Catatan Fiam Mustamin
Lahir 1 April 1965 di Soppeng dan wafat 31 Maret 2026 di Makassar, lalu dimakamkan di Jakarta pas hari ulang tahunnya.
Lakon itu diperankan oleh seorang aktor yang bernama Aprial Hasfa
Ia menghidupkan peran itu dalam realitas panggung kehidupannya.
Dari seorang yang bukan pemilik pengaruh kekuasaan dan dengan kemampuan materi yang terbatas.
Bagaimana bisa terjadi, dan siapa sutradara pemandunya?
Itulah sebuah rahasia karakter karena pammase/hidayah dari Sang Pencipta.
Peran yang dihidupkan dalam lakon itu adalah kepercayaan (teppe) yang dititipkan sebagai amanah untuk keluarga besarnya dan komunitas warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, keluarga besar Soppeng, dan Makassar Golf Club.

Selasa malam saya melakukan kontak video call dengan adik Salahuddin di rumah sakit Makassar. Nampak wajah almarhum pucat dan lelah.
Kepada adik Ichal (Salahuddin), saya berpesan untuk tidak meninggalkannya dan menyampaikan salam doa dari saya, Daeng, serta membawanya nanti ke Soppeng untuk ziarah kubur kedua orang tua.
Dua bulan ini kami intensif berkomunikasi, terutama tentang apa saja yang terkirim dari kampung yang terbagi kepada saya, yang diantarkan sendiri atau melalui putera sulungnya, Irfan.
Menjelang Lebaran, almarhum meminta rekening dengan merahasiakan siapa yang akan berbagi sedekah, yang kemudian saya ketahui dari kakak/Daeng Aji, Prof. Ja’far, pengayom kami di Jakarta.
Manja Sejak Kecil
Almarhum adalah putera keempat dari delapan bersaudara: Ahmar, Ratna, Haeruddin, Aprial, Salahuddin, Fuddin, Anggu, dan Hardiman.
Saya menjadi kakak anak angkat dari pasangan Hasanuddin Manna (Lambu) dan Fatimah Petta Bade.
Almarhum lahir saat saya masih sekolah di SMP Negeri 1 Watansoppeng.
Sampai umur dua tahun, ia sudah bicara patah-patah, meminta dibuatkan minuman teh: “ambun ten ntang…”, yang khusus kepada saya ia cari untuk membuatkannya.
Saat tamat SMP, saya ke Makassar dan Jakarta, dengan komunikasi yang terus terjalin dengan adik-adik, kedelapan bersaudara itu.
Saya menikah di kampung pada tahun 1991, dan almarhum yang sibuk mengurusi dokumentasi dan dekorasi, yang sebelumnya menjadi perwakilan Buletin KKSS bersama Kanar Gautawa. Buletin KKSS ini dikelola atas panduan Alif we Onggang dengan arahan wartawan senior Zaenal Bintang.
Ada video rekaman prosesi perkawinan adat saya di Tajuncu atas prakarsa almarhum.
Kepulangannya meninggalkan kenangan, sebuah legacy perilaku yang langka ditemukan saat ini.
Kepergianmu adalah tidur istirahatmu dari kelelahan jasadmu yang tak mengenal waktu.
Saatnya engkau, adekku, tidur lelap di sisi-Nya. Kami semua mendoakan, Allahumma Al-Fatihah. Aamiin.













