Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi dan Perbukuan Nasional
Saya tidak menulis semua itu untuk merasa paling tahu.Sebaliknya, semakin lama saya berada di jalan literasi, semakin saya menyadari betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Buku mengajarkan kerendahan hati.Setiap kali membaca buku yang bagus, saya seperti berdiri di hadapan sebuah rumah besar yang memiliki begitu banyak kamar. Baru satu pintu yang terbuka, masih ada puluhan pintu lain yang belum saya masuki.
Saya membuka diri lebar-lebar, kendatipun selama ini telah terbuka, namun di diskusi Book Party Maros, Minggu, 18 Oktober 2026 berlokasi di kafe Komoro Maros, saya kembali merenung diri. ADA jalan yang sejak awal tampak ramai oleh orang-orang yang berjalan di atasnya. Ada jalan yang dibangun dengan papan petunjuk, lampu, dan tujuan yang jelas. Ada pula jalan yang kita tempuh tanpa tahu persis ke mana ia akan membawa kita.
Jalan literasi bagi saya adalah jalan yang Indah.
Saya tidak pernah benar-benar merencanakan bahwa membaca dan menulis akan menjadi jalan hidup. Semuanya tumbuh perlahan. Dari buku-buku yang dibaca, tulisan-tulisan yang dibuat, pertemuan dengan orang-orang, percakapan di ruang-ruang kecil, perjalanan ke berbagai daerah, sampai kegelisahan melihat anak-anak tumbuh tanpa cukup buku di sekeliling mereka.
Dari sanalah saya semakin percaya: literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah cara manusia memahami dirinya, membaca lingkungannya, menyusun pikirannya, lalu mengambil bagian dalam kehidupan.
Buku ini lahir dari perjalanan itu.
Tulisan-tulisan di dalamnya bukan catatan seseorang yang berdiri jauh dari gelanggang. Sebagian besar tumbuh dari perjumpaan. Saya bertemu kepala daerah, guru, pustakawan, penulis, orang tua, mahasiswa, santri, anak-anak, pegiat komunitas, birokrat, politisi, ulama, santri, pengusaha dan banyak orang yang mungkin tidak pernah disebut dalam buku-buku besar, tetapi diam-diam bekerja menyalakan api literasi di tempat mereka masing-masing.
Saya belajar dari mereka.
Saya belajar bahwa sebuah gerakan tidak selalu dimulai dari gedung besar. Kadang ia dimulai dari sebuah rumah. Dari seorang ibu yang membacakan cerita kepada anak sebelum tidur. Dari ayah yang menyediakan rak buku sederhana. Dari guru yang menyisihkan waktu untuk menulis. Dari pustakawan yang membuka pintu perpustakaan dengan keyakinan bahwa akan ada anak yang datang mencari sesuatu yang belum diketahuinya.
Bahkan gerakan besar bisa bermula dari sebuah kamar tidur.
Di sanalah seorang anak pertama kali mendengar cerita. Di sanalah imajinasi tumbuh sebelum ia mengenal dunia yang lebih luas. Buku yang dibacakan orang tua mungkin hanya beberapa halaman. Namun, bagi seorang anak, beberapa halaman itu bisa menjadi pintu menuju dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saya sering membayangkan demikian: setiap buku yang dibacakan kepada seorang anak adalah sebuah jendela yang dibuka sedikit demi sedikit.Semakin banyak jendela terbuka, semakin luas dunia yang dapat dilihatnya.
Karena itu, saya menempatkan keluarga sebagai salah satu pintu utama gerakan literasi. Sekolah penting. Perpustakaan penting. Pemerintah penting. Komunitas penting. Namun, rumah adalah tempat semuanya bermula.
Dari rumah, kebiasaan membaca dapat tumbuh menjadi budaya.Dari budaya, lahirlah manusia yang terbiasa bertanya.Dari pertanyaan, lahirlah pengetahuan.Dan dari pengetahuan, masyarakat memiliki kemungkinan untuk bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.
Maros menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan saya.
Saya melihat bagaimana gagasan tentang literasi dicoba untuk dibawa keluar dari sekadar slogan. Membaca dan menulis ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas tentang pembangunan manusia. Ada upaya menghadirkan buku di rumah, sekolah, masjid, perpustakaan, desa, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Di sana saya menemukan satu hal penting: gerakan literasi membutuhkan ketekunan.
Tidak ada masyarakat yang tiba-tiba menjadi masyarakat pembaca. Tidak ada anak yang mendadak mencintai buku. Tidak ada daerah yang seketika berubah menjadi kawasan literasi.
Semuanya membutuhkan proses.
Hari ini mungkin hanya satu anak yang membaca. Besok dua anak.Lusa sepuluh.Lalu seratus. Dan suatu ketika, membaca tidak lagi dianggap sebagai kegiatan yang asing. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Begitu pula menulis. Menulis sering kali dimulai dari keberanian yang sederhana: berani menuangkan pikiran sendiri ke atas kertas. Berani membuat kalimat pertama. Berani membiarkan orang lain membaca apa yang kita pikirkan. Dari sana seseorang belajar bahwa gagasan memiliki martabat ketika dirawat dengan kata-kata.
Saya percaya, sebuah bangsa membutuhkan orang-orang yang membaca dengan tekun dan menulis dengan jujur.Bukan hanya penulis profesional. Guru perlu menulis. Pustakawan perlu menulis. Mahasiswa perlu menulis. Santri perlu menulis. Birokrat perlu menulis. Politisi perlu menulis. Orang tua pun, jika memiliki pengalaman yang dapat diwariskan, perlu menulis. Pengalaman yang tidak dicatat akan mudah hilang.
Orang-orang pergi. Jabatan berganti. Gedung berubah. Sebuah zaman berakhir. Tetapi tulisan dapat menjadi semacam jejak kaki yang tertinggal di jalan panjang sejarah.Itulah salah satu alasan saya terus menulis.
Saya tidak ingin semua yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami hilang bersama ingatan. Buku ini adalah sebagian dari usaha kecil itu. Di dalamnya terdapat catatan tentang Maros dan gerakan literasinya, tentang buku dan perubahan, tentang sekolah, kampus, pesantren, keluarga, perpustakaan, masjid, guru, pustakawan, penulis, komunitas, dan orang-orang yang memilih menjadikan literasi sebagai bagian dari perjuangan hidup.
Ada pula kegelisahan. Tentang buku bermutu yang belum mudah dijangkau. Tentang pembajakan, tentang penghargaan terhadap profesi penulis, tentang kebijakan perpustakaan, tentang etika literasi digital, juga tentang pentingnya menjaga budaya baca-tulis di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Saya tidak menulis semua itu untuk merasa paling tahu. Sebaliknya, semakin lama saya berada di jalan literasi, semakin saya menyadari betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Buku mengajarkan kerendahan hati.Setiap kali membaca buku yang bagus, saya seperti berdiri di hadapan sebuah rumah besar yang memiliki begitu banyak kamar. Baru satu pintu yang terbuka, masih ada puluhan pintu lain yang belum saya masuki.
Begitulah perjalanan literasi.Tidak pernah selesai. Dan, buku ini bukan titik akhir. Ia hanyalah satu persinggahan.
Saya ingin pembaca menemukan percakapan di dalamnya. Mungkin tidak semua gagasan akan disepakati. Tidak apa-apa. Sebuah buku yang baik tidak harus membuat semua orang berpikir sama. Ia justru seharusnya membuat kita berpikir lebih jauh.
Jika buku ini dapat membuat seorang ibu mengambil sebuah buku lalu membacakannya kepada anak sebelum tidur, saya sudah merasa tulisan-tulisan ini menemukan gunanya.
Jika seorang guru kemudian berani menulis buku pertamanya, saya merasa perjalanan ini tidak sia-sia. Jika seorang anak menemukan bahwa perpustakaan bukan tempat yang sunyi dan membosankan, tetapi tempat untuk menemukan dunia, saya merasa ada satu pintu yang berhasil kita buka.Jika seorang penulis muda tidak lagi takut memulai, saya merasa satu langkah telah dibuat.
Begitulah saya memahami literasi. Ia bukan perlombaan, bukan sekadar angka jumlah buku yang dibaca, bukan pula sekadar banyaknya kegiatan yang diselenggarakan.
Literasi adalah kebiasaan manusia untuk terus belajar, berpikir, bertanya, membaca keadaan, dan meninggalkan pengetahuan bagi orang lain.Mungkin itulah sebabnya saya tetap berada di jalan ini.
Jalan ini tidak selalu mudah. Kadang sunyi. Kadang melelahkan. Kadang gagasan yang kita perjuangkan tidak segera dipahami. Kadang buku yang kita tulis hanya dibaca oleh sedikit orang.
Namun, saya belajar dari para petani: sesuatu yang ditanam hari ini tidak selalu dapat dipanen besok.
Buku pun demikian. Kita menulis hari ini, tetapi mungkin manfaatnya baru dirasakan seseorang bertahun-tahun kemudian. Sebuah kalimat yang kita tulis sekarang mungkin menjadi kalimat yang menyelamatkan semangat seseorang pada suatu hari yang belum kita ketahui.
Maka saya memilih terus menulis.Terus membaca.Terus berjalan.Sebab saya percaya, peradaban tidak hanya dibangun dengan jalan raya, gedung tinggi, dan teknologi. Peradaban juga dibangun oleh manusia yang mampu membaca, berpikir, menulis, dan mewariskan pengetahuan.
jika suatu hari nanti saya ditanya apa yang telah saya lakukan sepanjang perjalanan hidup ini, mungkin saya tidak memiliki jawaban yang besar.
Saya hanya ingin mengatakan: Saya pernah berjalan di jalan literasi.Saya pernah memungut buku yang hampir dilupakan. Saya pernah menulis kata-kata yang mungkin sederhana. Saya pernah mengajak seorang anak membaca. Saya pernah duduk bersama guru, penulis, pustakawan, mahasiswa, santri, orang tua, dan pegiat literasi, lalu berbicara tentang masa depan.Saya pernah percaya bahwa sebuah buku dapat mengubah seseorang.Dan saya masih percaya sampai hari ini.
Barangkali itulah alasan buku ini diberi judul Literasi Jalan Hidupku. Sebab bagi saya, literasi bukan lagi sekadar kegiatan yang saya kerjakan. Ia telah menjadi jalan yang saya tempuh.
Dan selama masih ada halaman yang kosong, anak-anak yang membutuhkan buku, orang-orang yang ingin belajar, serta gagasan yang perlu dituliskan, saya ingin terus berjalan. Pelan-pelan. Setapak demi setapak.Dengan buku di tangan.Dengan kata-kata sebagai bekal.Dengan keyakinan bahwa apa yang kita tanam dalam dunia baca-tulis hari ini, suatu ketika akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.
Mungkin kita tidak akan sempat melihat seluruh pohonnya. Tidak apa-apa.Yang penting, kita pernah menanam.














