Di Hatiku Ada Namamu

0
35
- Advertisement -

Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati Masalah Budaya, Ekonomi dan Politik

MALAM telah melewati pukul satu dini hari. Layar telepon genggam Lusi masih menyala di atas meja kerjanya. Di sudut kanan aplikasi pesan, dua tanda centang biru tampak seperti dua mata yang sedang menatapnya diam-diam.

“Pesanku telah dibaca, namun tak kunjung dibalas,” gumam Lusi, penasaran. “Aku menunggu. Lima menit. Tiga puluh menit. Dua jam. Sampai akhirnya pagi datang membawa cahaya yang tak mampu menjelaskan apa pun.”

“Kamu mencintainya?” tanya Lilies, sahabat Lusi, ketika mereka berdua duduk di sebuah kafe yang dipenuhi anak-anak muda.
Lusi tersenyum.
“Mungkin.”
“Mungkin atau iya?”
Lusi mengaduk kopinya yang sejak tadi sudah dingin.
“Aku tidak pernah mengatakannya.”
Lilies menghela napas panjang.
“Jadi kamu mencintainya dalam diam lagi?”
Lusi mengangguk, sambil tertawa kecil.
LIlies berkata dengan gemasnya, “kamu ini khan generasi yang hidup di zaman internet berkecepatan tinggi, namun kenapa masih memakai keberanian di abad pertengahan ?”
“Begitulah. Di media sosial, aku memang mengetahui hampir seluruh hidupnya. Aku tahu makanan favoritnya. Aku tahu tempat yang sering ia kunjungi. Aku tahu lagu yang sedang ia dengarkan. Aku tahu kapan ia sedang sedih. Aku tahu kapan ia sedang bahagia,” tutur Lusi apa adanya. “Tetapi aku tidak tahu satu hal ; apakah ada ruang bagiku di dalam hatinya?”

Lilies tersadar bahwa teknologi telah membuat Lusi mengetahui begitu banyak hal tentang orang lain, sekaligus membuat Lusi semakin takut mengetahui jawaban atas pertanyaan paling penting dalam hidupnya.

Menurut sejumlah penelitian psikologi komunikasi digital, media sosial memang menciptakan ilusi kedekatan (perceived intimacy), yaitu perasaan seolah-olah mengenal seseorang secara mendalam padahal hubungan yang sebenarnya belum pernah terbangun secara autentik. Fenomena ini membuat banyak individu merasa dekat secara emosional tanpa pernah berani mengungkapkan perasaannya secara langsung.

“Aku memang salah satu korbannya,” ungkap Lusi terus terang. “Aku mengenalnya melalui unggahannya di medsos. Melalui cerita. Melalui foto. Melalui algoritma. Bukan melalui keberanian.”

Suatu sore Lusi dan Andi bertemu dalam sebuah seminar tentang kecerdasan buatan. Andi datang mengenakan pakaian sederhana. Ia tidak setampan foto-foto yang sering muncul di media sosial. Ia justru jauh lebih indah. Karena kali ini ia nyata.

“Terima kasih sudah datang,” kata Andi, seraya melempar senyum manisnya.
Lusi mengangguk, dan tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah mengundang.”
“Kenapa gugup?”
Lusi tertawa kecil.
“Kelihatan ya?”
“Kelihatan sekali.”

Dalam hatinya, Lusi sebenarnya ingin mengatakan bahwa selama tiga tahun terakhir nama Andi adalah alamat yang paling sering dikunjungi pikirannya. Lusi ingin mengatakan bahwa setiap keberhasilan Andi, diam-diam ia rayakan. Lusi ingin mengatakan bahwa setiap kesedihan Andi, diam-diam ia doakan agar segera diberi jalan keluar.

Tetapi kata-kata itu berhenti di tenggorokannya. Seperti kapal yang gagal meninggalkan pelabuhan.

Malam itu Lusi berjalan sendirian di tengah kota. Gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti raksasa beton yang memandangi manusia-manusia kecil dengan kesepiannya masing-masing.

Di trotoar, ratusan orang berjalan sambil menatap layar gawainya. Masing-masing terhubung dengan ribuan akun. Tetapi tidak dengan dirinya sendiri

Lusi tiba-tiba tersadar bahwa generasinya adalah generasi yang paling banyak berkomunikasi sepanjang sejarah. Namun mungkin juga generasi yang paling takut berbicara dari hati ke hati. Generasi yang mahir membuat konten, tetapi gagap mengungkapkan cintanya. Generasi yang berani mengunggah kehidupan pribadi kepada ribuan orang, namun takut mengirim satu kalimat jujur kepada satu orang.

Beberapa bulan kemudian kabar itu datang. Andi mengunggah foto pertunangannya. Ribuan orang memberi tanda suka. Ratusan orang mengucapkan selamat. Lusi termasuk salah satunya.
“Selamat ya.”
Hanya tiga kata.
Tiga kata yang terasa lebih berat daripada tesis seratus halaman.

Tak lama kemudian balasannya muncul.
“Terima kasih. Kamu teman yang baik.”
Teman.
Satu kata yang terdengar sederhana. Tetapi malam itu terasa seperti vonis.

Malam itu, Lusi menatap langit dari jendela apartemennya. Lampu-lampu kota berkilauan seperti bintang-bintang yang terjebak di bumi. Di tengah gemerlap peradaban digital saat ini, Lusi akhirnya memahami sesuatu yang selama ini gagal ia pahami. Bahwa mencintai dalam diam memang menghindarkannya dari penolakan. Pun juga menghindarkannya dari kemungkinan diterima.

Namun ternyata semua itu membuat Lusi membangun benteng yang sangat kuat untuk melindungi hatinya. Sampai-sampai setetes kebahagiaan pun tak bisa masuk.

Keesokan harinya Lusi bertemu Lilies.
“Apakah kamu menyesal?” tanya Lilies, ingin tahu.
Lusi memandang lalu lintas yang bergerak seperti sungai yang airnya deras.
“Sedikit.”
“Hanya sedikit?”
Lusi tersenyum.
“Baiklah. Sangat menyesal.”
Lilies tertawa.
“Akhirnya jujur juga.”
Lusi ikut tertawa.
Lalu berkata pelan,
“Ternyata diam itu tidak selalu menyelesaikan masalah.”
“Lalu?”
“Kadang diam hanyalah ketakutan yang terlalu lama tinggal di dalam diri.”
Lusi terdiam sejenak. Lalu melanjutkan kata-katanya.
“Hari ini, ketika dunia dipenuhi kecerdasan buatan, algoritma, media sosial, dan komunikasi tanpa batas, pelajaran paling penting justru tetap sama seperti ribuan tahun lalu, bahwa cinta membutuhkan keberanian. Sekalipun bayarannya adalah penolakan yang mungkin sangat menyakitkan.”
“Lalu ?”
“Hidup dalam kemungkinan yang tidak pernah diperjuangkan, justru sering kali jauh lebih menyakitkan.”

Dan …
Lusi akhirnya memahami bahwa bukan penolakan yang paling melukai hati manusia. Melainkan pertanyaan yang terus menghantui pikirannya hingga usianya senja, “bagaimana jika waktu itu aku berani mengatakan semuanya?”

Di situlah Lusi belajar bahwa cinta yang paling tragis bukanlah cinta yang ditolak. Yang paling tragis itu adalah cinta yang tak pernah diberi kesempatan untuk menjawab dirinya sendiri.

Seperti pesan yang tidak pernah dikirim. Seperti surat yang disimpan bertahun-tahun di dalam laci. Seperti doa yang tidak pernah selesai diucapkan. “Seperti namamu, yang bertahun-tahun hidup di dalam hatiku, tetapi tak pernah sampai ke telingamu,” batin Lusi, dengan bangganya. Weleh, weleh, weleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here