Seni Beriman dan Berilmu: Membalik Kerugian Menjadi Keberkahan Bisnis

0
30
- Advertisement -

Kolom H. M. Yasin Azis
Ketua ISMI Sulawesi Selatan / Founder Misi Group

Dalam kalkulasi matematika manusia, rumus bisnis sering kali terlihat sederhana: modal ditambah strategi menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, ketika angka-angka di neraca keuangan berubah menjadi merah, kita dengan cepat menyebutnya sebagai kegagalan, kerugian, bahkan kehancuran.

Namun, benarkah dinamika kehidupan ekonomi sesempit angka-angka dalam laporan keuangan?

Sebagai pelaku usaha yang bergerak di sektor ritel modern consumer goods dan distribusi bahan bangunan melalui Misi Group, saya melihat bahwa dunia usaha memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar perhitungan untung dan rugi. Ada wilayah yang dapat dihitung dengan ilmu manajemen, tetapi ada pula wilayah yang hanya dapat dipahami melalui kedalaman iman.

Di situlah seorang pengusaha Muslim diuji: sejauh mana ia mampu memadukan ilmu dan iman dalam menghadapi setiap keadaan.

Dunia usaha hari ini bergerak dalam perubahan yang sangat cepat. Sektor ritel dan distribusi menghadapi berbagai tantangan: disrupsi digital, perubahan perilaku konsumen, fluktuasi daya beli, persaingan yang semakin ketat, perubahan regulasi, hingga ketidakpastian rantai pasok. Tidak semua persoalan dapat diprediksi, dan tidak semua keputusan berakhir sebagaimana yang kita harapkan.
Tetapi justru dalam ketidakpastian itulah seni berilmu dan beriman seorang pengusaha Muslim menemukan maknanya.

Kerugian Bukan Selalu Kegagalan

Ketika kerugian atau tantangan bisnis datang, reaksi pertama seorang pengusaha seharusnya bukan meratap, melainkan melakukan evaluasi.

Secara ilmu manajemen, kita harus berani membedah persoalan secara objektif. Mengapa terjadi penyusutan? Di mana letak kebocoran? Apakah persoalannya berada pada strategi pemasaran, pengadaan barang, distribusi, sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, atau perubahan perilaku konsumen? Semua harus dianalisis.

Dalam dunia bisnis, tidak cukup mengatakan, “Ini sudah takdir.” Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk menutupi kelalaian manajemen. Justru iman kepada takdir harus mendorong kita untuk semakin serius memperbaiki ikhtiar.

Di sinilah ilmu bekerja. Tetapi setelah seluruh ikhtiar dilakukan, masih ada wilayah yang berada di luar kemampuan manusia. Di sinilah iman mengambil tempat.

Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar pengetahuan dan kehendak Allah SWT. Kerugian yang kita alami bisa jadi merupakan akibat dari keputusan yang kurang tepat, tetapi bisa pula menjadi jalan yang tidak kita pahami pada saat ini menuju kebaikan yang lebih besar.

Apa yang kita anggap sebagai kehilangan hari ini, belum tentu merupakan kehilangan dalam pandangan Allah. Bisa jadi Allah sedang menegur kita. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan sesuatu. Bisa jadi Allah sedang mengubah arah perjalanan kita.

Atau bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang jauh lebih besar yang belum mampu kita lihat.
Karena itu, seorang pengusaha beriman tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa saya rugi?” Ia melanjutkannya dengan pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui kerugian ini?”

Kerugian yang Benar
Dari pengalaman itulah saya meyakini adanya apa yang saya sebut sebagai “Kerugian yang Benar.” Kerugian yang benar bukanlah kerugian yang dibiarkan begitu saja. Kerugian yang benar adalah kerugian yang melahirkan evaluasi, membuka mata terhadap kelemahan, memicu inovasi, memperbaiki sistem, dan pada akhirnya memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT.

Ada kerugian yang membuat seseorang semakin terpuruk. Tetapi ada pula kerugian yang justru membuat seseorang menjadi lebih matang.

Ada kehilangan yang membuat manusia putus asa. Tetapi ada pula kehilangan yang mengajarkan manusia tentang ketawakalan.

Ada kegagalan yang menghancurkan semangat. Tetapi ada pula kegagalan yang menjadi sekolah kehidupan paling mahal dan paling berharga.

Maka, ukuran keberhasilan seorang pengusaha Muslim tidak semata-mata terletak pada berapa besar keuntungan yang berhasil diperoleh, tetapi juga pada apa yang terjadi pada dirinya setelah memperoleh keuntungan ataupun mengalami kerugian.

Jika keuntungan membuatnya sombong, maka keuntungan itu belum tentu menjadi keberkahan. Jika kerugian membuatnya semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati, semakin teliti, semakin inovatif, dan semakin kuat memperbaiki diri, maka boleh jadi kerugian tersebut justru sedang menjadi pintu keberkahan.

Ilmu Mengajarkan Cara Berusaha, Iman Mengajarkan Cara Bersikap

Dalam bisnis, ilmu mengajarkan kita bagaimana bekerja secara efektif. Ilmu mengajarkan strategi, efisiensi, membaca pasar, mengelola risiko, membangun organisasi, menjaga arus kas, memahami konsumen, dan melakukan inovasi.
Tetapi iman mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: untuk apa semua itu dilakukan.

Ilmu memberi kita kemampuan untuk mengejar pertumbuhan. Iman mengajarkan agar pertumbuhan itu tidak kehilangan arah. Ilmu mengajarkan bagaimana memperoleh keuntungan. Iman mengajarkan bagaimana keuntungan itu diperoleh dan ke mana keuntungan itu diarahkan.

Ilmu mengajarkan bagaimana memenangkan persaingan. Iman mengingatkan bahwa kemenangan tidak boleh mengorbankan kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan.

Karena itu, seorang pengusaha Muslim tidak cukup hanya menjadi businessman yang cerdas. Ia harus menjadi manusia yang memiliki integritas.

Ia harus mampu menggabungkan kompetensi dengan akhlak, strategi dengan doa, keberanian dengan kehati-hatian, serta ikhtiar dengan tawakal.

Tiga Bahan Bakar Perjalanan

Dalam perjalanan panjang membangun usaha, saya melihat setidaknya ada tiga bahan bakar yang harus terus dijaga.
Pertama, sabar ketika diuji.

Tidak ada perjalanan bisnis yang selalu mulus. Ada masa pertumbuhan, ada masa stagnasi, ada masa ekspansi, dan ada masa ketika kita harus bertahan. Sabar bukan berarti pasif. Sabar adalah kemampuan menjaga akal tetap jernih ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan.

Kedua, syukur ketika diberi.
Keuntungan, pertumbuhan perusahaan, pelanggan yang semakin banyak, kepercayaan masyarakat, dan keberhasilan membangun tim adalah nikmat yang harus disyukuri. Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Ketiga, bersungguh-sungguh atau ihsan dalam bekerja.

Seorang Muslim tidak boleh bekerja setengah hati. Jika sudah memilih jalan bisnis, maka ia harus menjalankannya dengan profesional, disiplin, penuh tanggung jawab, dan memberikan yang terbaik.

Ihsan berarti menghadirkan kualitas terbaik dalam pekerjaan, karena kita menyadari bahwa meskipun manusia mungkin tidak melihat seluruh proses yang kita lakukan, Allah SWT Maha Melihat.
Bisnis Bukan Sekadar Mengejar Banyak
Pada akhirnya, muara dari seluruh pergerakan ekonomi bukan sekadar mengejar volume yang besar.

Bukan sekadar memiliki toko yang banyak.
Bukan sekadar memperbesar omzet.
Bukan sekadar memperluas jaringan distribusi.Bukan pula sekadar mengejar angka keuntungan.

Dalam Islam, kita mengenal satu konsep yang jauh lebih dalam: berkah.
Berkah bukan sekadar sesuatu yang banyak. Berkah adalah kebaikan yang Allah letakkan pada sesuatu sehingga manfaatnya meluas dan keberadaannya membawa kebaikan.

Karena itu, bisa saja sesuatu yang jumlahnya sedikit terasa cukup, menenangkan hati, dan membawa manfaat besar. Sebaliknya, sesuatu yang jumlahnya sangat banyak belum tentu menghadirkan ketenteraman.

Maka bagi saya, keberhasilan bisnis bukan hanya tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang lahir dari apa yang kita kumpulkan.

Uang yang diperoleh dengan cara yang baik, dikelola dengan benar, digunakan untuk mengembangkan usaha, membuka lapangan pekerjaan, menghidupi keluarga, membantu sesama, membayar hak-hak karyawan, memenuhi kewajiban kepada negara, serta memberi manfaat kepada masyarakat—itulah ekonomi yang memiliki dimensi keberkahan.

Dari Profit Menuju Benefit
Pada titik inilah paradigma seorang pengusaha Muslim seharusnya berkembang: dari sekadar profit menuju benefit. Profit penting. Perusahaan tanpa keuntungan akan sulit bertahan. Tetapi keuntungan bukanlah tujuan terakhir.
Keuntungan adalah sarana. Sarana untuk menjaga keberlangsungan usaha, untuk membuka lapangan pekerjaan,  untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan
untuk mengembangkan pendidikan.

Dengan cara pandang seperti ini, bisnis tidak lagi hanya menjadi aktivitas ekonomi. Bisnis dapat berubah menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian, selama dijalankan dengan niat yang benar, cara yang halal, tata kelola yang baik, serta memberikan manfaat bagi sesama.

Seorang pengusaha boleh memiliki target setinggi langit. Boleh membangun perusahaan sebesar mungkin. Boleh bermimpi menciptakan jaringan bisnis yang luas dan memberikan dampak besar.
Tetapi jangan pernah kehilangan kesadaran bahwa di balik seluruh ikhtiar manusia, ada kehendak Allah SWT.
Kita merencanakan, Allah menentukan.
Kita berusaha, Allah yang memberikan hasil.

Jangan terlalu larut dalam keuntungan. Khawatirlah jika keuntungan membuat kita lupa bersyukur. Sebab pada akhirnya, bisnis yang besar bukanlah bisnis yang sekadar mampu menghasilkan banyak uang, melainkan bisnis yang mampu mengubah uang menjadi kemaslahatan.
Di situlah seni beriman dan berilmu menemukan maknanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here