Saya Bukan Santri, Tapi Merasa Santri

0
33
- Advertisement -

Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi dan Perbukuan Nasional

Hari ini, Kamis, 22 Oktober 2026, hari yang membuat hati penulis berbahagia. Selain memperingati HSN( Hari Santri Nasional) juga merefleksi kisah 30 tahun lalu, disaat penulis menerima undangan Ceramah Jurnalistik di depan ratusan Santriwati Aliyah Ponpes DDI Mangkoso yang telah menamatkan pendidikannya. Sebagai Koordinator Kecamatan KKN Unhas di Tanete Angkatan 48, penulis segera meluncur ke DDI Mangkoso didampingi peserta KKN Unhas dari lintas Fakultas.

Kendati jauh sebelum KKN Unhas 48, penulis telah merajut hubungan emosional dengan institusi DDI Mangkoso karena rutin menulis, meliput dan hunting tentang DDI Mangkoso kapasitas penulis sebagai jurnalis Majalah Panji Masyarakat, 1990-1995.

Menariknya karena setamat SD, penulis gagal tercatat sebagai santri karena alasan ekonomi. Padahal penulis memiliki asa besar ingin menjadi santri yang pada akhirnya terdampar di SMP Negeri 10 Makassar.

Gagal menjadi santri, tapi penulis berhasil menggaet santriwati Ponpes DDI Mangkoso yang juga peserta Jurnalistik KKN Unhas Angkatan 48 yang diselenggarakan Ponpes DDI Mangkoso. Namanya, Ani Kaimuddin Mahmud, Santriwati Ponpes DDI Mangkoso, 1988-1995 adalah perempuan Bugis Barru kelahiran Buol Toli-Toli, 17 Mei 1976.

Selang waktu kemudian, perjuangan Ani Kaimuddin Mahmud sebagai alumni santriwati, kini dilanjutkan putra bungsunya, Farhan Alfarisi Kusuma, tercatat sebagai Santri Madrasah Tsanawiyah kampus Tonrongnge.

Sekira waktu 30 tahun lalu, kini penulis terus merawat hubungan emosional itu, dengan Anregurutta Prof.Dr.K.H.Muh.Faried Wadjedy, Lc.M.A. atas tangan dingin sahabat penulis, Ustaz Ahmad Rasyid A.Said, sejak 1990 hingga sekarang.

Di sisi lain, penulis bertemu Sang Bupati yang Santri, Dr.H.A.S.Chaidir Syam, Bupati Maros. Chaidir Syam adalah santri putra IMMIM yang sangat menghormati Ulama. Ia sangat respek dengan Gerakan Literasi yang telah bergerak di Maros sejak dilantik menjadi Bupati Maros periode pertama.

Terima kasih Bupati Maros Chaidir Syam yang begitu perhatian dengan Literasi Santri. Penulis bersama Dr.Hj.Samsidar Jamaluddin, Ahmad Takbir Abadi, Irham Bijaksana, Perpustakaan Maros dan AMTI Maros terus menggerakkan kesinambungan Gerakan Literasi Santri yang dipimpin Bupati Chaidir Syam.

Di Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2025, Kementerian Agama Kabupaten Maros menganugerahkan penghargaan kepada Bupati Chaidir Syam atas jasanya menggerakan dan mendukung Santri literasi di daerahnya.

Penulis bersyukur karena di HSN 2025 juga keciprat penghargaan Literasi Santri sebagai Mentor utama yang diserahkan Bupati Maros, Chaidir Syam di Lapangan Pallantikang, Kantor Bupati Maros.

Hari ini, bertepatan Hari Santri Nasional, Kamis 22 Oktober 2026, menerima kabar dari Sahabat Haji Mansur, S.Pd.M.A. Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, kalau pihak Kementerian Agama Provinsi Sultra memberikan Penghargaan kepada penulis sebagai Pelopor Gerakan Santri Literasi Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kabar baik dari Negeri Seberang ini, menambah adrenalin penulis terus bergerak. Kata sahabat penulis, Ustadz Mansur, penyerahan penghargaannya dirangkaikan Kemah Madrasah Provinsi Sulawesi Tenggara yang dipusatkan di Ponpes Al-Ikhlas yang didirikan Prof.Dr.K.H.Nasaruddin Umar, M.A. Kab.Buton, 11 November 2026.

Selamat Hari Santri Nasional…….

SHARE
Previous articleJalan Sunyi yang Saya Pilih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here