Catatan Egy Massadiah
Sebuah lagu kadang menyimpan riwayat lebih panjang daripada pidato. Ia mengembalikan wajah para sahabat, medan penugasan, dan janji ketika pangkat masih rendah. Kala itu, perjalanan nan jauh baru dimulai.
Ingatan saya kembali ke rumah dinas Pangdam XVI/Pattimura di Tapal Kuda, Ambon, Maret 2022. Mayor Jenderal Richard Taruli Horja Tampubolon menyambut Doni Monardo, senior yang dihormatinya. Di sela ramah tamah, ia mendendangkan “Semerah Darah Sebening Air Mata”. Dua prajurit baret merah itu bertemu dalam bahasa kesetiaan dan persaudaraan.
Pada 15 Oktober 2026, Richard menerima medan pengabdian baru. Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Empat bintang di pundaknya menyertai tanggung jawab membantu Menhan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin dalam bidang strategi, doktrin, dan pembangunan kekuatan.
Akmil 92
Saya mengenal Richard sejak masih Letnan Dua, sebagaimana saya mengenal Maruli Simanjuntak. Keduanya lulusan Akmil 1992. Persahabatan kami tumbuh melalui perjumpaan dan pekerjaan bersama, diselingi jarak ketika penugasan membawanya jauh dari Jakarta.
Sebelum Magelang, ada Palembang. Richard menjalani masa SMA di Xaverius 2 pada 1985–1988. Kota itu menyimpan persahabatan remajanya, ketika masa depan masih berupa kemungkinan.
Ungkapan wong kito galo mengandung kehangatan kebersamaan. Bagi saya, di sanalah akar Batak dan kenangan Palembang menemukan pertautan: menyediakan ruang bagi orang lain. Seperti songket, manusia terbentuk dari benang pengalaman yang saling mengikat. Pangkat bertambah, tetapi tangan yang pernah saling menuntun tetap layak diingat.
Karier membawa Richard melewati penugasan intelijen dan komando di Kopassus, pendidikan prajurit, serta pembinaan wilayah. Ia kemudian dipercaya memimpin Koopssus TNI, Kodam Pattimura, dan Kogabwilhan III, sebelum menjadi Kasum TNI.
Namun, persahabatan menyimpan sesuatu yang tak tertampung dalam daftar jabatan.
Gelanggang Medan Pengabdian
Pada Juli 2011, Doni, ketika itu Brigjen TNI dan menjabat Wadanjen Kopassus, memimpin kontingen TNI dalam Olimpiade Militer Dunia di Rio de Janeiro, Brasil. Letkol Richard mendampinginya. Semasa saya menjadi Tenaga Ahli Kepala BNPB, Doni kerap mengenang perjalanan tentang Brazil ini bersama RT, panggilan akrabnya kepada Richard.
Richard juga terlibat dalam pembinaan karakter atlet melalui Satlak Prima menghadapi SEA Games Jakarta–Palembang. Gelanggang mempertemukan daya juang dengan penguasaan diri: menyerang tanpa kehilangan kendali, bertahan tanpa menyerah, menghormati lawan sambil berusaha mengalahkannya.
Ketika Richard menjadi Wadanjen Kopassus (Doni dan Richard keduanya pernah menjabat Wadanjen Kopassus) Richard tidak selalu mudah dijumpai di Cijantung. Dalam ingatan saya, ia lebih banyak berada di Papua bersama anggotanya. Pada 2018, ia dipercaya sebagai Kepala Operasi Nemangkawi I, memperpanjang pengalaman operasionalnya setelah penugasan di Timor-Timur pada 1998.
Medan menguji keberanian sekaligus kejernihan keputusan. Keselamatan prajurit, perlindungan warga, dan akibat tindakan berada dalam pertimbangan seorang pemimpin.
Kantor dikenali dari papan nama; kehadiran dirasakan melalui kesediaan menanggung kesulitan bersama anggota.
Masa Pandemi
Awal Februari 2020, ketika Richard menjadi Kaskogabwilhan I, kami terlibat dalam penanganan kepulangan WNI dari Wuhan. Mereka menjalani observasi di Natuna pada 2–15 Februari.
Sebagian adalah mahasiswa yang mendadak harus pulang ketika dunia belum sepenuhnya memahami penyakit baru itu. Keselamatan memerlukan ketelitian, sementara kepercayaan harus dijaga di tengah kecemasan.
Di Natuna, pertahanan menemukan wajah yang dekat: melindungi warga dan mengantarkan mereka kembali kepada keluarga.
Tugas berlanjut ke Pulau Sebaru Kecil untuk observasi awak kapal World Dream dan Diamond Princess. Saya masih mengingat rapat intensif di Hotel Sultan bersama Doni, Richard, dan Marsekal Pertama TNI Jorry Soleman Koloay (ketika itu Waasop Panglima TNI) menjelang kedatangan rombongan. Waktu pendek; keputusan harus segera menjadi tindakan.
Natuna, Sebaru, BNPB dan Wisma Atlet memperoleh makna baru. Pulau menjadi ruang observasi, hunian atlet menjadi tempat perawatan. Di tengah wabah, ukuran keberhasilan terasa sederhana sekaligus mendasar: manusia terselamatkan.
Rasa Aman di Poso
Salah satu kenangan yang membekas bagi Richard Tampubolon adalah saat penugasannya di Sulawesi Tengah pada 2021. Ketika itu, ia berpangkat Mayor Jenderal TNI dan menjabat Komandan Komando Operasi Khusus TNI. Dalam operasi tersebut, Richard memimpin Komando Operasi Gabungan Khusus Tricakti TNI yang bergerak di wilayah Poso, Sigi, dan Parigi Moutong.
Sepanjang Januari hingga September 2021, operasi yang dijalankan bersama Satgas Madago Raya TNI–Polri itu menindak tujuh dari sebelas orang dalam daftar pencarian kelompok teror di sana.
Bagi Richard, kesempatan ikut menghadirkan rasa aman bagi masyarakat Poso menjadi kenangan indah dalam pengabdiannya.
Dalam percakapan dengan penulis pekan lalu, ia mengenang keadaan Poso yang kini aman setelah penugasannya berakhir. Pengabdian itu terasa sejalan dengan Sintuwu Maroso, kearifan masyarakat Pamona di Poso yang mengajarkan kekuatan persatuan, persaudaraan, dan kesediaan memikul suka-duka bersama.
Dalam semangat itu, ketenteraman tumbuh ketika orang bersedia saling menjaga dan menghormati perbedaan. Ucapan terima kasih Bupati Poso, dr. Verna G.M. Inkiriwang, kepada Richard memberi kehangatan tersendiri pada kenangan tersebut.
Bagi saya, di situlah pengabdian bertemu dengan kebijaksanaan tanah tempatnya berpijak: menghadirkan rasa aman agar masyarakat dapat merawat persaudaraan dan menata hari esok bersama.
Mutiara Cahaya
Kembali ke Maluku. Malam di Ambon itu, Richard menyebut satu per satu jabatan yang pernah disandang Doni. Seniornya, ketika itu Ketua Umum PPAD, tersenyum. Penghormatan terasa hangat karena tumbuh dari kedekatan. Kerapu bakar dari Jefry Slamanta, PNS Kodam Pattimura yang dipanen dari keramba apung laut Maluku mengenyangkan perut kami.
Richard kemudian bercerita tentang “mutiara Maluku”, melanjutkan semangat emas hijau dan emas biru Doni semasa menjadi Pangdam Pattimura.
Mutiara terbentuk dalam proses panjang, tersembunyi sebelum memantulkan cahaya. Potensi manusia pun kerap menunggu kesempatan untuk terlihat.
Bagi keduanya, kesejahteraan menjadi jalan merawat keamanan. Laut memberi penghidupan, tanah memberi harapan, dan anak-anak berhak memiliki masa depan yang lebih luas daripada pertengkaran orang dewasa.
Pemikiran itu mendapat ujian berikutnya di Papua. Pada Mei 2024, ketika Richard menjadi Pangkogabwilhan III, aparat gabungan memulihkan keamanan Homeyo, Intan Jaya, setelah serangan yang menimbulkan korban sipil, pembakaran sekolah, dan pengungsian. Warga berangsur pulang, penerbangan melalui Bandara Pogapa kembali beroperasi.
Richard datang pada 12 Juni. Ia berdialog di Gereja GKI Pogapa, membeli hasil tani warga, serta menyerahkan bantuan kebutuhan pokok dan penerangan tenaga surya.
Keamanan mendapat ukuran yang dapat disentuh: hasil kebun menemukan pembeli, rumah ibadah kembali terang, warga berani pulang.
Penghargaan atas kerja kemanusiaan TNI juga datang dari Selandia Baru. Pada April 2026, Richard menghadiri undangan kehormatan duta besarnya sebagai apresiasi atas peran TNI dalam pembebasan pilot mereka yang disandera di Papua. Pengakuan itu menjadi milik institusi dan banyak pihak yang bekerja.
Menjaga Masa Depan
Richard juga tercatat sebagai Wakil Ketua Pelaksana I Satgas Penertiban Kawasan Hutan. Setelah menjadi Wamenhan, ia mendampingi Menhan Sjafrie dalam penertiban areal pertambangan emas seluas 275,36 hektare di Makimi, Nabire, pada 22 Oktober 2026.
Begitulah, tanah menyimpan kekayaan sekaligus masa depan masyarakat. Menjaganya berarti memastikan kekuasaan dan kegiatan ekonomi tunduk pada hukum. Ketegasan harus berjalan bersama ketelitian serta pertanggungjawaban.
Saya teringat umpasa Batak: Aek godang do aek laut, dos ni roha do sibahen na saut.
Kesehatian memungkinkan pekerjaan terlaksana. Banyak pikiran perlu menemukan tujuan bersama, sebagaimana aliran sungai bertemu di laut. Pemimpin bertugas mendengar perbedaan dan menjaga arah.
Bekal itu diperlukan Richard dalam membantu Menhan Sjafrie. Strategi menuntut kejernihan membaca ancaman; doktrin harus terus belajar menghadapi drone, serangan siber, dan perebutan informasi. Peta boleh sama, cara membaca medan harus berkembang.
Pembangunan kekuatan pun harus mempertemukan teknologi dengan prajurit terlatih, pemeliharaan, dan kesiapan operasi. Di negeri kepulauan, kekuatan darat, laut, dan udara perlu bergerak selaras, menjangkau perbatasan serta pulau terluar dengan sumber daya yang dipertanggungjawabkan.
Pengalaman Richard di berbagai wilayah menjadi bekal agar kebijakan tetap dekat dengan kebutuhan prajurit dan kehidupan masyarakat. Sebab mutu pertahanan juga terasa ketika nelayan dapat melaut, petani mengolah tanah, dan anak-anak bersekolah tanpa ketakutan.
Jabatan baru meminta pembuktian. Pengalaman menyediakan bekal; hasil kerja tetap harus diperjuangkan.
Kenangan Doni
Doni telah tiada. Tetapi malam di Ambon 2022 itu tinggal dalam ingatan: seorang senior tersenyum, seorang junior menyampaikan hormat, dan harapan bagi masyarakat dipercakapkan di antara keduanya.
Richard kini melanjutkan perjalanan. Semoga bintang di pundaknya tetap dituntun oleh ingatan tentang manusia yang pernah dijumpainya. Kepada kehidupan merekalah pengabdian itu bermuara.
Sehat selalu my brooo.
Penulis adalah jurnalis senior dan pegiat teater.













