Kolom Fiam Mustamin
Siapa dan Mengapa Tokoh Ini?
Saya akan menarasikan sosok Prof. Ahmad Sanusi melalui interaksi personal sebagai sesama aktivis pergerakan, terutama dalam komunitas Pelajar dan Mahasiswa Sulawesi Selatan/IKAMI Sulsel pada rentang 1976–1988. Kemudian, hubungan itu berlanjut dalam komunitas paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) pada dekade 1990-an.
Ada ikatan personal yang lebih dalam: kami berasal dari sekampung, dari tanah leluhur Soppeng. Ikatan tanah leluhur inilah yang membuat saya mencoba memahami Ahmad bukan semata-mata sebagai seorang tokoh organisasi, melainkan juga melalui sisi emosional dan genetika budaya yang membentuk karakternya.
Dari sana saya menemukan penguatan tentang mengapa Ahmad tumbuh menjadi seorang aktivis pergerakan ketika menjalani masa mahasiswa di Universitas Jayabaya, aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta, serta Ikatan Pelajar Mahasiswa Sulawesi Selatan (IKAMI Sulsel) Jakarta.
Sebutan aktivis pergerakan sesungguhnya merupakan perwujudan dari nawanawa—istilah orang Bugis untuk menggambarkan olah pikir, gagasan, cita-cita, dan kesadaran batin. Nawanawa tidak berhenti sebagai pikiran. Ia harus diwujudkan menjadi tindakan.
Karena itu, seorang aktivis pergerakan adalah orang yang berani menyuarakan sesuatu yang diyakininya benar, mengkritisi keadaan, dan berusaha menghadirkan perubahan bagi kehidupan yang lebih baik dan maslahat.
Waris Emosional dan Genetika Leluhur
Waris emosional dan genetika budaya itu pula yang saya coba baca dari sosok Ahmad.
Namanya, Ahmad, adalah nama yang memiliki dimensi spiritual. Dalam khazanah tasawuf Bugis, nama dan makna sering kali dipahami tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan batin manusia dalam menemukan makna pengabdiannya.
Ahmad melewati masa kecil dan sekolahnya di Kota Parepare, sebuah wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan laut.
Di satu sisi, ia membawa warisan leluhur dari Soppeng—alam agraris, lembah pertanian, dan pegunungan. Di sisi lain, masa kecilnya di Parepare memperkenalkannya kepada alam maritim, pesisir, dan laut. Dua lanskap kehidupan itu seakan bertemu dalam dirinya. Soppeng memberikan akar. Parepare memberikan cakrawala.
Dari perpaduan itulah nawanawa Ahmad terbentuk: berpijak pada tanah leluhur, tetapi memiliki pandangan yang terbuka terhadap dunia yang lebih luas.
Pergerakan Lintas Masa
Perjalanan Ahmad kemudian berlanjut dalam kehidupan pengabdian sosial kemasyarakatan dan profesional.
Terbilang sekitar dua puluh tahun, Ahmad menjalani kehidupan dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, antara lain Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan dan organisasi alumni almamater Universitas Jayabaya.
Di lingkungan profesi, kiprahnya juga hadir dalam berbagai komunitas, seperti bidang teknik, HIPMI, KADIN, REI, Himpunan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta berbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan lainnya di DKI Jakarta.
Kehadiran Ahmad di setiap komunitas organisasi itu bukan sekadar untuk memenuhi struktur kepengurusan. Ia hadir dengan membawa dinamika dan semangat untuk menghidupkan komunitas tersebut.
Ahmad seperti memiliki kemampuan untuk menyalurkan energi kehidupan kepada lingkungan di mana ia berada.
Itulah spirit yang saya temukan dalam dirinya: setia kawan, menyenangkan, mudah bergaul, dan tidak banyak mengeluh.
Dalam khazanah Lontarak Bugis, semangat kehidupan seperti itu dapat didekatkan dengan konsep sumange—energi batin yang menghidupkan manusia, membangkitkan keberanian, keteguhan, dan daya juang.
Karena itu, Ahmad bagi saya bukan hanya seorang aktivis organisasi. Ia adalah simbol dinamika kehidupan dalam komunitas yang dimasukinya.
Trah To Panrita
Di balik penampilan Ahmad yang sederhana, terdapat pula latar leluhur yang tidak sederhana.
Ahmad merupakan bagian dari wija atau trah To Panrita, yang dalam tradisi masyarakat Bugis merujuk pada garis keturunan orang berilmu, ulama, atau tokoh yang memiliki kedalaman pengetahuan dan kehidupan keagamaan.
Ia disebut memiliki hubungan leluhur dengan KH. Daud Ismail dari Soppeng.
Mungkin dari sanalah kita dapat memahami mengapa sosok Ahmad, meskipun tampil sederhana, selalu diharapkan kehadirannya dalam berbagai lingkungan.
Ada sesuatu yang dibawanya.
Bukan sekadar jabatan. Bukan pula sekadar nama. Tetapi kehadiran.
Ia datang dengan pikiran, gagasan, perhatian, dan semangat untuk ikut mengambil bagian.
Nawanawa yang menjadi amal. Dalam kehidupan, tidak semua kebaikan harus selalu hadir dalam bentuk materi.
Ada pikiran yang belum menjadi kenyataan, tetapi sudah memberi manfaat.
Ada gagasan yang belum menjadi program, tetapi telah menggerakkan orang lain.
Ada niat yang belum sempat diwujudkan, tetapi sudah menjadi bagian dari doa dan ikhtiar.
Ahmad berada dalam ruang itu.
Apa yang ia nawanawai—apa yang dipikirkan dan direnungkan dalam hati—sering kali telah dibagikan kepada lingkungan sekitarnya, meskipun belum semuanya menjelma menjadi sesuatu yang bersifat material.
Di sinilah saya melihat makna pengabdian seorang aktivis pergerakan.
Ia tidak selalu bertanya, “Apa yang saya dapat?”
Tetapi lebih dahulu bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan?”
Barangkali inilah yang membuat kehadiran Ahmad selalu dinantikan.
Ibarat salat sunah dua rakaat sebelum Subuh, sebuah amalan yang sederhana secara lahiriah, tetapi memiliki nilai yang begitu besar di sisi Allah.
Begitu pula manusia dalam kehidupan sosial. Tidak selalu harus melakukan sesuatu yang besar untuk memberikan arti. Kadang-kadang, pikiran yang baik, niat yang tulus, kehadiran yang menyenangkan, dan kesediaan untuk membantu sudah menjadi bagian dari pengabdian.
Subhanallah.
Betapa pentingnya kita terus berdoa dan berikhtiar.
Sebab pada akhirnya, nawanawa yang baik harus bertemu dengan amal; gagasan harus bertemu dengan tindakan; dan niat harus menemukan jalan pengabdian.
Di situlah saya membaca sosok Prof. Ahmad Sanusi: seorang aktivis pergerakan yang melintasi masa, tetap bergerak, tetap hadir, dan tetap menghidupkan komunitas yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.













