Mengungkap Kisah Kontroversi Baju Nabi Yusuf dan Pakaian Taqwa

0
143
- Advertisement -

Kolom Arfendi Arif

Cerita tentang pakaian dalam Al-Qur’an memiliki peristiwa historis. Ada nuansa atau peristiwa hukum di dalamnya berupa tindak kejahatan yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Buya Drs. Satriawan Tanjung dalam pengajiannya di IKB Jabodetabek (Minggu, 4/I0/2026) dengan topik Pakaian Terbaik melukiskan peristiwa yang dialami Nabi Yusuf dalam hubungannya dengan soal pakaian.

Seperti diketahui Yusuf adalah putera dari Nabi Ya’kub AS. Ada dua belas orang anak dari Nabi Ya’kub. Dua di antaranya adalah Yusuf dan Bunyamin yang bungsu. Karena didorong oleh rasa iri kepada Yusuf dan Bunyamin karena mendapat perhatian cinta yang lebih dari Ya’qub, para saudaranya merancang pembunuhan terhadap Yusuf. Namun, pembunuhan ini mengalami kegagalan.

Yusuf dicemplungkan ke dalam sebuah sumur, tetapi kemudian diselamatkan oleh para musafir dan menjualnya kepada raja Mesir dan isterinya Zulaikha yang memeliharanya.

Dari persoalan di atas dimulailah cerita tentang pakaian. Anak-anak Ya’qub yang membunuh Yusuf bercerita kepada Ya’kub untuk menutupi perbuatannya dengan menyatakan bahwa Yusuf telah meninggal karena diterkam serigala. Untuk membuktikan kebenaran kejadian tersebut mereka menunjukkan pakaian yang dipakai Yusuf yang telah berlumuran darah. Padahal darah tersebut hanyalah darah binatang yang dibunuh lalu dilumuri ke pakaian Yusuf.

Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat I8 disebutkan bahwa baju yang dipakai Yusuf adalah baju gamis atau qamiish. Disebutkan,” Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran darah) dengan darah palsu (bidamin kazib)”.

Menurut Buya Satriawan Tanjung, gamis adalah pakaian yang menutupi tubuh dari pundak sampai mata kaki. Dari peristiwa yang dialami Nabi Yusuf tersebut yang kejadiannya sebelum diangkat jadi Nabi, merupakan bukti pakaian pembohongan.” Baju Yusuf dibuka, dipotong kambing, lalu dilumuri darah kebohongan (bidamin kazib) dikatakan dimakan serigala,” jelasnya.

Kemudian kisah Yusuf berlanjut ketika ia dipelihara oleh Raja Mesir dan Zulaikha. Karena ketampanan dan kesempurnaannya, Zulaikha tertarik kepadanya sehingga menggodanya untuk melakukan perbuatan terlarang. Namun Yusuf menolak. Diungkapkan dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 23. “ Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata:” Marilah ke sini”. Yusuf berkata:” Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik,”.

Yusuf menolak ajakan perbuatan tidak baik tersebut sambil berlari ke arah pintu menghindar. Zulaikha mengejarnya sambil menarik bajunya yang dipunggung sehingga robek. Pada saat kejadian tersebut suami Zulaikha muncul dan Zulaikha langsung melaporkan dengan berdalih bahwa Yusuf bermaksud tidak baik kepadanya. Namun Yusuf membantah dengan mengatakan bahwa Zulaikha lah yang menggodanya dan bermaksud melakukan perbuatan terlarang. Karena terjadi saling membantah, muncullah seorang saksi dari pihak keluarga wanita itu, yaitu bayi dalam buaian yang atas izin Allah bisa berkata-kata. “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”( surat Yusuf ayat 26-27).

Ketika suami Zulaikha melihat baju Yusuf robek di belakang, suami itu sadar bahwa isterinya yang berbuat salah dan Yusuf adalah orang yang benar. Namun demikian Yusuf tetap dimasukkan ke dalam penjara.
Menurut Buya Satriawan Tanjung surat Yusuf ayat 27 perkataan kamishuhu kadda min dubur (robek dari arah belakang) adalah baju yang membela iffah atau kehormatan. “ Yusuf tidak menggoda, baju robek di belakang adalah robek arah kebenaran. Timbul fitnah karena istri raja menuduh Yusuf menggoda. Jadi ada pemutar balikan fakta, namun anak bayi bersaksi jika robek di belakang maka istri raja yang salah,” terangnya.

Selanjutnya kisah baju gamis Yusuf berlanjut ketika ia menjadi bendaharawan atau pengelola keuangan di negara Mesir. Ia ditarik ke kerajaan karena kemampuannya memprediksi masa depan berawal dari mimpi sang raja yang diramalkan akan tiba musim panceklik.

Yusuf memberikan masukan bagaimana menghadapi musim yuang sulit tersebut. Dan, ia berhasil mengatasi kesulitan tersebut sehingga rakyatnya tidak menderita.

Pada saat masa kesulitan tersebut saudara Yusuf sempat menemui Yusuf di Mesir. Setelah saling mengetahui bahwa Bendahara Kerajaan Mesir tesebut adalah Yusuf yang dulu pernah dicemplungkannya ke dalam sumur, mereka menyadari kesalahannya dan minta maaf. Yusuf selanjutnya meminta mereka membawa saudaranya Bunyamin dan ayahnya Ya’qub untuk datang menemuinya ke Mesir. Yusuf kemudian menitipkan baju gamisnya untuk diusapkan ke mata ayahnya, sehingga ayahnya kembali pulih penglihatanya setelah mengalami kebutaan sejak ditinggalkan Yusuf.

Menurut Buya Satriawan Tanjung, baju gamis yang dikirimkan oleh Yusuf tersebut untuk Yaqub adalah baju kebaikan. “ Kunci pakaian ini adalah pakaian sabar dan iman. Setelah puluhan tahun berduka pakaian itu membawa berkah,” ungkapnya.

Seterusnya masih ada soal pakaian yang diungkapkan dalam Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 26.” Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian Taqwa itulah yang paling baik” .

Buya Satriawan menjelaskan, berdasarkan ayat di atas ada 3 jenis pakaian. Yaitu pakaian untuk menutupi tubuh, pakaian untuk perhiasan, dan pakaian Taqwa.
“ Libasut taqwa (pakaian taqwa) itulah yang terbaik. Bagaimana menilai pakaian Taqwa, yaitu orang yang berhati-hati dan menjauhi larangan Allah. Pakaian Taqwa bisa dilihat dari tindak tanduk dari akhlaknya seseorang,” pungkas Buya Satriawan.

Sementara itu Ketua IKB Jabodetabek, Dr. M. Luthfie Hakim menambahkan,pakaian itu ada 3 macam, yaitu pakaian fungsional, yaitu pakaian untuk menutup aurat. Kedua, pakaian perhiasan, yang sekiranya cocok untuk dipandang dan dilihat, dan ketiga yang disebutkan dalam Al-Qur’an yakni Pakaian Taqwa.

“ Pakaian Taqwa yaitu yang ada bekasnya dalam perilaku,” tegas pakar hukum ini.
Tentu saja bekasnya pada perilaku yang terpuji, akhklak yang baik,serta perilaku yang disukai Allah. Semoga pakaian taqwa ini menjadi milik setiap warga IKB. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here