhir tetap berada di tangan peserta Muktamar sebagai pemegang kedaulatan organisasi. Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa siapapun yang terpilih nantinya mampu menjaga marwah Tapak Suci, melanjutkan program-program strategis yang telah dirintis, serta membawa organisasi ini menuju level yang lebih tinggi dalam pengabdian kepada umat, bangsa dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Muktamar XVI Tapak Suci di Semarang bukan hanya tentang memilih seorang Ketua Umum. Ia adalah tentang menentukan arah perjalanan sebuah organisasi besar yang telah mengabdikan diri selama lebih dari enam dekade dalam membina generasi bangsa. Ia adalah tentang bagaimana warisan para pendiri dijaga, prestasi yang telah diraih dipertahankan dan masa depan organisasi dipersiapkan dengan penuh tanggung jawab.

Pada akhirnya, Tapak Suci bukan hanya perguruan pencak silat. Ia adalah rumah kaderisasi, sekolah karakter dan ladang pengabdian yang memadukan kekuatan fisik, kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, serta keluhuran akhlak. Karena itu, menyongsong Muktamar XVI sejatinya adalah menyongsong masa depan Tapak Suci yang semakin kuat, semakin berprestasi dan semakin memberi manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan iman dan akhlak, Tapak Suci telah tumbuh menjadi besar. Dengan iman dan akhlak pula, Tapak Suci akan melangkah menuju masa depan yang lebih gemilang.

Eramas 2000, 06 Juni 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here