Nilai Sipakiade dan Sipangadakkang dalam Peradaban Entitas Bugis-Makassar yang Perlu Diaktualisasikan hingga Akhir Zaman

0
28
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Melalui telaah berbagai referensi, ditemukan dua konsep yang menjadi sumber nilai utama dalam peradaban entitas Bugis-Makassar, yaitu Sipakiade dalam tradisi Bugis dan Sipangadakkang dalam tradisi Makassar.

Kedua konsep tersebut pada hakikatnya menggambarkan manusia yang beradab, yakni manusia yang menjunjung tinggi norma, moral, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai itu kemudian diwujudkan dalam hubungan antarmanusia melalui prinsip Sipakatau, Sipakakebbi, Sipammase-mase, dan Sipessiang Bebbua (Peru).

Sipakatau berarti memanusiakan manusia. Sipakakebbi mengajarkan saling menghormati. Sipammase-mase menanamkan kasih sayang, sedangkan Sipessiang Bebbua menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama.

Pertanyaannya, apakah nilai-nilai luhur peradaban tersebut masih menjadi pedoman yang dihayati dan diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar dewasa ini?

Distorsi Peradaban

Kehidupan modern yang semakin berorientasi pada materialisme dan pragmatisme perlahan menggerus nilai-nilai warisan budaya para leluhur.

Keresahan ini terutama dirasakan oleh generasi yang masih mengenal jati dirinya, yaitu mereka yang tetap magetteng, toddopuli temmalara—teguh pendirian, tidak bergeser dari nilai dan keyakinan yang diwariskan oleh leluhur.

Lalu, adakah upaya untuk menghidupkan kembali peradaban yang menjadi jati diri tersebut?

Momentum emas 50 tahun berdirinya Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) pada 12 November 1976–12 November 2026 menjadi salah satu jawabannya. Organisasi yang berlandaskan nilai sosial budaya dan adab Sipangadereng (Sipangadakkang) itu akan menghadirkan sebuah buku yang digagas oleh wartawati senior Hamsiah Usman bersama penulis Alif we Onggang.

Buku tersebut lahir dari kesadaran untuk menghadirkan flash back atau kilas balik kejayaan sejarah peradaban Bugis-Makassar, yang diwarisi genetika budaya berupa kearifan, keberanian, ketegasan dalam kepemimpinan, serta semangat kepeloporan.

Berbekal warisan kepeloporan dan keberanian itu, perjalanan sejarah entitas Bugis-Makassar dapat ditelusuri melalui beberapa fase besar, mulai dari fase pelayaran dan perdagangan, fase perjuangan melawan penjajahan, hingga fase migrasi untuk membangun kehidupan baru di pesisir, lembah, dataran, maupun kawasan pegunungan.

Di mana pun perahu mereka berlabuh, masyarakat Bugis-Makassar mampu membangun kehidupan yang adaptif dan akulturatif bersama masyarakat setempat. Mereka memegang teguh falsafah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” tanpa meninggalkan identitas budayanya.

Dengan demikian, entitas Bugis-Makassar membentuk koloni-koloni yang tetap melestarikan warisan budaya leluhur dari Tanah Sawerigading, sembari berakulturasi secara harmonis dengan budaya lokal.

Pada intinya, tantangan setiap zaman adalah bagaimana menjadi bangsa yang modern tanpa tercerabut dari akar budaya dan jati dirinya. Modernitas dan kemajuan semestinya tidak menghapus nilai-nilai luhur warisan leluhur, melainkan menjadi sarana untuk mengaktualisasikannya dalam kehidupan yang terus berubah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here