Kolom Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (2012–2015); dan Ketua Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia – HIFDI
Ketika Perairan dan pesisir teluk Makassar tercemari oleh sampah plastik dan limbah rumah tangga. Sungai Jeneberang tercemar dan meluap. Sungai Walanae mengalami abrasi ekstrem dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS) kritis. Danau (tappareng)Tempe alami sedimantasi, pendangkalan, dan penyusutan luas perairan. Di balik krisis ekologis yang mendera Sulawesi Selatan hari ini, terselip ironi yang dalam: nenek moyang kita, orang Bugis, justru telah merumuskan etika lingkungan yang sangat canggih berabad-abad sebelum istilah sustainable development bahkan dikenal dunia. Pertanyaannya: ke mana kearifan itu pergi?
Sulapa Eppa: Fondasi Kosmologi yang Terlupakan
Dalam pandangan kosmologi Bugis, alam semesta dibangun di atas keseimbangan empat unsur: air, tanah, angin, dan api, dikenal sebagai falsafah Sulapa Eppa (empat persegi). Bukan sekadar metafora, ini adalah panduan moral yang mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Andi Zainal Abidin Farid, dalam Wajo Abad XV–XVI (1985), mencatat bahwa tatanan sosial-ekologis Bugis tidak memisahkan manusia dari alam, melainkan menempatkannya sebagai bagian integral dari sistem semesta yang harus dijaga keharmonisannya.
Pandangan ini mendapat ekspresi paling monumental dalam naskah I La Galigo, epos sastra Bugis yang oleh UNESCO diakui sebagai salah satu naskah terpanjang dan terkaya di dunia. Di dalam epos ini, hubungan manusia dengan laut, sungai, danau, hutan, dan langit bukan relasi eksploitatif, melainkan relasi kosmis yang penuh tanggung jawab. Berlayar adalah ibadah, menangkap ikan adalah ritual, dan merusak air adalah pelanggaran spiritual.
Laut (Tasi’): Panggung Spiritualitas dan Pelayaran Beretika
Jika sungai adalah cermin kepemimpinan, maka laut adalah panggung pembuktian karakter. Roger Tol dan Kees van Dijk dalam Indonesia and the Malay World mencatat bahwa tradisi pelayaran Bugis dengan kapal Pinisi bukan semata aktivitas ekonomi, melainkan ekspresi nilai-nilai luhur: keberanian (warani), kejujuran (lempu’), dan kecakapan (macca). Berlayar tanpa merusak laut adalah prinsip dasar, karena merusak laut berarti merusak jalan hidup itu sendiri.
Christian Pelras dalam Manusia Bugis, karya monumental yang diterjemahkan dan diterbitkan Forum Jakarta-Paris (2006), menggambarkan betapa dalam ikatan orang Bugis dengan laut: bukan hubungan penaklukan, melainkan hubungan persahabatan yang penuh kehati-hatian. Ritual mappanretasi’ (syukur kepada laut) yang dilangsungkan sebelum musim melaut adalah praktik pengakuan: manusia bukan penguasa lautan, melainkan tamu yang harus sopan dan bertanggung jawab.
Sungai (Salo): Ketika Alam Menjadi Cermin Kepemimpinan
Bagi orang Bugis, sungai, disebut salo, adalah lebih dari sekadar jalur air. Ia adalah metafora kehidupan sosial dan barometer moral seorang pemimpin. Dalam kumpulan pappaseng (pesan leluhur) yang dikodifikasikan antara lain dalam naskah La Toa, manuskrip klasik Bugis yang diteliti secara mendalam oleh Mathes (1872) dan kemudian oleh Pelras dalam The Bugis (1996), terdapat ungkapan yang terkenal: “Saloe na dek uwaena”, sungai yang tak berair. Kalimat ini bukan tentang kekeringan geografis. Ia adalah hukuman moral tertinggi bagi pemimpin yang korup, yang tak lagi memberi kesejahteraan kepada rakyatnya, yang ditinggal pergi oleh kepercayaan publik, seperti air yang surut pergi meninggalkan dasar sungai.
Etika penjagaan sungai dioperasionalisasikan melalui dua pilar utama. Pertama, sistem pemmali, pantangan adat yang melarang membuang kotoran, limbah, atau melakukan tindakan yang merusak ekosistem sungai. Pelanggaran pemmali dipercaya mendatangkan bala, tulah atau malapetaka bagi pelaku dan komunitasnya. Ini bukan soal takhayul; ini adalah mekanisme sosial-ekologis yang efektif untuk menjaga kualitas air sebelum ada regulasi lingkungan hidup negara. Kedua, nilai ade’ assamaturuseng, konsensus kolektif komunitas untuk melarang eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya air. Christian Pelras mencatat bahwa nilai gotong royong ekologis ini menjadi tulang punggung ketahanan komunitas Bugis sepanjang sejarah.
Relevansi di Tengah Krisis Ekologis Hari Ini
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa kualitas air sungai di Sulawesi Selatan mengalami penurunan signifikan dalam dua dekade terakhir. Pendangkalan Danau Tempe akibat sedimentasi dan alih fungsi lahan adalah ancaman nyata terhadap ketahanan pangan ratusan ribu keluarga nelayan. Di pesisir Makassar, sampah plastik mengancam ekosistem laut yang menjadi basis ekonomi nelayan tradisional.
Ironinya, orang-orang yang kini membuang limbah ke sungai, menangkap ikan dengan bom, dan mengkonversi hutan mangrove menjadi tambak ilegal adalah pewaris dari peradaban yang pernah merumuskan etika lingkungan paling maju di Nusantara. Di sinilah terletak tragedi sesungguhnya: bukan ketiadaan pengetahuan, melainkan terputusnya transmisi nilai.
Catatan Akhir dan Rekomendasi
Kearifan ekologis Bugis bukan peninggalan museum. Ia adalah modal budaya yang siap diaktivasi. Pemerintah daerah perlu mengintegrasikan nilai-nilai pemmali dan ade’ assamaturuseng ke dalam regulasi pengelolaan sungai dan pesisir berbasis komunitas. Lembaga pendidikan, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, perlu menempatkan naskah La Toa dan I La Galigo bukan hanya objek kajian sastra, tetapi sebagai sumber etika lingkungan yang hidup.
Tokoh adat dan pemangku budaya Bugis perlu diberdayakan sebagai ujung tombak edukasi ekologis di komunitas. Terakhir, legislator daerah perlu merancang perda perlindungan sungai dan laut yang secara eksplisit merujuk pada nilai-nilai kearifan lokal Bugis sebagai legitimasi kultural.
Seperti pesan leluhur yang terpahat dalam pappaseng: sungai yang kehilangan airnya adalah pemimpin yang kehilangan amanahnya. Sudah saatnya kita mengembalikan air ke sungai-sungai kita, baik secara harfiah maupun secara moral. Demkian halnya terhadap laut, kembalikan kesadaran kolektif kita untuk merwat laut secara berkelanjutan, bahwa manusia bukan penguasa lautan, melainkan tamu yang harus sopan dan bertanggung jawab. Di situlah sesungguhnya kebesaran peradaban Bugis dibangun dan di situ pula dipertaruhkan. Wallahu a’lam bish-shawab.














