Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, 15 Bulan Memimpin BULOG

0
58
- Advertisement -

HEROISME ZENI KE BULIR PADI

Catatan Egy Massadiah

“Hidup bukan tentang seberapa tinggi pangkat seseorang, melainkan seberapa banyak jejak kebaikan yang ditinggalkan.”

Kalimat itu seperti berkelindan dalam perjalanan Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani. Seorang prajurit Zeni yang ditempa untuk membuka jalan, membangun jembatan, menembus keterisolasian, dan memulihkan kehidupan—lalu membawa pengalaman itu ke medan pengabdian lain yang tak kalah menentukan nasib bangsa: pangan.

Jalan, jembatan, dan beras sepintas adalah tiga benda berbeda. Tetapi secara semiotik ketiganya membawa pesan yang sama: keterhubungan.

Jalan menghubungkan tempat. Jembatan mempertemukan dua tepian. Pangan menyambungkan tanah dengan kehidupan.

Bagi seorang prajurit Zeni, membangun bukan semata mendirikan struktur beton dan baja. Membangun adalah meniadakan keterputusan. Sebuah jembatan menjadi berarti bukan karena panjang bentangnya, melainkan karena setelah ia berdiri, manusia dapat sampai ke seberang.

Begitu pula pangan. Bulir padi baru memperoleh makna ketika perjalanan panjangnya—dari lumpur sawah, tangan petani, penggilingan, gudang hingga distribusi—berakhir sebagai nasi di piring rakyat.

Perjalanan Rizal dari sepatu lars menuju bulir padi memang panjang. Tetapi orientasinya tetap sama: membuka jalan bagi kehidupan.

Dari Barak Korps Zeni

Lahir di Bandung, 19 November 1970, Rizal memilih jalan pengabdian melalui Akademi Militer dan lulus pada 1993. Korps Zeni TNI Angkatan Darat menjadi kawah yang menempa perjalanan awalnya.

Zeni adalah korps yang dipersiapkan untuk perang, tetapi sebagian pekerjaannya justru sangat dekat dengan kehidupan: membuka jalan, membangun jembatan, menjinakkan ranjau, memperbaiki infrastruktur, dan menghadirkan akses di tempat-tempat yang sebelumnya terputus.

Di sanalah Rizal belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti menyerbu ke depan. Terkadang keberanian adalah kemampuan menemukan jalan ketika semua jalan tampak tertutup.

Presisi teknik, disiplin, kerja tim, dan kemampuan mengambil keputusan dalam tekanan kemudian menjadi bagian dari watak kepemimpinannya.

Kariernya tumbuh dari satuan bawah hingga dipercaya memegang berbagai komando, antara lain sebagai Komandan Batalyon Zeni Tempur 1/Dhira Dharma Kodam I/Bukit Barisan pada 2010–2011.

Babak lain terbuka ketika ia dipercaya memimpin Korem 162/Wira Bhakti di Nusa Tenggara Barat. Di Lombok, ilmu seorang prajurit bertemu langsung dengan luka manusia.

Di Tengah Reruntuhan Lombok
Agustus 2018, bumi Lombok berguncang. Rumah-rumah ambruk. Sekolah dan tempat ibadah rusak. Jalan terputus. Ribuan orang terluka, ratusan ribu meninggalkan hunian, dan ratusan kehilangan nyawa.

Gempa selalu meninggalkan dua jenis reruntuhan: yang terlihat dan yang tidak terlihat. Yang terlihat adalah tembok, atap, jalan, dan bangunan. Yang tak terlihat adalah rasa aman yang runtuh di dalam diri manusia.

Di tengah puing itulah Rizal menerima salah satu ujian terberatnya. Sebagai Danrem 162/Wira Bhakti, ia ditugaskan memimpin Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana Gempa Lombok. Seusai masa tanggap darurat, ia kembali dipercaya memimpin Satuan Tugas Terpadu Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascagempa NTB.

Pada masa itu saya sebagai Tenaga Ahli Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo, kerap bersua dengan Danrem Rizal. Interaksi berlanjut ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Dua bencana berbeda, tetapi menghadirkan pertanyaan yang sama: seberapa cepat negara mampu hadir ketika rakyat sedang berada pada titik paling rapuh?

Bencana mengajarkan satu hal sederhana. Di hadapan seseorang yang kehilangan rumah dan keluarganya, pangkat menjadi kecil apabila tidak disertai empati.

Rizal memilih berada dekat dengan warga. Berjalan di antara reruntuhan, mendengar keluhan pengungsi, memastikan makanan, air bersih, dan obat-obatan tiba. Posko harus bekerja, bantuan harus bergerak, kehidupan harus perlahan dinyalakan kembali.

Kisah-kisah itu kemudian dituangkan dalam buku “Mempolong Merenten” yang saya tulis bersama Roso Daras: cerita tentang kolaborasi Danrem Rizal bersama Kepala BNPB Letjen Doni Monardo menangani rehabilitasi dan rekonstruksi Gempa Lombok.

“Kita semua harus sadar bahwa bencana yang terjadi adalah peristiwa berulang, maka apa pun dokumen, catatan tentang bencana niscaya akan sangat besar manfaatnya di kemudian hari,” ujar Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Maruli Simanjuntak ketika meluncurkan buku “Mempolong Merenten” di Hotel Killa Senggigi, Lombok, Rabu, 28 April 2021.

Sebab setelah gempa, yang harus didirikan kembali bukan hanya tembok. Rasa aman harus dipulangkan ke rumah-rumah. Keberanian untuk kembali harus ditumbuhkan. Anak-anak harus diyakinkan bahwa malam tidak selamanya berarti bumi akan kembali berguncang.

Di NTB, tugas Zeni menemukan wajahnya yang paling manusiawi: membangun kembali harapan.

“Harakiri” di Merauke

Perjalanan kemudian membawa Rizal ke Merauke, Papua. Jika Lombok mengajarinya membaca reruntuhan, Merauke mengajarinya membaca tanah.

Di hamparan luas itu ia berhadapan dengan persoalan pangan, pembangunan kawasan pertanian, dan masyarakat adat yang kebudayaannya telah berakar jauh sebelum negara datang membawa program pembangunan.

Tanah bagi masyarakat adat bukan sekadar koordinat dalam peta. Tanah adalah ingatan. Ia menyimpan leluhur, sejarah, kehidupan, bahkan identitas.
Karena itu pembangunan tidak cukup datang dengan alat berat, peta proyek, dan perintah. Ia membutuhkan telinga.

Rizal berdialog dengan tokoh adat, kepala suku, dan masyarakat. Ia memahami bahwa program negara kehilangan makna apabila tercerabut dari manusia yang hidup di atas tanah tempat program itu dilaksanakan. Hak ulayat, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat lokal harus menjadi bagian dari percakapan.

Ada kisah kecil yang menggambarkan caranya bekerja. Ketika masyarakat yang terbiasa berburu mulai diperkenalkan pada pertanian, teori bercocok tanam tidak selalu mudah diterjemahkan. Menanam padi membutuhkan bahasa yang sederhana.

Muncullah istilah yang terdengar sedikit mengerikan: “harakiri”.
Bukan ritual Jepang, melainkan singkatan: hambur kanan, hambur kiri. Benih ditebar ke kanan dan ke kiri.

Terdengar jenaka, tetapi di balik kelakar itu terdapat pelajaran kepemimpinan: kebijakan sebesar apa pun akhirnya harus menemukan bahasa yang dimengerti manusia.

Sebab pemimpin bukan hanya orang yang mampu memberi instruksi. Ia adalah orang yang sanggup menerjemahkan gagasan besar menjadi tindakan sederhana.

Dan benih memiliki filosofinya sendiri. Ia harus rela ditanam, bahkan seolah hilang di dalam tanah, sebelum suatu hari tumbuh menjadi kehidupan.

Kembali ke Ruang Kuliah

Di tengah perjalanan militernya, Rizal memelihara kegelisahan lain: ilmu pengetahuan. Ia memahami bahwa persoalan negara semakin kompleks. Pengalaman lapangan adalah guru yang luar biasa, tetapi pengalaman memerlukan kerangka berpikir agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.

Ia pun menempuh pendidikan doktoral di Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia dalam bidang Pembangunan Berkelanjutan, dengan tema yang seperti menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depannya: pangan.

Disertasinya berjudul “Transformasi Tata Kelola Kolaboratif Pascapanen Padi Berkelanjutan di Indonesia dengan Pendekatan Soft System Methodology.” Pendekatan itu membantunya membaca persoalan bukan sebagai bagian-bagian yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jaringan: petani, pasar, pemerintah, distribusi, teknologi, birokrasi, dan masyarakat.

Barangkali Zeni telah lebih dahulu mengajarinya logika serupa. Sebuah jembatan tidak pernah berdiri karena satu tiang. Ada fondasi, bentang, beban, konstruksi, dan dua tepian yang harus dipertemukan.

Begitu pula pangan. Petani tidak dapat berdiri sendiri. Pasar tidak dapat berjalan sendiri. Gudang, distribusi, harga, teknologi, dan kebijakan adalah tiang-tiang dari jembatan yang sama.

Ilmu pengetahuan memberinya cara baru membaca hubungan itu. Perjalanan tersebut terasa lengkap ketika gelar doktor diraihnya saat memimpin BULOG.

Pengabdian Bernama Pangan

Setelah puluhan tahun mengenakan seragam militer, Rizal memasuki medan pengabdian berbeda. Tidak ada dentuman senjata. Tidak ada ranjau yang harus dijinakkan. Tetapi ada sesuatu yang tidak kalah strategis: pangan.

Ahmad Rizal Ramdhani mengemban amanat sebagai Direktur Utama Perum BULOG sejak 3 Juli 2025 berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-192/MBU/07/2025.

Di BULOG, ia menghadapi keseimbangan yang rumit: antara gabah petani dan harga beras di meja rakyat; antara stok dan distribusi; antara kepentingan produsen dan kemampuan konsumen.

Di sinilah pengalaman panjang seorang prajurit Zeni seperti menemukan muara baru. Dahulu ia membangun jembatan agar manusia dapat sampai ke seberang. Kini yang harus dijembatani adalah sawah petani dengan dapur rakyat.

Ia mengawal penyerapan gabah agar jerih payah petani memperoleh penghargaan yang layak, sekaligus menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan serta memastikan beras menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Pekerjaan itu sering diterjemahkan dalam bahasa angka: tonase, stok, serapan, harga, gudang, dan distribusi. Tetapi pangan sesungguhnya mempunyai bahasa yang jauh lebih tua daripada statistik.

Di balik sekarung beras ada petani yang bangun sebelum matahari, kaki yang berkubang lumpur, punggung yang dibakar matahari, serta musim yang kadang menjadi sahabat dan kadang berubah menjadi lawan. Di ujung rantai itu ada sebuah keluarga yang menunggu nasi mengepul dari dapur.

Maka gudang BULOG bukan sekadar ruang penyimpanan. Dalam perspektif yang lebih filosofis, ia adalah ruang tempat negara memayungkan rasa aman. Karung-karung beras itu semacam janji diam-diam bahwa ketika musim tidak bersahabat, bencana datang, atau harga bergejolak, negara masih mempunyai sesuatu untuk diletakkan di meja rakyat.

Lima belas bulan memimpin BULOG, sejumlah capaian ikut menandai perjalanan Rizal. Stok beras pemerintah pada 2026 sempat menembus sekitar 5,36 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah BULOG—sementara target penyerapan empat juta ton setara beras dari produksi dalam negeri tercapai lebih cepat.

Rizal sendiri menerima Indonesia Best 50 CEO Awards 2026 kategori Most Popular. Capaian itu tentu bukan kerja seorang diri, melainkan buah orkestrasi petani, BULOG, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, TNI-Polri dan berbagai unsur lainnya.

Karena itu prestasi BULOG pada akhirnya juga menjadi bagian dari capaian pemerintah dalam memperkuat cadangan pangan dan keberpihakan kepada produksi petani dalam negeri.

Angka jutaan ton memang penting, tetapi makna terdalamnya bukan pada gudang yang penuh. Ukurannya adalah ketika gabah petani menemukan pembeli, negara memiliki cadangan, dan beras menemukan jalan menuju dapur rakyat. Dalam bahasa Zeni: jembatan baru berarti ketika orang dapat sampai ke seberang.
Sebab kelaparan tidak mengenal pangkat, jabatan, suku ataupun agama. Dan nasi tidak pernah bertanya siapa yang akan memakannya.

Mengurus pangan merupakan salah satu bentuk paling sunyi dari menjaga sebuah bangsa.

Dari Jembatan hingga Sepiring Nasi

Jika perjalanan Ahmad Rizal Ramdhani ditarik menjadi satu garis panjang, benang merahnya adalah membangun dan menghubungkan.

Korps Zeni mengajarinya membangun jalan dan jembatan. Lombok mengajarinya membangun kembali kehidupan dari reruntuhan. Merauke mengajarinya mempertemukan program negara dengan manusia dan kebudayaan. Kampus mengajarinya menjembatani pengalaman dengan ilmu pengetahuan.

BULOG memberinya bentang jembatan yang lebih luas: memastikan keringat petani berujung pada sepiring nasi rakyat Indonesia.

Dalam pengertian itulah bulir padi menyimpan semiotika yang indah.
Ia menunduk ketika berisi. Semakin bernas bulirnya, semakin rendah tangkainya. Alam seakan meninggalkan pesan lama tentang kepemimpinan: semakin besar amanah yang dipikul, semestinya semakin rendah hati seseorang berjalan.

Pada akhirnya pangkat akan ditanggalkan. Jabatan akan diserahkan kepada orang berikutnya. Seragam akan disimpan. Ruang kerja akan ditempati orang lain.

Yang tertinggal adalah jejak.
Jalan yang pernah dibuka. Jembatan yang pernah dibangun. Tangan yang pernah digenggam ketika bencana datang. Petani yang merasa hasil panennya dihargai. Dan dapur rakyat yang tetap mengepul ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Hari ini, Oktober 2026, lima belas bulan Ahmad Rizal Ramdhani memimpin BULOG. Lima belas bulan tentu hanyalah sebuah noktah kecil dalam perjalanan panjang pengabdian.

Dari barak Zeni, reruntuhan Lombok, tanah Merauke, ruang akademik Universitas Indonesia hingga gudang-gudang beras BULOG, perjalanan itu seperti terus mengulang satu pesan: pengabdian tidak selalu hadir melalui peristiwa besar.

Kadang ia hadir dalam sesuatu yang begitu biasa sehingga kita lupa mensyukurinya.

Sebelum menjadi sepiring nasi,
di dalamnya ada tanah yang menerima benih. Ada air yang menghidupkannya. Ada matahari yang mematangkannya. Ada lumpur di kaki petani. Ada keringat, doa, musim, risiko, gudang, jalan dan tangan-tangan yang mengantarkannya.

Dan ada negara yang berkewajiban menjaganya. Dari sanalah perjalanan seorang prajurit Zeni dan sebutir beras akhirnya bertemu. Yang satu diajarkan untuk membangun jembatan.

Yang lain menunggu untuk diseberangkan. Dari sawah menuju gudang. Dari gudang menuju pasar. Dari tangan petani menuju tangan rakyat. Di situlah napas BULOG, “Mengantarkan Kebaikan,” memperoleh maknanya yang paling sederhana sekaligus paling dalam.

Sebab kebaikan, seperti beras, tidak diciptakan untuk sekadar ditumpuk.

Ia harus sampai.

Ia harus diantarkan.

SHARE
Previous articleBARET MERAH DI HAMPARAN SAWAH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here