Seni Beriman dan Berilmu: Membalik Kerugian Menjadi Keberkahan Bisnis

0
43
- Advertisement -

Kolom H. M. Yasin Azis
Ketua ISMI Sulawesi Selatan / Founder Misi Group

Dalam kalkulasi matematika manusia, rumus bisnis sering kali terlihat sederhana: modal ditambah strategi menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, ketika angka-angka di neraca keuangan berubah menjadi merah, kita dengan cepat menyebutnya sebagai kegagalan, kerugian, bahkan kehancuran.

Namun, benarkah dinamika kehidupan ekonomi sesempit angka-angka dalam laporan keuangan?

Sebagai pelaku usaha yang bergerak di sektor ritel modern consumer goods dan distribusi bahan bangunan melalui Misi Group, saya melihat bahwa dunia usaha memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar perhitungan untung dan rugi. Ada wilayah yang dapat dihitung dengan ilmu manajemen, tetapi ada pula wilayah yang hanya dapat dipahami melalui kedalaman iman.

Di situlah seorang pengusaha Muslim diuji: sejauh mana ia mampu memadukan ilmu dan iman dalam menghadapi setiap keadaan. Dunia usaha hari ini bergerak dalam perubahan yang sangat cepat. Sektor ritel dan distribusi menghadapi berbagai tantangan: disrupsi digital, perubahan perilaku konsumen, fluktuasi daya beli, persaingan yang semakin ketat, perubahan regulasi, hingga ketidakpastian rantai pasok.

Tidak semua persoalan dapat diprediksi, dan tidak semua keputusan berakhir sebagaimana yang kita harapkan. Tetapi justru dalam ketidakpastian itulah seni berilmu dan beriman seorang pengusaha Muslim menemukan maknanya.

Ketika kerugian atau tantangan bisnis datang, reaksi pertama seorang pengusaha seharusnya bukan meratap, melainkan melakukan evaluasi.

Secara ilmu manajemen, kita harus berani membedah persoalan secara objektif. Mengapa terjadi penyusutan? Di mana letak kebocoran? Apakah persoalannya berada pada strategi pemasaran, pengadaan barang, distribusi, sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, atau perubahan perilaku konsumen?
Semua harus dianalisis.

Dalam dunia bisnis, tidak cukup mengatakan, “Ini sudah takdir.” Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk menutupi kelalaian manajemen. Justru iman kepada takdir harus mendorong kita untuk semakin serius memperbaiki ikhtiar.

Di sinilah ilmu bekerja. Tetapi setelah seluruh ikhtiar dilakukan, masih ada wilayah yang berada di luar kemampuan manusia. Di sinilah iman mengambil tempat.

Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar pengetahuan dan kehendak Allah SWT. Kerugian yang kita alami bisa jadi merupakan akibat dari keputusan yang kurang tepat, tetapi bisa pula menjadi jalan yang tidak kita pahami pada saat ini menuju kebaikan yang lebih besar.
Apa yang kita anggap sebagai kehilangan hari ini, belum tentu merupakan kehilangan dalam pandangan Allah.

Bisa jadi Allah sedang menegur kita.
Bisa jadi Allah sedang mengajarkan sesuatu. Bisa jadi Allah sedang mengubah arah perjalanan kita. Atau bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang jauh lebih besar yang belum mampu kita lihat.

Karena itu, seorang pengusaha beriman tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa saya rugi?” Ia melanjutkannya dengan pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui kerugian ini?”

Dari pengalaman itulah saya meyakini adanya apa yang saya sebut sebagai “Kerugian yang Benar.” Kerugian yang benar bukanlah kerugian yang dibiarkan begitu saja. Kerugian yang benar adalah kerugian yang melahirkan evaluasi, membuka mata terhadap kelemahan, memicu inovasi, memperbaiki sistem, dan pada akhirnya memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT.

Ada kerugian yang membuat seseorang semakin terpuruk. Tetapi ada pula kerugian yang justru membuat seseorang menjadi lebih matang. Ada kehilangan yang membuat manusia putus asa. Tetapi ada pula kehilangan yang mengajarkan manusia tentang ketawakalan.

Ada kegagalan yang menghancurkan semangat. Tetapi ada pula kegagalan yang menjadi sekolah kehidupan paling mahal dan paling berharga.

Maka, ukuran keberhasilan seorang pengusaha Muslim tidak semata-mata terletak pada berapa besar keuntungan yang berhasil diperoleh, tetapi juga pada apa yang terjadi pada dirinya setelah memperoleh keuntungan ataupun mengalami kerugian.

Jika keuntungan membuatnya sombong, maka keuntungan itu belum tentu menjadi keberkahan. Jika kerugian membuatnya semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati, semakin teliti, semakin inovatif, dan semakin kuat memperbaiki diri, maka boleh jadi kerugian tersebut justru sedang menjadi pintu keberkahan.

Dalam bisnis, ilmu mengajarkan kita bagaimana bekerja secara efektif. Ilmu mengajarkan strategi, efisiensi, membaca pasar, mengelola risiko, membangun organisasi, menjaga arus kas, memahami konsumen, dan melakukan inovasi. Sebaliknya iman menuntun kita untuk senantiasa bersabar dan tawakal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here