Marwah Daud Ibrahim, Kilas Balik Pemandu Rakernas Seni Budaya DPP Golkar

0
42
- Advertisement -

Catatan Fiam Mustamin

MOMENTUM pertama bidang kebudayaan menjadi topik pembicaraan dalam Rapat Kerja Nasional / Rakerns DPP Golkar
45 tahun silam 1991.

Diprakrasai oleh Seniman budayawan kader Golkar ( Golongan Karya dan Kekaryan) dibawah kepemimpinan Ketua Umum Wahono dan Sekjen Rahmat Witoelar.

Penyelenggaranya adalah Irsyad Sudiro dan Erwan Sukardja, Ketua Departemen Seni Budaya.

Para pembicaranya ; Mattulada, Burhan Magenda, Emha Ainun Najib dan Zaenal Bintang. Pembicara utama Mensesneg Moerdiono dan Pemandu Marwah Daud Ibrahim yang baru pulang study Ph.D. Komunikasi Satelit dari Amerika Serikat.

Dari komposisi pembicara Rakernas itu diwarnai oleh kader bangsa dari Kawasan Timur Indonesia dan tentang bagaimana hal itu bisa terjadi kita uraikan khusus.

BERIRISAN Jalan di Konvensi Capres Golkar. Lagi-lagi misteri tak terencana dengan digelarnya sosialisasi Konvensi Calon Presiden/ Capres Golkar untuk memaksimalkan tampilnya kader Golkar untuk berkompetisi Capres dan Wacapres 2004.

Para Capres Konvensi Golkar memaksimalkan untuk sosialisasi ke seluruh DPD Provonsi guna mendapatkan rating peringkat diantara sekian peserta Konvensi termasuk dengan
Marwah Daud Ibrahim.

Ada beberapa daerah yang dikunjungi untuk sosialisasi dan berjumpa dan saling menyapa meski tidak satu arah perjalanan.

Pengalaman ini sungguh besar artinya dalam satu kurun waktu dapat membangun silaturahmin dengan para kader di seluruh daerah.

Lebih khusus dengan peran saya dari Staf Institut Lembang Sembilan yang mengatur sekedul dan nama dalam rombongan dan karena itulah maka nama sayapun yang pertama dicari saat pesawat
landing.

Sungguh tidak mudah mendapatkan kepercayaan seperti itu.

Nama Dr. Marwah Daud Ibrahim, M.A., Ph.D. menempati posisi istimewa dalam rekam jejak kepemimpinan perempuan di Indonesia.

Berasal dari sudut pedalaman Soppeng, Sulawesi Selatan, ia membuktikan bahwa kegigihan dan pendidikan mampu membawa seorang putri daerah menembus panggung akademis internasional hingga menjadi srikandi parlemen di tingkat nasional.

Kecerdasan Masa Muda & Jejak Pelajar Teladan yang lahir pada 8 November 1956 di Soppeng, wilayah yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Kota Makassar.

Kecerdasan Marwah sudah terlihat sejak usia dini. Saat duduk di sekolah dasar, ia melompati kelas lima untuk langsung mengikuti ujian akhir dan berhasil lulus sebagai juara.

Semangat belajarnya terus berlanjut saat menempuh pendidikan di SPG Negeri I Ujung Pandang.

Pada tahun 1974, Marwah terpilih sebagai Pelajar Teladan se-Sulawesi Selatan dan mendapat kesempatan langka berkunjung ke Istana Negara atas undangan Presiden.

Keberhasilannya berlanjut saat menempuh studi di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas).

Selain aktif sebagai aktivis kampus, ia kembali menyabet predikat Mahasiswa Teladan se-Sulawesi pada tahun 1981.

Dari UNESCO hingga Beasiswa B.J. Habibie

Berbekal beasiswa itu, Marwah melangkah ke kancah global dengan melanjutkan studi Master (M.A.) di American University, Washington DC, Amerika Serikat, pada jurusan Komunikasi Internasional.

Sebelum berangkat, ia menikah dengan rekan sesama aktivis kampusnya, Ibrahim Tadju. Di Amerika, Marwah tak hanya belajar, tetapi juga dipercaya menjadi asisten peneliti untuk lembaga dunia seperti UNESCO dan Bank Dunia.

Sekembalinya ke Indonesia, ia bergabung dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Potensi besarnya itu menarik perhatian Ketua BPPT saat itu, Prof. B.J. Habibie, yang kemudian memberikannya beasiswa untuk kembali menempuh studi S-3 di universitas yang sama.

Marwah berhasil merengkuh gelar Doktor (Ph.D.) di bidang Komunikasi Satelit pada tahun 1989 dengan predikat lulusan terbaik (distinction).

Kiprah di ICMI, Parlemen, hingga Panggung Pilpres

Kembali ke tanah air sebagai seorang akademisi matang, Marwah dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Lewat wadah Partai Golkar, langkah politiknya kian mantap hingga terpilih sebagai anggota DPR RI selama tiga periode berturut-turut.

Gaya komunikasi politiknya yang lugas, terstruktur, dan berwibawa menjadikan Marwah sebagai salah satu representasi politikus perempuan paling menonjol dari kawasan Indonesia Timur.

Puncak rekam jejak politiknya mencatat sejarah penting pada Pilpres 2004, ketika ia dipinang oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menjadi calon Wakil Presiden mendampingi K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Warisan Inspirasi Bagi Generasi Muda
Perjalanan hidup Dr. Marwah Daud Ibrahim dari pedalaman Sulawesi Selatan hingga menembus lembaga internasional dan gedung parlemen menjadi teladan nyata.

Dedikasi serta integritas akademisnya menegaskan bahwa mimpi besar dan kerja keras mampu mendobrak keterbatasan apa pun.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here