Merawat persaudaraan, menertawakan usia, dan merayakan waktu yang masih tersisa
PINISI.co.id- Indonesia telah memasuki era penuaan populasi. Jumlah warga berusia 60 tahun ke atas telah mencapai sekitar 34 juta jiwa. Sebagian Alumni PPSP DAJ, tercakup dalam usia ini.
Seperti matahari yang bergegas condong ke barat, waktu pun bergerak menuju peraduannya. Usia terus bertambah, tenaga tidak lagi seperti dahulu, sementara kenangan justru semakin panjang dan berlapis-lapis.
Gambaran itu terasa dekat dengan para alumni PPSP Ujungpandang yang tergabung dalam DAJ Jabodetabek dan Bandung. Mereka yang dahulu aktif dan sibuk dengan urusan pekerjaan, kini sebagian telah purnabakti, sebagian memasuki masa pensiun, dan sejumlah lainnya masih berkegiatan kantor.
Justru ketika kesibukan pekerjaan mulai berkurang, kebutuhan untuk bertemu dengan sahabat lama terasa semakin besar. Dan ini hanya dimengerti oleh sesama alumni, dan kepada kenangan yang tak mungkin diulang, tetapi selalu bisa dihidupkan kembali salam setiap pertemuan silaturahim.
Karena itu, silaturahim DAJ semacam oase di tengah perjalanan usia. Lagi pula, dalam perjumpaan semacam ini juga memiliki arti penting. Hubungan sosial yang positif dapat membantu menjaga kesehatan mental, mengurangi rasa kesepian, meredakan kecemasan, serta menghadirkan ketenangan batin.
Suasana itulah yang terasa dalam pertemuan alumni DAJ di kawasan Telaga Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada 18–19 Oktober. Selama dua hari, Telaga ini menjadi ruang perjumpaan yang hangat, dipenuhi tawa, cerita, canda, dan percakapan yang seolah tak mengenal waktu.

Pemilihan hari Senin bukan tanpa alasan. Sebagian alumni sudah pensiun sehingga lebih leluasa mengatur waktu. Sementara itu, beberapa yang masih aktif bekerja tetap menyempatkan diri hadir, meskipun hanya sebentar, sebelum kembali ke kantor pada Senin pagi.
Bagi mereka, kehadiran tidak selalu harus utuh selama dua hari. Yang penting bisa bergabung, bertemu, berjabat tangan, bertukar kabar, dan merasakan kembali suasana kebersamaan.
Ketua panitia, Hamid Toya, bersama seluruh pasukannya, memaknai kegiatan tersebut sebagai ungkapan kasih, sayang, dan cinta di antara alumni serta keluarga besar PPSP DAJ.
Ungkapan itu terdengar klise, tetapi mengandung makna yang dalam. Setelah puluhan tahun menjalani kehidupan masing-masing, ikatan persaudaraan tak ingin dibiarkan pudar.
Sesungguhnya, pertemuan tersebut sempat direncanakan sekaligus menjadi momentum pemilihan Ketua DAJ yang baru. Ikhsan Gaffar telah cukup lama memegang kepemimpinan, sehingga muncul pemikiran untuk melakukan regenerasi, terutama dengan memberi kesempatan kepada anggota yang lebih muda.
Namun, rupanya dalam pertemuan kali ini, urusan pergantian kepemimpinan tidak terlalu menyita perhatian.
Mereka tampak lebih tertarik menikmati kesempatan yang mungkin tidak datang setiap hari: duduk bersama, bercengkerama, membicarakan banyak hal, dan menertawakan pengalaman masa lalu.
Obrolan pun mengalir ke mana-mana. Dari cerita keluarga, pekerjaan, dan pengalaman hidup, berlanjut ke urusan dapur dan kasur, kemudian melompat ke politik, ekonomi, dan berbagai persoalan yang sedang hangat dibicarakan.
Semua berjalan secara alamiah, ngalor-ngidul, kadang serius, kadang melantur, sesekali saling menyela, lalu pecah dalam tawa bersama. Topik pembicaraan tidak harus penting bagi orang lain, tetapi menjadi sangat menarik bagi mereka yang memiliki sejarah bersama.
Ada kisah yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang pernah mengalami masa yang sama. Ada lelucon yang mungkin terdengar biasa bagi orang luar, tetapi mampu membuat satu kelompok tertawa terbahak-bahak karena mereka mengetahui cerita di baliknya.

Percakapan yang dimulai sore hari bisa berlangsung hingga malam, bahkan melewati pergantian hari. Seakan-akan mereka sedang berusaha membayar utang pertemuan yang tertunda selama bertahun-tahun.
Meski Telaga Sentul menawarkan lanskap yang menarik: kolam renang, tempat memancing, perahu, dan berbagai arena permainan yang semestinya bisa menjadi daya tarik tersendiri. Namun, bagi sebagian alumni DAJ, semua fasilitas itu justru lebih banyak menjadi latar daripada tujuan utama.
Bertambah usia, semakin disadari bahwa tidak semua orang yang pernah bersama kita dahulu akan selalu bisa hadir pada pertemuan berikutnya.
Ketua DAJ, Ikhsan Gaffar, tampaknya memahami benar suasana tersebut. Ia memberi ruang kepada anggota untuk berkreasi sesuka hati. Siapa yang ingin menyanyi, silakan. Yang ingin berjoget, jogetlah. Siapa yang ingin tampil dengan bakat terpendamnya, panggung terbuka lebar. Di lingkungan DAJ, semua itu bisa dilepaskan tanpa beban.
Dalam suasana seperti ini, Ikhsan justru lebih banyak berbicara tentang rencana liburan berikutnya. Ia ingin pertemuan mendatang lebih seru, lebih berkesan, dan meninggalkan kenangan yang bisa terus diceritakan.
Kegembiraan lainnya, panitia juga menyelenggarakan sejumlah pertandingan ringan. Jenis permainan dipilih dengan mempertimbangkan usia peserta. Tidak perlu pertandingan yang terlalu menguras tenaga, apalagi aktivitas yang berisiko menimbulkan benturan fisik atau membuat peserta terjatuh. Yang dicari bukan semata-mata kemenangan, melainkan kegembiraan. Tentu lutut tidak selalu sekuat dahulu dan napas mungkin lebih cepat terengah. Namun, justru di situlah letak kelucuannya.
Setelah bercengkerama, bernyanyi, dan bermain, ada satu hal yang selalu ditunggu dalam setiap pertemuan: kuliner. Dalam sebuah pertemuan, kuliner juga menjadi penghubung dengan kampung halaman, tradisi keluarga, dan ingatan masa lalu.
Hidangan yang tersaji menghadirkan kekayaan rasa tradisional yang autentik. Ada bayao pannyu, tai minnyak, songkolo, serta ikan tongkol bau peapi khas Mandar.
Nama-nama itu mungkin belum akrab bagi sebagian orang di luar lingkungan budaya asalnya. Padahal, di balik setiap sajian tersimpan tradisi, pengetahuan tentang bahan pangan, teknik memasak, dan selera yang diwariskan lintas generasi.
Tidak mengherankan jika urusan makanan menjadi bagian penting dari pertemuan. Di meja makan, percakapan biasanya menemukan jalannya sendiri. Satu orang bercerita tentang makanan kesukaannya, yang lain mengenang masakan ibu, sementara yang lain lagi membandingkan cita rasa antardaerah.
Barangkali, kekayaan kuliner semacam ini juga belum sepenuhnya memperoleh tempat yang sepadan dalam khazanah gastronomi nasional. Padahal, setiap makanan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang patut diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Pada intinya para alumni DAJ telah melewati masa lalu. Ketika acara usai, mereka kembali ke rumah dengan kenyataan hidup masing-masing. Mereka ingin menua bersama, hingga kelak tiba helaan napas terakhir. (Alif)













