Ady Indra Pawennari: Menyusuri Jalan Pengabdian, Merawat Persaudaraan, dan Menjaga Kehormatan

0
34
- Advertisement -

Tidak semua perjalanan hidup dibangun dengan gemuruh bicara, dan tidak semua pengabdian membutuhkan panggung untuk menunjukkan maknanya. Ada sosok yang memilih berjalan dalam senyap, menyimak lebih banyak daripada berbicara, tetapi sigap ketika keadaan menuntut tindakan. Ady Indra Pawennari adalah potret pribadi yang menarik dibaca dari sudut itu.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial, organisasi, dunia pers dan dinamika usaha, sosoknya hadir dengan pembawaan yang relatif tenang. Tidak selalu berada di barisan paling depan untuk mencari perhatian, tetapi ketika keadaan membutuhkan tindakan, ia tahu kapan harus bergerak. Tutur katanya lembut, sikapnya bersahaja, tetapi dalam mengambil keputusan, ia mampu menunjukkan ketegasan yang tidak selalu terlihat dari pembawaannya sehari-hari.

Barangkali di situlah letak keistimewaannya. Sebab, tidak semua orang yang tenang mampu bertindak cepat dan tidak semua orang yang tegas mampu tetap menjaga kelembutan dalam bergaul.

Ady Indra Pawennari adalah gambaran seseorang yang menempuh perjalanan hidup melalui beragam ruang pengabdian. Dunia jurnalistik membentuk kepekaannya membaca peristiwa dan memahami manusia. Pengalaman di bidang usaha memberinya pelajaran tentang tanggung jawab, risiko dan ketahanan menghadapi perubahan.

Keterlibatannya dalam kegiatan pembangunan daerah mempertemukannya dengan berbagai persoalan masyarakat. Sementara itu, perjalanan bersama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) memberinya ruang untuk merawat persaudaraan, menjaga identitas dan memperkuat ikatan kekeluargaan di tanah rantau.

Berbagai pengalaman itu tidak membuatnya kehilangan arah. Justru, semakin luas lingkungan yang dimasukinya, semakin besar pula tuntutan untuk tetap berpijak pada nilai-nilai yang membentuk dirinya.

Dari dunia pers, belajar memahami manusia

Perjalanan Ady Indra Pawennari dalam dunia jurnalistik sejak 1996, bukanlah perjalanan singkat. Puluhan tahun berada di lingkungan pers memberinya kesempatan menyaksikan perubahan zaman, pergantian kepemimpinan, dinamika sosial serta berbagai peristiwa yang membentuk wajah Kepulauan Riau.

Jurnalistik bukan semata-mata pekerjaan mengumpulkan berita, menulis peristiwa, lalu menerbitkannya. Di balik pekerjaan itu terdapat kemampuan mendengar, keberanian mempertanyakan, ketelitian memilah informasi dan kesediaan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.

Pengalaman panjang tentu tidak otomatis menjadikan seseorang selalu benar. Namun, pengalaman dapat mengajarkan kehati-hatian, membentuk naluri membaca keadaan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap peristiwa memiliki manusia dan persoalan di belakangnya.

Di situlah dunia pers turut membentuk karakter Ady. Ia terbiasa berhadapan dengan berbagai watak, kepentingan dan cara pandang. Ia belajar bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara keras, sebagaimana tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertentangan.

Di tengah perubahan dunia media yang semakin cepat, ketika informasi berlari lebih kencang daripada kemampuan orang untuk memeriksanya, pengabdian kepada jurnalistik menuntut lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia membutuhkan integritas, ketekunan dan keberanian untuk tetap berpijak pada data dan fakta.

Bagi seorang wartawan senior, pengalaman seharusnya bukan menjadi alasan untuk berhenti belajar. Sebaliknya, pengalaman adalah bekal untuk menjaga mutu, membimbing generasi berikutnya dan memastikan bahwa pers tetap menjadi ruang yang bermanfaat bagi masyarakat serta bermartabat bagi para insannya.

Ady masih memiliki tempat dalam perjalanan itu. Bukan karena lamanya ia berada di dunia pers semata, melainkan karena pengabdian jurnalistik selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga semangatnya.

Mengabdi di tengah keluarga besar KKSS

Jika dunia jurnalistik mengajarkannya membaca masyarakat, maka KKSS memberinya ruang untuk merawat masyarakat melalui persaudaraan.

Di Kepulauan Riau, masyarakat Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis hidup berdampingan dengan berbagai kelompok etnis dan kebudayaan. Mereka datang dengan sejarah perjalanan, tradisi, bahasa, serta nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Sebagian telah berakar selama beberapa generasi, membangun keluarga, menekuni usaha dan mengambil bagian dalam perkembangan daerah.

Dalam lingkungan seperti itu, KKSS bukan sekadar organisasi yang mempertemukan orang-orang berdasarkan asal-usul. Ia adalah rumah bersama, tempat ingatan tentang kampung halaman, sementara masa depan dibangun di tanah tempat mereka mencari penghidupan.

Memimpin organisasi semacam ini bukan pekerjaan yang selalu mudah. Ada banyak karakter, latar belakang, harapan dan kepentingan yang harus dipertemukan. Ada yang senang berbicara panjang, ada yang memilih diam. Ada yang ingin bergerak cepat, ada pula yang memerlukan waktu untuk mempertimbangkan setiap keputusan.

Seorang pemimpin harus mampu hadir di antara semuanya, tanpa kehilangan arah dan tanpa membuat perbedaan menjadi sekat.

Ady, dengan pembawaan yang cenderung tenang, memiliki ruang untuk menjalankan peran itu. Ia dapat membaur dengan berbagai kalangan tanpa harus mengubah dirinya menjadi orang lain. Ia memahami bahwa persaudaraan tidak dibangun hanya melalui pidato dalam forum resmi, tetapi juga melalui kesediaan duduk bersama, mendengarkan keluhan, menyapa tanpa jarak dan menjaga komunikasi ketika suasana tidak selalu mudah.

Sebab, ukuran kepemimpinan dalam paguyuban bukanlah seberapa sering seseorang berdiri di podium, melainkan seberapa jauh ia mampu membuat orang-orang yang berbeda merasa tetap menjadi bagian dari keluarga yang sama.

Pengabdian di KKSS juga bukan sekadar tentang membesarkan organisasi. Lebih jauh, ada tanggung jawab untuk menjaga nama baik masyarakat Sulawesi Selatan, memperkuat solidaritas, membantu sesama, serta menanamkan kepada generasi muda bahwa keberhasilan di tanah rantau tidak boleh memutus hubungan dengan akar budaya.

Di sinilah peran Ady Indra Pawennari menjadi penting. Bagaimana persaudaraan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi tindakan yang dirasakan manfaatnya.

Berakar pada Bugis, bernaung dalam marwah Melayu

Ada hal menarik dalam perjalanan hidup Ady Indra Pawennari. Ia berasal dari lingkungan budaya Bugis, tetapi menjalani sebagian penting perjalanan hidup dan pengabdiannya di Kepulauan Riau, sebuah kawasan yang memiliki akar kebudayaan Melayu yang kuat.

Pertemuan dua kebudayaan ini bukanlah sesuatu yang asing. Sejarah Kepulauan Riau sejak lama menjadi bagian dari ruang perjumpaan masyarakat Melayu, Bugis, dan berbagai kelompok lain yang datang melalui jalur perdagangan, pelayaran, perkawinan, serta perpindahan penduduk.

Dalam sejarah Melayu, orang Bugis bukan sekadar pendatang yang singgah. Mereka turut mengambil bagian dalam perjalanan politik, sosial dan kebudayaan kawasan ini. Hubungan yang terjalin selama berabad-abad menunjukkan bahwa identitas asal dan tempat bernaung tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya.

Bagi Ady, pengalaman hidup di tanah Melayu dapat dibaca sebagai perjumpaan nilai. Dalam ungkapan Melayu, dikenal nasihat:

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Ungkapan ini bukan sekadar ajakan untuk menyesuaikan diri. Ia mengandung penghormatan terhadap adat setempat, kesediaan menjaga hubungan baik, serta kesadaran bahwa seseorang yang hidup di suatu negeri mempunyai tanggung jawab terhadap keharmonisan lingkungan tempatnya berada.

Falsafah Melayu juga mengenal ungkapan “Biar mati anak, jangan mati adat”, sebuah peribahasa yang menegaskan betapa pentingnya adat sebagai penyangga kehidupan bersama. Maknanya perlu dipahami dalam konteks penghormatan terhadap tatanan dan nilai luhur, bukan sebagai pembenaran untuk mengabaikan keselamatan manusia.

Bagi masyarakat Melayu, marwah, budi bahasa, adab dan kemampuan menjaga hubungan baik merupakan bagian penting dari kehormatan seseorang. Kelembutan bukan berarti kelemahan. Kesantunan bukan berarti kehilangan ketegasan. Justru, orang yang benar-benar memahami adat semestinya mampu menjaga perkataan tanpa mengorbankan prinsip.

Nilai-nilai itu terasa sejalan dengan pembawaan Ady Indra Pawennari yang dikenal lebih banyak mendengar, tidak gemar membesar-besarkan diri, tetapi dapat bertindak ketika diperlukan.

Namun, akar Bugis yang melekat dalam dirinya juga membawa falsafah hidup yang tidak kalah kuat.

Masyarakat Bugis mengenal nilai siri’ na pesse. Siri’ berkaitan dengan kehormatan, harga diri dan martabat. Sementara pesse mengandung rasa empati, solidaritas dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

Keduanya membentuk pandangan hidup bahwa kehormatan tidak cukup dijaga untuk diri sendiri. Ia juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, memenuhi tanggung jawab dan menunjukkan kepedulian kepada sesama.

Ada pula ungkapan Bugis yang berbunyi:

“Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata Seuwae.”

Ungkapan ini secara umum mengajarkan bahwa kerja keras dan ketekunan menjadi jalan bagi datangnya kemudahan dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Falsafah tersebut memberi pesan sederhana, bahwa keberhasilan tidak semestinya hanya ditunggu, tetapi harus diupayakan melalui kerja, kesabaran dan keteguhan hati.

Bila nilai Melayu mengajarkan pentingnya menjaga adab dan marwah di tempat seseorang berpijak, maka nilai Bugis mengingatkan bahwa kehormatan harus dibuktikan melalui tanggung jawab dan kerja nyata.

Keduanya bertemu dalam satu titik, manusia dinilai bukan hanya dari apa yang dikatakannya, melainkan juga dari cara ia memperlakukan sesama dan menunaikan amanahnya.

Pengalaman lintas bidang, bukan alasan untuk berhenti mengabdi

Perjalanan Ady Indra Pawennari tidak terbatas pada dunia pers dan organisasi kemasyarakatan. Ia juga pernah bersentuhan dengan kegiatan usaha serta pengembangan ekonomi dan pertanian daerah, termasuk aktivitas yang dikaitkan dengan Kabupaten Lingga dan Bintan.

Pengalaman lintas bidang itu mempertemukannya dengan tantangan yang berbeda-beda. Dunia usaha mengajarkan perhitungan dan tanggung jawab. Pembangunan daerah memperlihatkan pentingnya perencanaan serta dampak kebijakan terhadap masyarakat. Dunia pers mengingatkan bahwa informasi harus diperiksa dan kepentingan publik tidak boleh diabaikan. Sementara itu, organisasi kemasyarakatan menuntut kesabaran dalam menjaga kebersamaan.

Setiap bidang mempunyai logika dan tekanannya sendiri. Tidak semua pengalaman menghasilkan keberhasilan tanpa hambatan. Namun, perjalanan yang panjang selalu menyediakan pelajaran bagi mereka yang bersedia mengevaluasi diri.

Yang menarik, pengalaman dalam berbagai bidang tidak harus membuat seseorang meninggalkan pengabdian yang telah membesarkannya.

Di tengah kesibukan dan perubahan tanggung jawab, organisasi seperti KKSS tetap membutuhkan orang-orang yang bersedia meluangkan waktu untuk menjaga hubungan kekeluargaan. Dunia jurnalistik pun masih memerlukan mereka yang mau merawat etika, meningkatkan kualitas pemberitaan dan membuka ruang bagi wartawan muda untuk belajar.

Pengabdian tidak selalu berarti memegang jabatan selamanya. Ada kalanya pengabdian justru terlihat ketika seseorang bersedia berbagi pengalaman, mendukung generasi penerus dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk berkembang.

Pada akhirnya, jabatan dapat berganti, lingkungan usaha dapat berubah dan zaman akan terus bergerak. Yang lebih penting adalah apa yang tetap dibawa seseorang dari semua perjalanan itu, yaitu integritas, kepedulian, kesediaan belajar dan tanggung jawab terhadap sesama.

Pada akhirnya, manusia kembali kepada nilai

Ada satu pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan hidup seseorang yang bergerak di berbagai bidang. Semakin luas pengalaman, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga keseimbangan.

Pengalaman tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan. Ketegasan tanpa kebijaksanaan dapat melukai. Kesantunan tanpa keberanian dapat membuat seseorang kehilangan sikap. Sebaliknya, ketenangan yang disertai keteguhan, kelembutan yang dibarengi prinsip, serta pengalaman yang disertai kesediaan belajar akan membentuk pribadi yang lebih matang.

Ady Indra Pawennari masih berada dalam perjalanan pengabdiannya. Seperti manusia lainnya, perjalanan itu tentu tidak lepas dari tantangan dan ruang untuk memperbaiki diri. Tidak ada tokoh yang perlu ditempatkan di atas kritik dan tidak ada pengabdian yang seharusnya berhenti pada pujian.

Justru, penghargaan yang paling tulus adalah ketika seseorang didorong untuk terus menjaga hal-hal baik yang telah menjadi bagian dari dirinya.

Perpaduan nilai Bugis dan Melayu yang hadir dalam perjalanan hidupnya menyimpan pesan yang patut direnungkan.

Dari Bugis, kita belajar menjaga siri’ na pesse yaitu martabat yang disertai kepedulian. Dari Melayu, kita belajar menjunjung adab, menjaga marwah dan menghormati tempat kita berpijak. Dari dunia jurnalistik, kita belajar bahwa kata-kata harus dipertanggungjawabkan. Dari organisasi, kita belajar bahwa persaudaraan membutuhkan kesediaan untuk memberi, bukan hanya menerima.

Keempatnya bertemu pada satu prinsip, pengabdian yang baik tidak membutuhkan terlalu banyak kemegahan untuk membuktikan dirinya. Ia membutuhkan ketulusan, kerja yang konsisten dan kesediaan untuk tetap hadir ketika orang lain membutuhkan.

Sebab, pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ia pernah berdiri, seberapa luas jaringan yang dimilikinya, atau seberapa banyak jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya.

Kehormatan juga ditentukan oleh bagaimana ia memperlakukan sesama ketika tidak sedang berada di atas panggung, bagaimana ia menjaga perkataan ketika berbeda pendapat dan bagaimana ia tetap menjalankan tanggung jawab ketika sorotan mulai meredup.

Dalam bahasa yang sederhana, tetapi sarat makna, akar boleh berasal dari Bugis, kehidupan boleh bernaung di tanah Melayu, tetapi pengabdian harus memberi manfaat bagi semua.

Dan barangkali, itulah makna perjalanan yang sesungguhnya. Bukan sekadar sampai ke suatu tempat, melainkan terus menemukan alasan untuk berbuat baik di mana pun kita berada.

Daeng Bahar, Dewan Pakar KKSS Provinsi Kepulauan Riau / Dewan Pengawas RSUD Kota Tanjungpinang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here