Anwar Hafid, Sekjen yang Selalu Dikenang oleh Staf Sekretariat KKSS

0
160
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Apa yang dikenang?

Dalam lontara pappaseng disebutkan konsep Tau Deceng Mappadeceng; orang baik yang berperilaku baik kepada sesamanya, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Nilai ini dipertegas dengan ungkapan Iya ada na gau: antara kata dan tindakan harus sejalan.

Begitulah lakon Anwar Hafid. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal BPP KKSS pada periode ketiga kepemimpinan Beddu Amang sebagai Ketua Umum, serta satu periode sebelumnya sebagai salah satu Ketua. Selama kurang lebih enam tahun pengabdian itu, Anwar Hafid yang saat itu juga menjabat Direktur pada Lembaga Perbankan Indonesia, aktif berinteraksi dengan warga, khususnya dengan staf Sekretariat KKSS.

Sebagai sekjen, Anwar Hafid meneruskam jabatan Ahmad Pawennei tiga periode Sekjend KKSS dari Ketua Umum Andi Oddek.

Saya yang diamanatkan sebagai Sekretaris Pelaksana sekaligus Kepala Rumah Tangga Sekretariat, banyak berinteraksi dengan beliau. Saya mengenal pribadinya secara dekat, termasuk hubungannya dengan anak-anak yang beraktivitas di sekretariat, baik sebagai tenaga fungsional maupun relawan partisipan yang berjumlah sekitar sepuluh orang.

Para staf fungsional ini mengelola administrasi dan Buletin KKSS. Di antaranya: Alif we Onggang, Aprial Hasfa, Erwin Kallo, Andi Hasan, Ahmad Tahir Rattu, Daeng Amin, Surya Dharma, Lasule, Nasar Simbong, Daeng Sakka (Purwasaka), Sumarni, dan Yani.

Perhatian Anwar Hafid terasa nyata, terutama menjelang bulan puasa dan Idulfitri, serta ketika staf atau warga berada dalam kondisi sulit atau sakit.

Saksi dan Penghubung

Hasbullah Ismail, Alif, dan Aprial menjadi saksi sekaligus penghubung. Ketiganya berperan sebagai juru bicara sekretariat, menyampaikan berbagai kesulitan internal maupun keadaan darurat warga kepada Sekretaris Jenderal dan Ketua Umum Beddu Amang.

Sekjen BPP KKSS A. Pawennei dan penerusnya Anwar Hafid.

Kehadiran mereka sungguh berarti seperti sebuah keluarga besar yang hidup dalam satu rasa, si ewai: saling menolong dan saling menguatkan.

Jejak Kepemimpinan Beddu Amang

Dalam masa kepemimpinan Beddu Amang selama sembilan tahun, banyak capaian penting yang terwujud. Mulai dari penguatan silaturahmi dan kekerabatan antarwarga, kepedulian terhadap korban bencana alam, pembangunan Yayasan Pendidikan Latimojong, hingga prakarsa bersama melahirkan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) sejak awal, yang berlanjut hingga PSBM ke-26 saat ini.

Kegiatan tersebut menjangkau berbagai daerah: Dili (Timor Leste), Kupang (NTT), serta wilayah Sulawesi Selatan seperti Makassar, Barru, Bone, Wajo dan Soppeng.

Ke Dili, Timor Leste, kami berempat —Anwar Hafid, Pawennei, Ny. Farida Tanti Abeng, dan saya mengunjungi warga dengan pengawalan keamanan.
Perjalanan dilanjutkan ke Kupang untuk melantik Sattar Taba beserta Pengurus Wilayah KKSS NTT. Saat itu, Sattar Taba menjabat sebagai Direktur PT Semen Kupang.

Pada kesempatan lain, di awal pelaksanaan PSBM, kami bertiga diutus oleh BPP KKSS ke Sulawesi Selatan. Kami menemui Gubernur Z.B. Palaguna serta para bupati dari tiga kabupaten guna mendata potensi unggulan dan komoditas wilayah masing-masing.

Sebelumnya, Pawenei bersama Beddu Amang dari KKSS bertemu dengan Jusuf Kalla dan Alwi Hamu dari Kadin Sulsel untuk mengagas PSBM di hotel Karya Jakarta.

Sebagaimana pesan leluhur yang disampaikan oleh Prof. Hafid Abbas:
Ininnawi ro dente sisappa sipudoko,
sirampe teppaja…

Artinya, harmoni dalam kehidupan, kita saling mencari dan saling membutuhkan dalam satu jiwa, si mellekeng: berempati kepada sesama.

SHARE
Previous articleYuk, Mari Melawan dengan Humor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here