Abdul Rivai: Membangun KKSS dengan Budaya Kebersamaan (Yassimanengngi)

0
87
- Advertisement -

Kesaksian Fiam Mustamin

Siapa dan Bagaimanakah Sosok Abdul Rivai?

Dengan latar belakang sebagai prajurit TNI, Abdul Rivai dikenal sebagai pribadi yang menjunjung tinggi disiplin, integritas, dan komitmen yang tidak tergoyahkan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai-nilai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam setiap langkah kepemimpinannya.

Saya mengenal beliau ketika dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum merangkap Pelaksana Harian mendampingi Ketua Umum KKSS, Mohammad Taha. Dalam struktur organisasi, secara langsung beliau menjadi “komandan” saya ketika bertugas melayani di Sekretariat KKSS.

Peran tersebut saya hayati dengan penuh kesadaran. Sebagai anak seorang veteran dan tumbuh dalam lingkungan keluarga tentara, disiplin, loyalitas, dan jiwa pengabdian telah menjadi bagian dari kehidupan saya. Nilai-nilai itu bukan semata-mata diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan merupakan hidayah atau pammasena Puangnge—anugerah dari Allah SWT.

Genetika Bugis Tulen
Bagaimana menerjemahkan sosok Abdul Rivai dalam perspektif budaya Bugis?
Dalam falsafah Bugis dikenal empat karakter utama kemuliaan manusia yang disebut Eppa Sulapa, yaitu: Malempu (jujur), Macca (cerdas), Warani (berani), dan Magetteng (teguh pendirian).

Keempat nilai itu berpadu dalam harmoni: Malempu na Macca, Warani na Magetteng.
Sejak masa kerajaan-kerajaan Bugis, nilai-nilai tersebut telah menjadi syarat utama seorang pemimpin. Hingga kini, falsafah itu tetap relevan sebagai fondasi kepemimpinan yang berintegritas.

Di tengah budaya politik yang sering diwarnai transaksi kepentingan dan materialisme, warisan nilai Bugis tersebut menjadi semakin penting untuk terus dihidupkan. Kepemimpinan lokal yang berakar pada nilai budaya diharapkan mampu menginspirasi kepemimpinan bangsa yang lebih bermartabat.

Legasi Abdul Rivai yang Dikenang
Setiap masa kepemimpinan selalu meninggalkan jejak. Seorang pemimpin tidak hanya menjalankan fungsi administratif atau menjadi simbol formal organisasi, tetapi menghadirkan gagasan, karya, dan keteladanan yang memberi arah bagi perjalanan organisasi.

Dalam ingatan saya, semasa Almarhum Abdul Rivai memimpin sebagai Pelaksana Harian KKSS, beliau menanamkan semangat pengabdian seorang prajurit yang loyal kepada organisasi dan masyarakat. Nilai-nilai Sapta Marga diterjemahkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di lingkungan KKSS.
Beberapa warisan yang patut dikenang antara lain mendorong lahirnya komunikasi organisasi yang lebih interaktif melalui penerbitan Majalah KKSS secara berkala, terwujudnya Sekretariat Permanen KKSS, terjaganya kesinambungan penyelenggaraan PSBM, serta berbagai kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi warga KKSS dan masyarakat luas.

Abadikan Pengabdian 50 Tahun KKSS
Menjelang usia emas 50 tahun KKSS pada 12 November 2026, sudah saatnya peringatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum bersejarah tersebut hendaknya menjadi kesempatan untuk mengabadikan jejak pengabdian para tokoh yang telah membangun dan membesarkan KKSS.

Penghargaan kepada mereka yang telah berkarya dapat diwujudkan melalui piagam penghormatan maupun bentuk apresiasi lainnya yang memiliki nilai moral dan material. Dengan demikian, sejarah pengabdian para pendahulu tidak hilang ditelan waktu, tetapi menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam melanjutkan perjalanan KKSS menuju masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here