FORSIMEMA Apresiasi Kepemimpinan I Wayan Gede Rumega: Integrasikan Seni, Budaya, dan Tata Kelola Kelas Dunia di PN Makassar

0
78
- Advertisement -

PINISI.co.id– Ketua Umum Forum Silaturahmi Media Mahkamah Agung (FORSIMEMA), Syamsul Bahri, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada mantan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Makassar, I Wayan Gede Rumega, S.H., M.H., atas pencapaiannya dalam mentransformasi PN Makassar menjadi unit kerja berpredikat Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dengan mengedepankan nilai-nilai BerAKHLAK.

Menurut Syamsul Bahri, keberhasilan I Wayan Gede Rumega tidak semata-mata bertumpu pada penerapan tata kelola birokrasi dan standar pelayanan, tetapi juga pada pendekatan kepemimpinan yang khas. Ia mampu memadukan jiwa seni, kearifan adat, serta nilai-nilai budaya Makassar dan Bali ke dalam tata kelola lembaga peradilan modern.

Menurut Ketum FORSIMEMA, kepemimpinan I Wayan Gede Rumega menunjukkan bahwa penegakan hukum dan pelayanan keadilan tidak harus tampil dalam wajah birokrasi yang kaku. Sebaliknya, hukum dan pelayanan publik juga membutuhkan empati, estetika, keteladanan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Jiwa seni yang melekat pada diri I Wayan Gede Rumega dinilai turut memberikan warna dalam menciptakan suasana pelayanan publik di PN Makassar yang lebih humanis, teduh, nyaman, dan ramah bagi masyarakat pencari keadilan.

“Bapak I Wayan Gede Rumega berhasil membuktikan bahwa kebudayaan adalah salah satu pilar pendukung integritas. Perpaduan antara ketegasan nilai budaya Makassar, khususnya ‘Siri’ na Pacce’, dengan keharmonisan filosofi Bali, ‘Tri Hita Karana’, melahirkan lingkungan kerja yang berintegritas, menjunjung tinggi etika, serta menghormati harkat dan martabat manusia,” ujar Syamsul Bahri.

Penerapan nilai-nilai dasar ASN, termasuk aparatur penegak hukum, yaitu BerAKHLAK—Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif—di bawah kepemimpinan I Wayan Gede Rumega, menurut FORSIMEMA, tidak berhenti sebagai slogan formalitas.

Nilai-nilai tersebut diupayakan untuk diinternalisasikan dalam perilaku dan budaya kerja sehari-hari seluruh jajaran PN Makassar.

Sejumlah langkah strategis yang menjadi bagian dari upaya tersebut antara lain:
Pertama, Berorientasi Pelayanan.

Pembenahan dan pembaruan ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) diarahkan untuk memberikan pelayanan yang nyaman, cepat, transparan, dan mudah diakses masyarakat.
Kedua, Harmonis dan Adaptif.

Sekat-sekat birokrasi berupaya dikikis melalui pendekatan yang lebih terbuka dan humanis, termasuk dengan memanfaatkan nilai-nilai kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan suasana kerja. Pendekatan tersebut mendorong terciptanya komunikasi, keterbukaan, dan kerja sama tim yang lebih solid di lingkungan PN Makassar.

Ketiga, Akuntabel dan Kolaboratif.
Penguatan integritas dilakukan melalui upaya membangun benteng antigratifikasi dan antipungli dengan melibatkan serta merangkul berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders) di Sulawesi Selatan.

FORSIMEMA berharap jejak kepemimpinan atau legacy yang ditinggalkan I Wayan Gede Rumega di PN Makassar dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi para pimpinan badan peradilan lainnya di seluruh Indonesia.

Bagi FORSIMEMA, kepemimpinan tidak hanya diukur dari capaian administratif dan indikator kinerja, tetapi juga dari kemampuan seorang pemimpin meninggalkan budaya kerja, keteladanan, inovasi, serta nilai-nilai positif yang dapat terus berkembang setelah masa kepemimpinannya berakhir.

“Kami di FORSIMEMA mengagumi bagaimana beliau memimpin dengan hati sekaligus melalui karya seni. Semoga rekam jejak positif ini terus menyala dan menginspirasi insan peradilan di mana pun berada untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas pelayanan, dan membangun tata kelola yang modern tanpa pernah melupakan akar budaya bangsa,” tutup Syamsul Bahri. (Lif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here