Kolom Fiam Mustamin
Kajian ini merupakan upaya untuk memahami tasawuf dalam khazanah Lontarak Bugis.
Pappijeppu adalah pemahaman mengenai hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan.
Pencipta adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa dan Tunggal. Keberadaan-Nya bersifat abadi, tidak berawal dan tidak berakhir.
Dalam Lontarak Bugis, Allah disebut Dewata Seuwae, yakni Pencipta Yang Tunggal. Dalam perkembangan pemahaman budaya Bugis, konsep ini kemudian diadaptasikan dengan istilah Patotoe, Mappacajie, dan Batara Guru, sebagaimana dijumpai dalam epos I La Galigo yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-6.
Ciptaan-Nya meliputi seluruh makhluk hidup dan alam semesta. Kosmologi Bugis mengenal tiga lapisan alam, yaitu:
Ale Kawa, dunia tengah sebagai tempat manusia hidup; Boting Langi, dunia atas yang menjadi tempat bersemayam para dewa; Bori Liu, dunia bawah yang menjadi tempat bersemayam dewi.
Dua Temmasarang
Dua Temmasarang dimaknai sebagai “dua yang satu dan tidak terpisahkan”, yaitu hubungan antara Pencipta dengan makhluk beserta seluruh alam ciptaan-Nya.
Segala sesuatu yang ada maupun yang ditiadakan berada di bawah otoritas mutlak kehendak Allah. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar kehendak-Nya. Secanggih apa pun rekayasa manusia, semuanya dapat digagalkan apabila tidak sesuai dengan kehendak-Nya.
Dalam perspektif ini, manusia diciptakan untuk mengemban amanah sebagai rahmatan lil ‘alamin, menjadi rahmat bagi seluruh alam, sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas) dan hubungan dengan Allah (hablun minallah).
Manusia dan malaikat pada hakikatnya hanya dapat memanjatkan doa, sedangkan keputusan akhir tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Tellu Temmalaiseng
Tellu Temmalaiseng merupakan pemahaman yang hanya dianugerahkan kepada hamba-hamba pilihan yang memperoleh kemampuan untuk memahami dan menerjemahkan makna lintas tiga dimensi spiritual, yaitu syariat, tarekat, dan hakikat.
Pemahaman ini diyakini dimiliki oleh:
Tau Panrita Agama, seperti Tuanta, Tuan Guru, dan Anrong Guru; Tau Acca atau Tau Sulesana, yakni orang-orang bijaksana yang memperoleh hidayah atau pammase.
Mereka dipercaya memiliki kemampuan yang disebut Pakkita Bettu, yaitu kemampuan penerawangan terhadap lintas dimensi kehidupan.
Titisan To Manurung
Konsep titisan To Manurung dipahami sebagai warisan genetika kepemimpinan yang dihadirkan untuk membawa peradaban ke bumi. Mereka berasal dari kalangan bangsawan atau Arung yang dipilih menjadi pemimpin masyarakat.
Dalam tradisi Bugis-Makassar, para pemimpin tersebut dikenal dengan berbagai gelar, antara lain:
Datu di Soppeng, Tanete, Suppa, Luwu, Massenrempulu, dan Sidenreng;
Arung Matoa di Wajo; Arung Pone di Bone;
Arung di Sinjai; Sombayya di Gowa-Tallo; serta Mara’dia di Mandar.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah konsep kepemimpinan seperti ini masih relevan dan diperlukan dalam penataan kehidupan masa kini, khususnya dalam konteks kepemimpinan berbangsa dan bernegara?













