Rekam Jejak Lintas Benua: Raih Gelar Dokter di Usia 23 Tahun, Inspirasi dari dr. Mundzir

0
94
- Advertisement -

PINISI.co.id- Senin siang, 22 Juni 2026, terlaksana prosesi pengambilan sumpah dan pengukuhan dokter baru, di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea. Suasana khidmat menyelimuti saat disebutkan nama dr. Ahmad Mundzir, sosok yang menarik perhatian di usianya yang baru menginjak 23 tahun, putra asli Soppeng ini resmi menyandang gelar dokter setelah melewati perjalanan pendidikan lintas benua yang penuh warna.

Lahir pada tahun 2003, kedua orang tuanya asal Kabupaten Soppeng, dr. Mundzir mungkin belum banyak dikenal di daerahnya, Soppeng. Hal ini dikarenakan sebagian besar masa mudanya dihabiskan di luar negeri. Mengikuti kedua orang tuanya, pendidikan membawanya hingga ke Negeri Seribu Menara, Mesir. Namun, di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan cerita unik tentang adaptasi dan kegigihan.

Tantangan Bahasa dan Perjalanan Lintas Negara

Jauh sebelum menapaki bangku perkuliahan, Mundzir kecil sempat mengenyam pendidikan di SDN 23 Tanete, Lapajung, Watan Soppeng. Menariknya, ia tidak sempat menamatkan sekolah di sana karena alasan yang unik. Kala itu, ia sering menangis dan mengeluh sakit perut di sekolah, namun sembuh seketika saat tiba di rumah.

“Belakangan baru terungkap bahwa itu bukan sakit fisik, melainkan rasa frustrasi karena saya belum memahami bahasa daerah (Bugis) yang saat itu dominan digunakan dalam proses mengajar,” kenang dr. Mundzir.

Kendalanya dalam mengerti bahasa daerah tersebut, justru menjadi awal petualangannya ke mancanegara. Ia kemudian ikut orang tuanya kembali ke Timur Tengah, belajar beberapa waktu di Mesir, lalu pindah ke Yaman dan bersekolah di British International School, kota Sana’a. Namun, pecahnya perang di negara tersebut memaksanya kembali ke Indonesia saat duduk di kelas 5 SD. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Depok, Jawa Barat, mulai dari SDN 03 Pengasinan, SMPN 14, hingga sempat mencicipi masa orientasi di SMAN 6 Depok.

Menempa Diri di Kairo

Panggilan untuk menimba ilmu di luar negeri kembali muncul saat ia berusia 14 tahun. Tekad kuat Mundzir untuk bersekolah di Sekolah Indonesia Cairo (SIC), Mesir. Ia pun melakukan perjalanan seorang diri, dilepas di bandara dengan linangan air mata dan iringan do’a tulus dari sang ibu.

Di SIC, Mundzir tidak hanya unggul secara akademik melalui Kurikulum 2013, tetapi juga mengasah nalar metodologisnya. Ia tercatat sebagai finalis World Mathematics Invitational (WMI) dan menjuarai lomba debat Bahasa Inggris antar sekolah internasional di Mesir. Bekal ijazah dari Kairo ( Tamat SMA SIC Mesir ), inilah yang kemudian membukakan pintu baginya untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Unhas, saat diumumkan pada 8 April 2020.

Dedikasi Kemanusiaan dan Pesan Orang Tua

Selama masa studi di Makassar, pemuda yang hobi mendaki gunung dan bulu tangkis ini tidak hanya berfokus di bangku kuliah. Di tengah kesibukannya, ia aktif mendedikasikan diri di Calcaneus Medical Assistance Team (TBM Calcaneus) FK Unhas. Bersama organisasi ini, ia terjun langsung ke berbagai lokasi bencana dan aksi sosial.

“Ayah selalu berpesan bahwa menolong sesama adalah pintu untuk meraih keberkahan dan ridha Allah swt. Pesan itulah yang saya pegang teguh, bahwa profesi dokter adalah amanah untuk membantu tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya.

Menatap Masa Depan dan Pengabdian

Setelah resmi mengucap sumpah dokter, dr. Mundzir menyatakan kesiapannya untuk menjalani masa pengabdian, termasuk jika harus ditempatkan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Ia juga menyatakan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis dengan membidik jalur beasiswa, baik di dalam maupun luar negeri. Menurutnya, pendidikan spesialis sebagai jembatan untuk menjadi solusi bagi masyarakat luas dan daerah pelosok lainnya yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan layanan spesialis.

Di tengah rasa syukurnya kepada Allah swt. serta apresiasi mendalam bagi orang tua, guru, dan rekan sejawatnya, dr. Mundzir tetap menaruh harapan besar untuk masa depan. Meski telah melanglang buana ke berbagai negara, hatinya tetap tertambat pada tanah air. “Saya berharap karunia yang Allah berikan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, dan tentu saja, semoga dapat memberikan kontribusi terbaik bagi tanah air, maupun kampung halaman tercinta, tanah kelahiran kedua orang tua saya, Kabupaten Soppeng,” pungkasnya dengan optimis. (Man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here