Dr. H. Alimuddin, S.H.M.H.M.Kn. Ketika Kepemimpinan Menjadi Modal Sosial Masyarakat

0
61
- Advertisement -

Oleh Herman Lilo

“Pemimpin sejati bukan sekadar nahkoda yang membawa kapal sampai tujuan, tetapi mampu melahirkan pelaut-pelaut baru yang kelak melanjutkan pelayaran.”
Buku Berlayar di Lautan Pengabdian bukan sekadar dokumentasi sepuluh tahun kepemimpinan Dr. H. Alimuddin di Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Turatea (KKT). Buku ini merupakan refleksi tentang bagaimana kepemimpinan, organisasi sosial, pendidikan, dan hukum bertemu dalam satu ruang pengabdian kepada masyarakat. Melalui metafora pelayaran yang kuat, penulis menggambarkan organisasi sebagai kapal besar yang hanya dapat bergerak apabila seluruh awak memiliki tujuan bersama dan dipimpin oleh nakhoda yang mampu membaca arah zaman.

Buku ini menguraikan bagaimana sebuah paguyuban berkembang dari sekadar wadah silaturahmi menjadi institusi sosial yang memiliki fungsi nyata bagi masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Émile Durkheim dari perspektif ilmu sosiologi bahwa organisasi merupakan bagian dari struktur sosial yang menjaga solidaritas. KKT tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya warga Turatea di perantauan, tetapi juga membangun solidaritas sosial melalui pendidikan, beasiswa, jaringan ekonomi, dan penguatan identitas budaya.

Solidaritas mekanik yang semula didasarkan pada kesamaan asal daerah kemudian berkembang menjadi solidaritas organik, yakni kerja sama yang lahir dari keberagaman profesi, keahlian, dan peran sosial para anggotanya.

Pada saat yang sama, buku ini juga memperlihatkan konsep modal sosial (social capital) sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu dan Robert Putnam. Kepercayaan, jejaring sosial, serta nilai gotong royong menjadi sumber kekuatan organisasi. Berulang kali penulis menegaskan bahwa keberhasilan KKT bukan semata karena struktur organisasi yang baik, melainkan karena tumbuhnya rasa saling percaya, loyalitas, dan komitmen kolektif. Dalam bahasa sosiologi, kepemimpinan Alimuddin berhasil mengubah jaringan sosial menjadi sumber daya yang menghasilkan manfaat bersama.

Buku ini menarik karena tidak memotret kepemimpinan sebagai praktik dominasi, melainkan sebagai proses membangun konsensus. Gagasan tersebut sejalan dengan teori Max Weber mengenai otoritas karismatik, yaitu kepemimpinan yang memperoleh legitimasi melalui keteladanan, integritas, dan pengabdian, bukan semata-mata karena jabatan formal. Berbagai kutipan dalam buku menunjukkan bahwa Alimuddin secara sadar menghindarkan KKT dari kepentingan politik praktis dan lebih memilih menjaga organisasi sebagai ruang kebudayaan dan persaudaraan. Sikap tersebut memperkuat legitimasi sosial kepemimpinannya karena anggota menerima kepemimpinan bukan akibat paksaan, tetapi karena adanya kepercayaan.

Selain itu, pendekatan kepemimpinan yang dibangun mencerminkan konsep servant leadership yang dikembangkan Robert K. Greenleaf. Pemimpin ditempatkan sebagai pelayan masyarakat yang mendahulukan kebutuhan anggota sebelum kepentingan pribadi. Hal itu tampak melalui perhatian besar terhadap pendidikan, pemberian beasiswa, pembinaan kader, dan pembangunan sumber daya manusia Turatea. Kepemimpinan dalam buku ini bukan dipahami sebagai akumulasi kekuasaan, melainkan investasi sosial jangka panjang.

Sebagai akademisi dan praktisi hukum, Alimuddin memandang hukum bukan sekadar kumpulan pasal, tetapi instrumen menghadirkan keadilan sosial. Cara pandang tersebut dekat dengan teori Roscoe Pound tentang law as a tool of social engineering, yakni hukum sebagai sarana rekayasa sosial untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Dalam praktik kepemimpinannya, hukum tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi diwujudkan melalui pelayanan publik, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan organisasi. Di sisi lain, pandangan ini juga selaras dengan pemikiran Eugen Ehrlich mengenai living law, bahwa hukum yang hidup adalah nilai-nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Buku ini menunjukkan bahwa nilai persaudaraan, keadilan, dan tanggung jawab sosial menjadi hukum sosial yang mengikat warga Turatea jauh melampaui aturan organisasi tertulis.
Salah satu tema sentral buku ini adalah pendidikan sebagai instrumen mobilitas sosial.

Penulis berulang kali menegaskan bahwa pendidikan merupakan jalan paling efektif memutus mata rantai kemiskinan dan membangun masa depan daerah. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, gagasan tersebut menunjukkan fungsi pendidikan sebagai agen perubahan sosial (agent of social change). Beasiswa bagi mahasiswa Turatea, penghargaan terhadap guru, dan perhatian terhadap pembangunan lembaga pendidikan merupakan bentuk investasi sosial yang berorientasi pada keberlanjutan pembangunan manusia.

Secara naratif, buku ini ditulis dengan bahasa yang reflektif, komunikatif, dan kaya metafora. Simbol laut, kapal, pelabuhan, dan nakhoda tidak hanya memperindah gaya bahasa, tetapi menjadi perangkat konseptual yang memperkuat pesan mengenai pentingnya arah, visi, dan ketangguhan dalam memimpin organisasi yang anggotanya sangat heterogen. Buku ini tidak memilih bentuk laporan kronologis, melainkan menghadirkan refleksi filosofis yang membuat pembaca memahami makna pengabdian di balik setiap kebijakan organisasi.

Sebagai karya refleksi, buku ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu mampu mendokumentasikan transformasi organisasi secara sistematis, memperlihatkan praktik kepemimpinan yang inklusif, mengintegrasikan pendidikan sebagai strategi pembangunan sosial, serta menghadirkan nilai-nilai moral yang relevan bagi organisasi kemasyarakatan. Namun demikian, sebagai sebuah resensi akademik perlu dicatat bahwa buku ini lebih banyak menonjolkan capaian kepemimpinan. Kajian akan menjadi lebih komprehensif apabila turut memuat dinamika internal organisasi, tantangan kelembagaan, maupun evaluasi kritis terhadap berbagai kebijakan selama satu dekade kepemimpinan.

Secara keseluruhan, Berlayar di Lautan Pengabdian layak dibaca bukan hanya oleh pengurus organisasi paguyuban, tetapi juga oleh akademisi, mahasiswa sosiologi, hukum, ilmu politik, dan administrasi publik. Buku ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan memperoleh legitimasi bukan dari kekuasaan, melainkan dari kemampuan membangun solidaritas, modal sosial, dan kepercayaan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah jabatan yang pernah dipegang, melainkan institusi sosial yang mampu terus hidup, kader-kader yang tumbuh, serta nilai-nilai pengabdian yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menjadi catatan sejarah sepuluh tahun perjalanan KKT, tetapi juga menjadi kajian empiris mengenai bagaimana kepemimpinan, hukum, dan solidaritas sosial dapat berpadu membentuk organisasi masyarakat yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Resensi Buku
Judul: Berlayar di Lautan Pengabdian: 10 Tahun Kerukunan Keluarga Turatea dalam Memori
Penulis: Dr. H. Alimuddin, S.H., M.H., M.Kn.
Editor : Bachtiar Adnan Kusuma
Penerbit: Yapensi, 2026
Tebal: xxii + 152 halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here