Mohammad Taha, Menghidupkan Budaya Sipakiade dalam Paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan

0
34
- Advertisement -

Kesaksian Fiam Mustamin

Menjelang 50 tahun kehadiran Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), yang didirikan pada 12 November 1976 dengan fondasi adab dan peradaban, ada banyak kisah dan keteladanan yang layak dikenang. Salah satunya adalah sosok Mohammad Taha, seorang pemimpin yang menghidupkan nilai sipakiade—saling menghargai dan memuliakan sesama—dalam kehidupan berorganisasi.

Selama kurang lebih lima belas tahun berinteraksi dengan beliau, yang juga masih satu rumpun keluarga dari Wajo, saya menyaksikan secara langsung dedikasi dan pengabdiannya bagi KKSS.

Mohammad Taha mulai mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Pembinaan Wiraswasta pada periode kedua kepemimpinan Beddu Amang (1991–1995). Pada periode berikutnya (1995–1999), beliau kembali dipercaya memegang peran strategis hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum BPP KKSS periode VIII (1999–2004).

Pada masa itu saya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif BPP KKSS. Saya sering diminta mendampingi beliau dalam berbagai penugasan mewakili Ketua Umum Beddu Amang ke sejumlah daerah, antara lain Tolitoli, Palu, Ternate, Ambon, Kendari, dan Jambi.

Penggerak Pertemuan Saudagar Bugis Makassar
Sebagai seorang saudagar, Mohammad Taha sejak awal mendapat amanah untuk mengurus kegiatan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM). Setelah PSBM pertama digelar di Makassar, beliau kemudian diangkat menjadi Panitia Tetap bersama Alwi Hamu dan Aksa Mahmud.

Dalam setiap penyelenggaraan PSBM, Mohammad Taha aktif mendorong terlaksananya temu bisnis yang mengangkat komoditas unggulan dari daerah-daerah tempat warga Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja bermukim.

Gagasan ini bertujuan mempertemukan potensi ekonomi antardaerah sehingga dapat menjadi bahan pembahasan dan kerja sama pada penyelenggaraan PSBM berikutnya.

Penggerak Solidaritas Kemanusiaan
Beddu Amang mempercayakan Mohammad Taha sebagai motor penggalangan bantuan ketika terjadi bencana maupun konflik sosial di berbagai daerah.

Beliau aktif mengoordinasikan dukungan bagi masyarakat yang terdampak kerusuhan di Ambon, Irian Jaya (Papua), dan Poso. Bahkan, beliau tidak hanya menggalang bantuan dari jauh, tetapi juga turun langsung ke daerah-daerah konflik untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Tak Pernah Berjarak dengan Warga
Di mana pun Mohammad Taha berkunjung, beliau selalu disambut hangat oleh warga KKSS.

Keramahan, kesederhanaan, dan tutur bahasa Bugis yang santun membuat komunikasi cepat terjalin. Nilai sipakaalebbi—saling memuliakan—terlihat nyata dalam setiap perjumpaan.

Dalam berbagai kunjungan, saya sering menjadi penghubung dengan tuan rumah. Salah satu menu kesukaan beliau yang hampir selalu disiapkan adalah nasu ogi, seperti parede bale atau pallu mara (olahan ikan berkuah khas Bugis).

Apresiator Budaya yang Bersahaja
Di balik kesederhanaannya, Mohammad Taha memiliki kepedulian sosial yang tinggi, yang dalam budaya Bugis dikenal sebagai mapesse bebua—memiliki kepekaan dan empati terhadap sesama.

Beliau mendukung berbagai kegiatan seni dan budaya, di antaranya Gelar Pesona Budaya Sulawesi Selatan di Taman Mini Indonesia Indah, Temu Budaya Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja di Taman Ismail Marzuki. Hasil pertemuan budaya tersebut kemudian didukung penerbitannya dalam bentuk buku.

Beliau juga membeli sejumlah eksemplar buku Permainan Kekuasaan karya Rahman Arge untuk disumbangkan kepada komunitas warga KKSS di berbagai daerah sebagai upaya menumbuhkan budaya literasi.

Mohammad Taha bukanlah pejabat publik yang memiliki kekuasaan formal. Namun, beliau memiliki kemuliaan hati, kepekaan sosial, dan semangat pengabdian yang tulus.

Di tengah kehidupan yang semakin pragmatis, pertanyaannya adalah: masihkah kita dapat menemukan sosok dengan jiwa mapesse bebua seperti Mohammad Taha di sekitar kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here