Kolom Syamsu Salewangang Daeng Gajang (BPN IKK Gowa)
Peradaban Suku Makassar di Sulawesi Selatan tidak hanya meninggalkan benteng-benteng, kapal pinisi, senjata, rumah tradisional, pakaian tradisional, aneka kuliner dan warisan tak benda seperti aksara, karya sastera, norma adat, sistem ketahanan pangan, catatan-catatan peristiwa penting, dan lain-lainya . Di balik itu ada sistem nilai yang hidup dalam lontarak, adat istiadat, dan praktik sosial dan tatanan bermasyarakat. Empat aspek yang diidentifikasi sebagai sari pati warisan peradaban dari leluhur orang-orang Makassar diantaranya (1)spiritualitas, (2)intelektualitas/kecendikiawanan, (3)leadership/kepemimpinan dan (4)humanitarian/kemanusiaan—saling menguatkan dan membentuk karakter orang Makassar selama berabad-abad.
1. Spiritualitas: Tuhan sebagai Pusat Tatanan Sosial
Spiritualitas Makassar pra-Islam dan pasca-Islam memiliki benang merah: pengakuan bahwa ada kekuatan di atas manusia yang mengatur tatanan alam dan moral.
Konsep Rewatayya/Batarayya pada masa pra-Islam menekankan keesaan Tuhan. Setelah Islam masuk melalui tiga ulama dari Minangkabau yaitu Dato’ ri Bandang, Dato ri Tiro dan Dato’ Patimang pada abad ke-17, ajaran ini berpadu dengan syariat Islam tanpa menghapus tradisi lokal yang telah diamalkan turun temurun.
Dampaknya pada masyarakat: hukum adat pangadakkang tidak pernah dipisahkan dari norma agama. Bagi pemimpin dan masyarakat, hal ini menghasilkan etos kerja yang disiplin, sikap jujur dalam pergaulan, dan kesadaran bahwa tindakan di dunia memiliki konsekuensi moral. Spiritualitas menjadi pengendali batin agar kekuasaan dan kekayaan tidak membuat manusia lupa diri. Tokoh besar yang lahir dari peradaban Makassar dalam hal spiritualitas salah satunya adalah Syekh Yusuf Al Makassari.
2. Intelektualitas: Tradisi Lontarak, Ilmu Pertanian dan Ilmu Pelayaran
Suku Makassar memiliki tradisi tulis yang kuat melalui lontarak. Naskah-naskah ini mencatat silsilah, hukum, perjanjian politik, astronomi, pengobatan, teknologi, pertanian hingga ilmu pelayaran.
Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-16 dan 17 dikenal sebagai pusat ilmu pelayaran dan navigasi, ilmu pertanian hingga persenjataan. Para nakhoda Makassar mampu berlayar hingga Australia Utara untuk berdagang teripang jauh sebelum era VOC dan Kolonial. Pengetahuan ini diturunkan secara lisan dan tertulis, bukan disimpan sebagai rahasia elit dan kalangan bangsawan.
Warisan intelektualitas ini menunjukkan bahwa masyarakat suku Makassar tidak memisahkan pengetahuan praktis dengan pengetahuan teoretis. Ilmu dianggap bernilai jika bisa menyelesaikan masalah nyata—mulai dari membangun kapal, mengelola pertanian hingga panen, termasuk bagaimana menyelesaikan sengketa sesuai hukum-hukum yang disahkan oleh adat. Tokoh besar yang lahir dari peradaban Makassar dari aspek intelektualitas salah satunya adalah I Mangadacinna Daeng Siapa Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-17.
3. Leadership/Kepemimpinan: Tegas, Terbuka, dan Berbasis Musyawarah
Model kepemimpinan Makassar tercermin pada Kerajaan Gowa-Tallo. Raja memiliki kekuasaan, tetapi dikontrol oleh Dewan Hadat Bate Salapang yang beranggotakan para pemimpin dari sembilan negeri. Keputusan besar seperti perang dan perjanjian dagang diputuskan melalui musyawarah.
Etika kepemimpinan dirangkum dalam prinsip siri’ na pacce:
Siri’ menjaga pemimpin dari perbuatan memalukan seperti korupsi, amoral dan pengkhianatan. Rasa malu lebih ditakuti daripada hukuman.
Paccevmendorong pemimpin merasakan penderitaan rakyat dan bertindak cepat untuk meringankannya.
Kerajaan Gowa-Tallo juga terkenal terbuka bagi pedagang asing dari Eropa, Tiongkok, Arab, dan Nusantara. Kebijakan pajak rendah dan perlindungan hukum membuat Makassar menjadi simpul perdagangan internasional tanpa kehilangan kedaulatan. Tokoh besar yang lahir dari peradaban Makassar pada aspek kepemimpinan diantaranya adalah I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16.
4. Humanistik/Kemanusiaan: Sipakatau, Sipakalakbiri, Sipakainga
Tiga prinsip ini menjadi etika sosial sehari-hari:
Sipakatau: Saling memanusiakan. Tidak ada manusia yang dianggap lebih rendah karena asal-usulnya. Profesi apapun dari seseorang, tidak menjadi faktor penentu, dia mendapatkan kemuliaan.
Sipakalakbiri: Saling menghormati. Perbedaan status, agama, dan pendapat dijaga agar tidak merusak tatanan sosial.
Sipakainga: Saling mengingatkan. Kritik dan nasihat dianggap bentuk kasih sayang, bukan permusuhan.
Prinsip kemanusiaan ini membuat masyarakat Makassar tahan terhadap konflik horizontal. Dalam konteks modern, nilai ini penting untuk menjaga kohesi sosial di tengah perbedaan kepentingan politik, suku, dan agama. Tokoh besar yang dari peradaban Makassar yang lahir dari aspek kemanusiaan ini salah satunya adalah I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga Ulaeng, Raja Gowa ke-10.
Keempat aspek ini tidak berdiri sendiri. Spiritualitas memberi arah moral, intelektualitas memberi alat untuk maju, leadership memberi struktur, dan humanistik menjaga agar kemajuan tidak mengorbankan martabat manusia.
Bagi generasi Makassar saat ini, warisan ini bukan untuk dihafal sebagai sejarah, tapi untuk dihidupkan dalam kebijakan publik, dunia pendidikan, dan interaksi sosial. Ketika keempatnya berjalan bersama, peradaban Makassar membuktikan bahwa kemajuan material dan kemajuan moral bisa berjalan beriringan.
Kebagusan, 10 Juni 2026














