PINISI.co.id- Forum Silaturahmi Media Mahkamah Agung Republik Indonesia (FORSIMEMA-RI) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan lembaga peradilan di seluruh Indonesia. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik, memperkuat akuntabilitas peradilan, serta meningkatkan edukasi hukum bagi masyarakat.
Ketua Umum FORSIMEMA-RI, Syamsul Bahri, mengatakan bahwa peran media di lingkungan peradilan tidak hanya sebatas menyampaikan informasi kepada publik. Lebih dari itu, media merupakan pilar kontrol sosial yang konstruktif sekaligus mitra strategis dalam mengawal penegakan hukum yang berkeadilan.
Menurut Syamsul Bahri, terdapat sejumlah aspek penting yang menjadi fokus sinergi antara FORSIMEMA-RI dengan lembaga peradilan.
Pertama, penguatan transparansi dan keterbukaan informasi publik. Melalui kerja sama yang baik, masyarakat diharapkan semakin mudah memperoleh akses terhadap informasi perkara maupun berbagai kebijakan lembaga peradilan, sejalan dengan prinsip peradilan yang terbuka dan akuntabel.
Kedua, edukasi mengenai kebijakan serta pembaruan hukum. FORSIMEMA-RI berkomitmen menjadi jembatan komunikasi dalam menyosialisasikan berbagai program strategis Mahkamah Agung, mulai dari modernisasi sistem peradilan berbasis teknologi seperti e-Court dan e-Berpadu hingga penguatan implementasi keadilan restoratif (Restorative Justice).
Ketiga, menjaga objektivitas dan profesionalisme pemberitaan. Setiap karya jurnalistik yang berkaitan dengan lembaga peradilan harus disajikan secara objektif, berimbang, serta tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) guna menjaga marwah dan independensi lembaga peradilan.
Selain itu, FORSIMEMA-RI juga mendorong terbentuknya ruang diskusi kolaboratif melalui Focus Group Discussion (FGD), audiensi, maupun forum komunikasi lainnya untuk membahas berbagai isu strategis penegakan hukum sekaligus mencari solusi atas tantangan komunikasi publik di lingkungan peradilan.
“Sinergi antara media dan lembaga peradilan bukanlah bentuk intervensi, melainkan jalinan kemitraan yang saling menguatkan. Media menjaga agar keadilan tidak hanya ditegakkan, tetapi juga terlihat ditegakkan (justice must be seen to be done), sementara peradilan memastikan keadilan tetap berjalan secara independen tanpa intervensi,” ujar Syamsul Bahri.
Ia menambahkan, FORSIMEMA-RI mengajak seluruh insan pers yang tergabung dalam forum untuk terus menjaga integritas, profesionalisme, serta semangat gotong royong dalam mendukung terwujudnya badan peradilan Indonesia yang agung, transparan, dan dipercaya masyarakat. (Man)













