Abustan Andi Bintang, Kagum Santri Ponpes Iddadiyah Tonrongnge Menulis Buku ” Di Negeri Para Perindu Ilmu”

0
44
- Advertisement -

PINISI.co.id- Suasana haru dan penuh kebahagian mewarnai ratusan santri, orang tua dan guru-guru Madrasah Iddadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Kabupaten Barru, Sabtu Tgl 27 Juni 2026 di Kampus DDI Bulu Lampang, Barru.

Betapa tidak, selain menampilkan kemanpuan para santri Iddadiyah membaca kitab kuning, menghafal juz 30 Al-Quran, dan mengurai isi dan arti serta jumlah ayat dalam satu surah, penampilan musik puisi dan lagu dari Kampus Iddadiyah Tonrongnge, Iddadiyah kampus satu Mangkoso dan kampus tiga Bulu Lampang.

Kepala Madrasah Iddadiyah Ponpes DDI Mangkoso, Prof(HC) Dr.Muhammad Agus, menegaskan selain menampilkan pencapaian prestasi akademik santri-santriwati juga menariknya karena dirangkaikan launching buku karya Santri Iddadiyah Kampus dua Tonrongnge berjudul” Di Negeri Para Perindu Ilmu” dan Buku Anrengurutta Prof.Dr.H.M.Faried Wadjedy, Lc.M.A. ” 83 Tahun Ronce Mutiara Kenangan Masa”.

Menurut Muhammad Agus, buku Di Negeri Para Perindu Ilmu ditulis Farhan Alfarisi Kusuma dan kawan-kawan yang terdiri dari 70 orang santri. Buku ini terbit, kata Muhammad Agus atas promotor dan pembinaan langsung Tokoh Literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma.

” Buku ini mengurai napak tilas perjalanan para santri selama kurang lebih satu tahun menimbah ilmu di Ponpes DDI Mangkoso dengan pencapaian yang sangat luar biasa” kata Prof(HC) Muhammad Agus.

Sementara itu, Wakil Bupati Barru, Dr.Ir. Abustan Andi Bintang, M.Si., bangga dan memberi apresiasi tinggi atas pencapaian para santri Madrasah Iddadiyah DDI Mangkoso.

” Saya bangga karena santri Iddadiyah dalam waktu singkat mampu menulis dan menerbitkan buku. Jujur saya sudah empat belas tahun berniat menulis buku, namun belum selesai sampai sekarang. Karenanya, saya akan menemui Tokoh Literasi Bachtiar Adnan Kusuma, kata Abustan Andi Bintang.

Tokoh literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma, menguraikan jika dirinya beberapa waktu lalu hadir memberi kuliah subuh di depan 300 orang santri Iddadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso di kampus dua Tonrongnge. “ Saya gercap memberi tugas menulis kepada seluruh santri yang hadir disaksikan para pembina di antaranya Ustadz Dr. Muzakkir, Ustadz Ahmad Rizal, S.Pd, Muh. Samir, S.H, Rahmat Hidayat, S.Pd.” kata BAK.

Menurut Bachtiar Adnan Kusuma bersyukur karena selain sesekali berkunjung ke Ponpes DDI Mangkoso terutama di kampus dua Tonrongnge, ia mengakui kalau dirinya selalu memberi insight agar santri terbiasa menulis sejak dini. Para ulama kenamaan Indonesia, kata Bachtiar Adnan Kusuma telah memberi teladan dan contoh yang mulia dengan meninggalkan nama baik melalui kitab-kitabnya.

Karena itu, kata BAK di buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah mozaik kenangan, potret batin, dan jejak langkah yang ditorehkan oleh para pencari ilmu pada awal perjalanan mereka menuju Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Setidaknya ada tujuh puluh orang santri yang menuliskan pengalaman mereka sejak hari pertama memasuki gerbang pesantren. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri: dari pesisir Papua yang jauh, dari tanah Kalimantan yang luas, dari kota-kota dan kampung-kampung di Sulawesi Selatan, serta dari daerah lain yang dipersatukan oleh satu niat: menuntut ilmu karena Allah. Mereka membawa bahasa ibu masing-masing, kebiasaan masing-masing, juga rasa takut dan harapan yang sama.

Jujur, kata BAK tulisan-tulisan dalam buku ini terasa hidup karena lahir dari momen yang masih hangat. Kita akan menyaksikan bagaimana seorang anak yang baru beranjak remaja harus belajar melepaskan genggaman tangan ibunya. Kita akan melihat adegan yang begitu manusiawi dan menyentuh: mata yang basah menahan tangis, bibir yang berusaha tersenyum agar orang tua tidak khawatir, tubuh yang lemas memandangi punggung ayah dan ibu yang perlahan menjauh dari halaman pondok. Seakan sebagian rumah ikut berjalan bersama langkah itu.

Namun, kata BAK sesungguhnya, pada saat yang sama, mereka sedang memasuki pelukan baru: pelukan ilmu, pelukan adab, pelukan para guru yang teduh dan berwibawa. Di hadapan para ustadz dan pembina, para santri menerima pelajaran pertama yang tak tertulis di papan tulis mana pun: bahwa ilmu bukan hanya diucapkan, melainkan dipantulkan melalui akhlak. Sikap tenang, tutur kata lembut, ketegasan yang adil, dan keteladanan hidup adalah kitab pertama yang dibaca oleh para santri di Mangkoso.

Di pesantren, kata BAK, mereka belajar bahwa mondok bukan hanya soal membaca kitab dan menghafal matan. Mondok adalah latihan hidup. Ia menempa hati agar sabar, melatih jiwa agar kuat, mengajar tubuh agar disiplin, dan menuntun akhlak agar lembut. Di sana seorang anak perlahan dibentuk menjadi manusia yang lebih matang

“ Anregurutta K.H.Abdurahman Ambo Dalle, Prof.K.H. Ali Yafie, K.H. Sanusi Baco dan yang mulia Gurutta Prof.Dr.K.H.Muhammad Faried Wadjedy, M.A. telah memberi teladan dengan menulis buku” kata Bachtiar Adnan Kusuma, Penggerak Gerakan Santri Menulis Buku untuk Indonesia.

Di prosesi peluncuran buku tampil delapan orang santri putra menyerahkan buku karyanya kepada Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso Prof.Dr.K.H.Muh.Faried Wadjedy, Lc.M.A. Kepala Madrasah Iddadiyah DDI Mangkoso Prof(HC) Dr.Muhammad Agus, Ketua Yayasan, Pembina Santri Iddadiyah Muh.Rizal, Hj.Mastura. Anregurutta Prof.Dr.H.M.Faried Wadjedy menyerahkan bukunya” Ronce Mutiara Kenangan” kepada Wakil Bupati Barru, Kepala Kantor Kemenag Barru dan Kepala Kantor Urusan Haji Kabupaten Pangkep.( Man)

SHARE
Previous articleDi Hatiku Ada Namamu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here