Catatan Amiruddin Ph.d.
Berkunjung ke Brunei Darussalam belum lengkap tanpa menyambangi Kampong Ayer, permukiman tradisional yang berdiri di atas Sungai Brunei dan berhadapan langsung dengan Bandar Seri Begawan. Kawasan yang dijuluki sebagai “Venice of the East” atau “Venesia dari Timur” ini menjadi salah satu ikon sejarah dan kebudayaan paling penting di negeri tersebut.
Kampong Ayer diyakini telah berdiri lebih dari seribu tahun lalu. Permukiman ini menjadi pusat kehidupan masyarakat sekaligus cikal bakal lahirnya Kesultanan Brunei pada abad ke-14, terutama pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah. Pada masa kejayaan Kesultanan Brunei, kawasan ini berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan yang ramai disinggahi para pedagang dari China, Arab, hingga Eropa melalui jalur Sungai Brunei.
Keunikan Kampong Ayer juga pernah diabadikan oleh penjelajah Italia, Antonio Pigafetta, yang mengikuti ekspedisi Ferdinand Magellan pada tahun 1521. Dalam catatannya, ia menggambarkan sebuah kota besar yang dibangun di atas air dengan rumah-rumah kayu yang tertata rapi. Gambaran itulah yang kemudian melahirkan julukan “Venice of the East” yang masih melekat hingga kini.
Memasuki era modern, sebagian penduduk memang telah berpindah ke daratan, terutama sejak masa administrasi Inggris hingga setelah Brunei merdeka. Namun, Kampong Ayer tetap menjadi rumah bagi ribuan warga yang mempertahankan tradisi hidup di atas air.
Menariknya, kawasan ini telah dilengkapi berbagai fasilitas modern, mulai dari jaringan listrik, air bersih, sekolah umum dan sekolah agama, masjid, balai polisi, balai pemadam kebakaran, klinik kesehatan, hingga layanan taksi air yang menjadi sarana transportasi utama masyarakat.
Bagi Brunei Darussalam, Kampong Ayer bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan simbol lahirnya peradaban bangsa, identitas budaya Melayu Brunei, sekaligus salah satu destinasi wisata paling terkenal di negara itu. Hingga kini, Kampong Ayer juga diakui sebagai salah satu permukiman di atas air terbesar dan tertua di dunia yang masih dihuni.
Dalam kunjungan tersebut, informasi mengenai sejarah dan perkembangan Kampong Ayer disampaikan oleh Mr. Tansur, putra kelahiran Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang kini bermukim di Brunei Darussalam.














