Prof. Dr. Halide, Cendekiawan Pejuang Ekonomi Syariah Yang Membumi

0
321
- Advertisement -

Kolom  M. Fuad Nasar

Setiap kunjungan ke Makassar pikiran saya langsung ingat Guru Besar Universitas Hasanuddin Prof. Dr. H. Halide, seorang ekonom senior dan pejuang ekonomi syariah yang sederhana dan disegani. Sabtu 29 Ramadhan 1446 H/29 Maret 2025 pukul 13.42 WITA (Waktu Indonesia Bagian Tengah) Pak Halide telah berpulang menghadap sang Khaliq, Allah Swt, di RS Unhas Makassar. Ia wafat dalam usia 88 tahun menyusul istrinya Ibu Hj. Maria Halide yang berpulang dua tahun lalu juga dalam bulan Ramadhan.

Perjumpaan terakhir dengan Pak Halide sekitar lima tahun yang lalu ketika saya ke Makassar. Pagi hari itu setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin saya mampir lebih dahulu di kediaman Pak Halide. Tokoh senior itu senang dikunjungi dan memberi ole-ole kue khas Makassar untuk dibawa esok harinya ke Jakarta. Kenangan terakhir sisi humanis almarhum takkan terlupakan betapa Pak Halide menghargai silaturahmi. Saya menghadiahkan untuk beliau buku Zakat Di Ranah Agama dan Negara.

Dalam dekade 2000-an saya mengenal cukup banyak pengurus Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA). Sepanjang kurun waktu tersebut kami dari Kementerian Agama dan BAZNAS mensosialisasikan tata kelola zakat sesuai Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Rangkaian kegiatan diadakan di Jakarta dan di ibukota provinsi seluruh Indonesia. Penggiat zakat di daerah yang berkesan salah satunya Prof. Dr. Halide di Sulawesi Selatan. Keramahannya tidak membedakan orang yang sudah lama kenal maupun yang baru kenal.

Halide bin Baco lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, pada 29 September 1936. Semasa remaja memasuki organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di daerah kelahirannya. Setelah menjadi mahasiswa bergabung dalam organisasi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makassar. Ditakdirkan lahir dan besar sebagai putra daerah, di Sulawesi Selatan, namun memiliki koneksitas intelektual dan lingkaran persahabatan dengan tokoh-tokoh nasional di Jakarta.

Tokoh Indonesia yang dikaguminya, antara lain: Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, Jenderal Soeharto, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Hadji Agus Salim, dan Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Bung Hatta pernah menjadi dosen tamu di Universitas Hasanuddin Makassar mengajar ilmu ekonomi. Halide punya kenangan tersendiri tentang Wakil Presiden Pertama. Bung Hatta membimbingnya menulis karya ilmiah, “The Role Zakat in Indonesia Political Economy. Seingat Halide, Bung Hatta menganjurkan agar menguasai pemikiran Adam Smith, J.M. Keynes, Karl Marx dan lain-lain kalau ingin diakui sebagai ekonom.

- Advertisement -

Halide menamatkan pendidikan sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin dan Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil program studi ekonomi pertanian. Ia meneliti dan menulis disertasi S3 tentang pemanfaatan waktu luang rumah tangga petani di daerah aliran sungai Jeneberang, Sulawesi Selatan. Ia konon juga menekuni bidang ekonometrika. Halide dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar.

Dalam dekade 1970-an hingga 1980-an, ia sering mengisi ceramah agama di Makassar sehingga dikenal sebagai mubaligh. Ceramahnya di Masjid Raya Makassar disiarkan melalui RRI Nusantara IV Makassar. Halide pernah menyampaikan Khutbah Hari Raya Idul Fitri di Masjid Istiqlal Jakarta. Prof. Dr. Ir. Ing B.J. Habibie meminta Prof. Halide membantu mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) di Makassar dan merintis ICMI cabang Timur Tengah.

Sebagai akademisi, ia pernah menjadi Direktur Muda University Extension Education Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967 -1968), Pembantu Rektor Unhas (1968 – 1969), Kepala Laboratorium Statistik Fakultas Ekonomi Unhas (1971 – 1977), Koordinator Konsultan Lembaga Manajemen Unhas (1973 – 1977) dan Ketua Dewan Guru Besar Unhas. Di tingkat provinsi, ia dipercaya sebagai Tim Ahli Kamar Dagang dan Industri Daerah Sulawesi Selatan (1973 – 1977) dan menjadi Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan tahun 2010-an.

Di mata kolega akademik dan kalangan mahasiwa FEB Universitas Hasanuddin, Halide bukan hanya seorang pengajar, tetapi mentor yang menghubungkan teori dengan praktik. Kegiatan-kegiatan diskusi mahasiswa sering dihadirinya. Ia sangat menghargai waktu sebagai bentuk penghargaan kepada orang lain. Bahkan, satu ketika, menyangkut disiplin waktu, sebagai orangtua ia pernah menegur pejabat yang terlambat hadir sehingga acara mengalami keterlambatan beberapa jam.

Selain di Unhas, ia memberikan pengabdiannya di perguruan tinggi swasta sebagai Rektor Pertama Universitas Fajar di Makassar. Dalam pengabdiannya di usia lanjut, Halide diminta menjadi anggota Dewan Pakar Pesantren Modern Shofwatul Isad di Pangkajene, Sulawesi Selatan.
Sejak muda ia mencari pengalaman hidup dalam interaksi dengan tokoh-tokoh besar, antara lain Mohammad Natsir, tokoh muslim internasional dan mantan Perdana Menteri RI. Sewaktu kuliah pascasarjana di IPB Bogor, ia kerap mengikuti Mohammad Natsir bila menjadi khatib dan menyampaikan ceramah. Setelah diangkat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh, Saudi Arabia, Halide diberi tahu oleh temannya pejabat tinggi Arab Saudi bahwa ada tiga orang Indonesia yang sangat dihormati oleh Kerajaan Saudi Arabia, yaitu Mohammad Natsir, Jenderal M. Jusuf, dan Prof. Dr. B.J. Habibie.

Konperensi Ekonomi Islam di Makkah
Dalam buku Antara Dawah dan Politik: Ragam Pendapat Tentang Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (Penyunting Mohammad Noer dan Lukman Hakiem, 2018), Halide menulis testimoni, Amanah Pak Natsir Kepada Saya,” antara lain untuk membina kader-kader dakwah dan membangun masjid di kampus Universitas Hasanuddin.

Selain itu ia diamanahi tugas untuk menghadiri The First International Conference on Islamic Economic di Makkah pada 21 26 Februari 1976/21 26 Safar 1396 H. Saat itu Mohammad Natsir mengutus lima cendekiawan muda, A.M. Saefuddin, Bakir Hasan, Ismail Suny, Muhammad Arsyad, Halide, dan Nursal, sebagai wakil Indonesia dalam konperensi tersebut. Konperensi Internasional Ekonomi Islam di Makkah tahun 1976 diadakan tiga tahun setelah berdirinya Islamic Development Bank (IDB) sesuai deklarasi Conference of Finance Ministry of Muslim Countries, Desember 1973/Dzulqaidah 1393 H.

Halide mencatat lembaga keuangan internasional IDB diresmikan pada tanggal 20 Oktober 1975/15 Syawal 1395 H. IDB diharapkan dapat bersaing dengan IMF (International Monetary Fund) dan World Bank (Bank Dunia) yang bekerja atas dasar bunga (interest). Saat itu IDB meminta kepada King Abdul Aziz University di Jeddah agar mengundang ulama dan ahli ekonomi Islam dari berbagai negara untuk menyusun kebijakan operasional IDB berlandaskan prinsip-prinsip Islam.
Setelah konperensi pertama ekonomi Islam di Makkah (1976), Halide kembali diutus mewakili delegasi Indonesia menghadiri pertemuan International Seminar on the Monetary and Fiscal Economic pada International Research and Islamic Economic King Abdul Aziz University Jeddah tanggal 7 12 Oktober 1978 dan Konperensi Perumusan Ekonomi Islam yang diadakan di Islamabad.
Dalam konperensi di Pakistan, Halide mendiskusikan rumusan Islamic Economic Materialisme/Secularisme Islamic Norms. Ia melaporkan hasil pertemuan di Islamabad kepada Mohammad Natsir dan Dr. Anwar Harjono, SH. Kedua tokoh itu memintanya agar mensosialisasikan ekonomi syariah ke universitas-universitas di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, dan lain-lain.

Salah satu langkah strategis pengembangan sistem ekonomi syariah yang melibatkan para ahli dan pemangku kebijakan adalah melalui pertemuan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) di Jakarta. Pertemuan tersebut melahirkan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) tanggal 4 Maret 2004. Halide juga membersamai para penggiat ekonomi syariah di Jakarta ketika mendirikan perkumpulan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) pada 26 Maret 2001.

Pengabdian dan dedikasi Halide dalam pengembangan ekonomi syariah memiliki dampak mengesankan khususnya di Kawasan Timur Indonesia. Tahun 2010 Halide memperoleh penghargaan sebagai tokoh yang memiliki komitmen dan perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi syariah dari perkumpulan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mewakili akademisi regional Indonesia Bagian Timur. Pada tahun 2012 menerima penghargaan Best Economist Syariah Awards versi majalah Investor di Jakarta.
Pandangan Ekonomi Syariah

Menurut Halide, ekonomi syariah atau ekonomi Islam ialah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al-Quran dan Sunnah. Pendekatan Islam dalam masalah ekonomi berbeda dibanding pendekatan kebijakan ekonomi yang berasal dari Barat. Kebijakan ekonomi Barat berdasarkan atas perhitungan meterialistik yang sedikit sekali memasukkan pertimbangan moral agama sebagaimana ekonomi syariah.
Dalam pandangan Halide, ekonomi syariah menarik dikaji sekurangnya karena dua hal ialah:

Pertama, ekonomi syariah diharapkan dapat memecahkan problem yang melanda ekonomi dunia di masa kini.
Kedua, ekonomi syariah sebagai salah satu sistem cabang ilmu pengetahuan yang berlandaskan Al-Quran dan Hadits.
Sebagai akademisi dan pakar ekonomi Halide mengatakan ekonomi syariah mengajarkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, transparansi, dan anti-eksploitasi manusia dan alam. Sistem ekonomi syariah bisa menjadi unsur pengembangan nilai-nilai moral dan etika dalam kegiatan ekonomi. Korupsi dan eksploitasi dijamin tidak akan terjadi sekiranya nilai-nilai ekonomi syariah diterapkan dalam masyarakat.

Halide mengatakan, masyarakat banyak yang tidak tertarik dengan sistem ekonomi syariah karena belum mengetahui produk bank syariah dan ekonomi syariah. Untuk itu edukasi ekonomi syariah dipandang penting agar Indonesia menjadi pusat pengembangan ekonomi syariah. Pokok-pokok pikiran itu disampaikannya sebelum ekonomi syariah atau ekonomi halal menjadi arus baru ekonomi Indonesia.
Ia memandang perlu melibatkan da’i (mubaligh) dalam mensosialisasikan sekaligus menyukseskan sistem ekonomi syariah, termasuk bank dan asuransi berbasis syariah. Sosialisasi dan penataran bagi da’i agar mengerti soal ekonomi syariah dipandang penting, namun da’i juga terlebih dahulu harus memberikan contoh jangan sampai fokus mengajak orang lain, sedangkan dirinya sendiri tidak melakukan. Pesan itu diungkapkan Halide dalam acara Talk Show dan Sosialisasi Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!) bertema “Asyiknya Berekonomi Syariah” di Makassar, Desember 2013.

Selain melibatkan da’i atau penceramah, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan mutu pelayanan konsumen. Teknologi juga harus ditingkatkan demi mempermudah masyarakat dalam bertransaksi. Pelaku ekonomi syariah, seperti bank dan lainnya, penting menciptakan sesuatu yang beda dari bank konvensional. Hal itu sekaligus untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa ekonomi syariah lebih baik dijadikan pilihan dalam bertransaksi.
Halide menyarankan agar bank dan asuransi syariah tidak bersaing dengan pelaku ekonomi dengan basis yang sama karena hal itu bukan sebuah peningkatan. Ia mengingatkan ekonomi syariah bukan hanya menyangkut bank dan asuransi, namun bisa dilakukan di sejumlah bidang seperti peternakan, pertanian, pertambangan, hingga bidang kesehatan.

Sekitar awal 2021 Guru Besar Universitas Hasanuddin itu diundang sebagai pemateri Integrasi Keislaman dalam Rumpun Ilmu Ekonomi pada Orientasi Islam Untuk Disiplin Ilmu Bagi Dosen-Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Ia menyatakan kebanggaannya karena UIN Alauddin telah mencoba menerapkan Dienul Islam dalam Ilmu Pengetahuan. Menurutnya, ini adalah jihad untuk membuktikan bahwa bangsa ini bukan hanya menempatkan Islam sebagai way of life, tapi menjadikannya sebagai complete civilisation.

Dalam kesempatan lain, ia menyarankan UIN Alauddin sebagai Universitas Islam harus menjadi pusat sains di Indonesia Timur,  center of excellence, human resources, serta pusat perumusan kebijakan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Universitas yang berhasil adalah universitas yang punya pusat penelitian. UIN harus menjadi pusat penelitian terutama dalam pengelolaan zakat, hisab, dan lain-lain, ungkapnya.

Sebagai kenang-kenangan atas bakti dan dedikasi almarhum dalam pembangunan umat dan bangsa, berikut pokok-pokok pikiran yang terilhami dari amanat Mohammad Natsir yang dipadukan oleh Halide dengan nilai-nilai kearifan lokal sebagai putra Indonesia dari Sulawesi Selatan ialah:

Pertama, manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dari tanah/bumi wajib memakmurkannya (QS Hud [11]: 61). Maka, sebagai umat Rasulullah Muhammad Saw kita harus menciptakan rahmatan lil alamin (welfare) untuk seluruh manusia, kaffatan linnaasi.

Kedua, membangun kemakmuran dan kesejahteraan harus dengan membangun/membentuk entrepreneur yang mampu mengolah hubungan normal antara rumah tangga produsen (Producer) dan rumah tangga konsumen (Consumer) dengan pasar (Market).

Ketiga, hubungan atau keterkaitan antara rumah tangga konsumen, produsen dan pasar adalah pendapatan (income) dan pemanfaatannya (marginal propensity to consument + marginal propensity to save), dimana saving (tabungan) harus diinvestasikan. Ingat tradisi Nabi Adam: wasulum lil mai wasulum lil tanaffus. Apa yang harus dikonsumsi adalah yang halal dan bersih (QS Al Baqarah [2]: 172).

Keempat, pada investasi, riba/bunga/interest diharamkan, tetapi muamalat/transaksi dihalalkan (QS Al Baqarah [2]: 275, 282, dan QS An-Nisaa [4]: 29). Investasi berbentuk infaq, sedekah, zakat, wakaf (QS Al Baqarah [2]: 281).

Kelima, dana operasional terminologi kredit (credit) harus diganti dengan pembiayaan (financing) menuju mudharabah, musyarakah, dan murabahah, sesuai Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), aturan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Keenam, pendapatan dari gaji, selain konsumsi maximum 2/3 dari pendapatan, dijadikan saving agar disalurkan ke bank-bank syariah/Unit Usaha Syariah dengan harapan mencapai bagi hasil. Halide mempraktikkan konsep dimaksud di Makassar.

Ketujuh, dari Al Quran, Al Hadits, praktik sahabat Rasulullah Saw (Khulafaurrasyidin = Umar bin Abdul Aziz) adalah sebagai sumber sifat staf (Siddiq/Bijak, Tabligh, Amanah, dan Fathonah). Profesional dalam menciptakan warga NKRI yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Bagi pemimpin (leader/manager) orang Sulawesi punya prnsip kerja, antara lain: (1) resopa (kerja keras), natinulu (rajin), temmangingi (tidak bosan), malomo naletei dewata sewwae (agar mudah diridhai Allah Swt). (2) Tidak boleh pabelleng (pembohong), pabalibella (munafik), pattuperru (menyikut) dan mekurang (tidak mempunyai rasa malu).

Jejak langkah dan pemikiran Prof. Halide perlu dibukukan sebagai amal shaleh almarhum dan warisan yang bermanfaat bagi generasi muda. Dalam mengenang kepergiannya, Harian Fajar di Makassar dan https://sulsel.herald.id mengulas sosok almarhum, Prof. Halide dikenal sebagai ilmuwan ekonomi yang gigih dalam memperkenalkan ekonomi syariah. Sejak tahun 1990-an, beliau aktif mengikuti berbagai kegiatan nasional dan internasional guna mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penerapan ekonomi Islam sebagai alternatif dari sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.

Kepergian Prof. Dr. Halide meninggalkan warisan ilmu dan inspirasi yang akan terus dikenang oleh mahasiswa, kolega, serta masyarakat yang pernah merasakan manfaat dari pemikirannya. Sulawesi Selatan kehilangan salah satu putra terbaiknya, seorang ilmuwan, mubaligh, dan pemikir ekonomi syariah yang berdedikasi.

Semoga kepulangan almarhum Prof. Dr. Halide memperoleh rahmat Allah, ridha dan surga-Nya. Selamat jalan Gurutta.

Jakarta, 30 Ramadhan 1446 H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here