IWSS: PEREMPUAN SULAWESI SELATAN BERJIWA USAHAWAN, BERKIPRAH DI DALAM DAN LUAR NEGERI

0
28
- Advertisement -

PINISI.co.id- Sejak berabad-abad silam, masyarakat Sulawesi Selatan yang terdiri atas suku Bugis, Makassar, dan Toraja telah dikenal memiliki tradisi merantau. Dengan menggunakan perahu-perahu kayu yang tangguh menghadapi gelombang lautan, mereka mengarungi samudra, menjelajahi berbagai wilayah dunia, mulai dari Madagaskar, Asia Tenggara, hingga Eropa dan Amerika.

Sejumlah literatur dan catatan sejarah merekam perjalanan panjang masyarakat Sulawesi Selatan tersebut. Jejak perantauan mereka ditemukan di berbagai negara, antara lain Madagaskar, Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Myanmar, dan sejumlah negara lainnya. Sebagian catatan sejarah itu bahkan tersimpan dalam berbagai koleksi literatur di Belanda.

Tradisi merantau bukan sekadar perjalanan mencari penghidupan. Para perantau Sulawesi Selatan membawa semangat membangun kehidupan dan peradaban baru di tempat yang mereka datangi. Mereka hadir sebagai petani, nelayan, pedagang, dan pelaut yang turut mengembangkan kehidupan ekonomi serta sosial masyarakat setempat.

Jiwa petarung, keberanian, dan kemampuan beradaptasi menjadi karakter yang melekat pada masyarakat perantau Bugis, Makassar, dan Toraja. Dalam perjalanan sejarahnya, mereka tidak jarang menghadapi berbagai tantangan, konflik, bahkan peperangan di wilayah rantau.

Namun, semua itu tidak menghapus jejak keberadaan dan kontribusi mereka. Hingga kini, peninggalan sejarah serta keturunan para perantau tersebut masih dapat ditemukan di sejumlah negara.

Semangat merantau dan membangun kehidupan itulah yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk kaum perempuan Sulawesi Selatan yang kini tampil dalam berbagai bidang usaha, pendidikan, politik, teknologi, perbankan, serta kegiatan ekonomi berskala nasional dan internasional.

Semangat tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) IX Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 IWSS, Jumat (6/11/2026), di Hotel Sahid Sudirman, Jakarta.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 1.500 peserta dari 38 daerah itu menjadi momentum penting bagi perempuan Sulawesi Selatan untuk memperkuat persaudaraan, memperluas jaringan, serta meningkatkan kiprah dan kontribusi dalam pembangunan bangsa.

Selama ini, keturunan masyarakat Sulawesi Selatan telah menunjukkan prestasi di berbagai sektor. Mulai dari dunia usaha, teknologi informasi, perbankan, pendidikan, hingga industri makanan dan minuman dengan dukungan teknologi modern. Kiprah tersebut tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga semakin meluas ke mancanegara.

Dalam kesempatan Munas IX IWSS, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya memperkuat ketahanan pangan, energi, dan perkebunan sebagai sumber kekuatan ekonomi nasional. Ia mengingatkan agar pengelolaan sektor-sektor strategis tersebut terbebas dari praktik mafia dan korupsi yang berpotensi merugikan keuangan negara.

Amran juga menegaskan pentingnya mengakhiri ketergantungan Indonesia terhadap impor hasil pertanian, khususnya beras. Menurutnya, Indonesia memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri, bahkan pernah menjadi negara pemasok beras bagi sejumlah negara lain.

Pada kesempatan itu, Amran mengajak seluruh peserta Munas IX IWSS untuk bersilaturahmi di kediamannya pada Sabtu (7/11/2026) pukul 06.00 WIB. Ajakan tersebut disampaikan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum KKSS, sebagai bentuk upaya mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan warga Sulawesi Selatan di perantauan.

Rangkaian Munas IX IWSS juga diisi dengan berbagai diskusi dan talk show yang menghadirkan perempuan-perempuan sukses dari beragam latar belakang profesi. Di antaranya anggota DPR RI Nurwayah, Komisaris Bank Syariah Indonesia Felicitas Tallulembang, serta Erni Trisniarty, Founder dan Owner The Kakao.

Diskusi tersebut mengangkat pentingnya akar budaya sebagai bekal berkarya. Nilai-nilai budaya Bugis, Makassar, dan Toraja dinilai tetap relevan sebagai landasan membangun karakter, integritas, dan daya saing perempuan di tengah perubahan zaman.

Dalam pembahasan lainnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid Abbas mengungkapkan besarnya peran teknologi digital dalam membuka peluang bagi perempuan untuk berkembang dan meraih keberhasilan. Kemajuan teknologi komputerisasi dan perangkat komunikasi yang kini dapat digunakan dalam genggaman telah memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan bertukar informasi lintas negara tanpa batas.

Sementara itu, Andi Yuliani Paris mendorong perempuan untuk terus meningkatkan aktivitas dan kiprahnya di berbagai bidang. Ia menekankan pentingnya perjuangan yang berlandaskan integritas dan tanggung jawab kepada masyarakat. Dalam pengalaman politiknya, ia mengaku tidak membagi-bagikan amplop demi memperjuangkan kepentingan rakyat yang diwakilinya di DPR RI. Baginya, amanah sebagai wakil rakyat merupakan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Munas IX IWSS turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Sulawesi Selatan, antara lain Andi Jamarro Dulung bersama istri, Ketua Umum IWSS, Jafar Hapsa bersama istri, Opram Lamara bersama istri, Wahida Laomo, serta Jumiati, aktivis kepemudaan dari KAHMI. Kehadiran berbagai tokoh dan organisasi tersebut semakin menyemarakkan pelaksanaan Munas sekaligus perayaan HUT ke-49 IWSS.

Penyelenggaraan Munas IX dan HUT ke-49 IWSS menjadi bukti bahwa perempuan Sulawesi Selatan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Mereka tidak hanya menjaga warisan budaya dan tradisi leluhur, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun ekonomi, pendidikan, teknologi, dan kehidupan sosial.

Semangat Bugis, Makassar, dan Toraja yang sejak dahulu dikenal melalui keberanian mengarungi samudra dan membangun kehidupan di negeri rantau kini menemukan bentuk baru melalui kiprah perempuan di era digital dan globalisasi. Persatuan, kemandirian, dan semangat berkarya menjadi modal penting untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Bugis, Makassar, dan Toraja bersatu, memperkuat perempuan, membangun bangsa, dan menjaga keutuhan NKRI di era digital yang mendunia. (Murhan, R.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here