Kolom Amsal Bakhtiar
Puasa dan Idul Fitri merupakan peristiwa perjuangan manusia menuju kesempurnaan spiritual. Manusia dalam kehidupan duniawi ini dikuasai oleh nafsu jasmaniah dan badan kasar. Dalam kekuasaan materi, manusia sulit melepaskan diri dari kehendak jasmaniah yang terkadang sukar dikendalikan. Padahal, manusia bukanlah hanya sosok fisik samata, tapi juga terdapat unsur spritualitas yang cenderung mendekati kesucian rohaniah, dan pada puncaknya menginginkan kedekatan dengan sang hakiki yaitu Allah yang merupakan puncak tujuan hidup rohaniah manusia.
Untuk mencapai puncak kesucian, manusia ingin bertemu dengan Allah, yang dalam Al-Qur’an dikatakan, “ Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (al-Kahfi ayat 110)..
Dari ayat di atas menunjukkan sebuah kualifikasi atau syarat bahwa pertemuan dengan Sang Khaliq hanya bisa terjadi bagi manusia-manusia yang telah suci dan terbebas dari nafsu dan kehendak jasmaniah. Yaitu manusia yang dalam hidupnya selalu mewujudkan perbuatan luhur dan mulia sebagai indikator kesucian nurani.
Bulan puasa dan Idul Fitri sebenarnya adalah sebuah aktifitas, yang kalau disadari manusia adalah dalam rangka latihan dan pendidikan (tarbiyah) menuju kesucian. Karena itu peristiwa-peristiwa keagamaan yang terjadi selama bulan Ramadhan adalah momen-momen dan pragmen-pragmen manusia yang sedang dalam latihan menuju kesucian.
Dalam pandangan pemikir ilmu jiwa fenomenologis, orang yang berpuasa merupakan gambaran dari manusia yang merdeka dan berkehendak secara sendiri (otonom). Ilmu ini menerangkan, berpuasa membuat distansi atau jarak antara dirinya dengan alam jasmani atau kejasmaniannya. Kodrat jasmani adalah kecenderungan untuk makan dan minum. Kecenderungan ini sudah menjadi naluri dan kodrati manusia untuk mempertahankan hidup. Namun, dengan berpuasa manusia seolah-olah memutuskan hubungannya pada waktu-waktu tertentu dengan kejasmaniannya.
Apa tujuannya, karena manusia adalah makhluk religi maka dalam puasa ia merasa berhadapan dengan Tuhan, namun di sisi lain ia juga terikat dengan kenikmatan barang-barang materi-jasmaniah. Tetapi, dengan berpuasa manusia melepaskan diri dari barang-barang dan kenikmatan jasmani, yang selain nikmat namun juga memiliki resiko.
Artinya, manusia yakin, bahwa dengan menggunakan barang-barang dunia ini secara tidak teratur, karena tenggelam dengan kenikmatan, manusia tidak menjadi sempurna, manusia tidak mendekati Tuhan, ikatannya dengan Tuhan menjadi berbahaya. Dia yakin, bahwa ikatan dan hubungan itu akan menjadi lebih dekat , jika dia bertirakat (Lihat, Prof. Dr. N. Drijarkara S.J, Percikan Filsafat, PT Pembangunan Jakarta, l978,cet.3, hal. 194-196). Tirakat di sini bisa juga diartikan puasa.
Penjelasan hampir sama dikemukan oleh Dr. Alwi Shihab, seorang pengajar Islam di perguruan tinggi Barat, bahwa puasa adalah sarana untuk mencapai kedalaman spiritual. Sikap menahan diri dari pemenuhan kebutuhan biologis jasmani selalu dinilai sebagai manifestasi dari suatu ekspresi ketergantungan kepada kekuatan transcendental, kekuasaaan yang Maha Tinggi . Puasa juga melambangkan kebebasan dari pasungan sifat kebinatangan manusia yang menghambat kedekatan kepada Tuhan ( Alwi Shihab, Puasa untuk Pensucian Jiwa, Media Indonesia, Senin 22 Januari 1996).
Kita melihat selama Ramadhan suatu ritual dan aktifitas yang menonjol saat manusia berusaha “melatih” diri menuju kepada kesucian diri dan mendekati kehidupan transendental, ditandai semaraknya ibadah, baik ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Tampak masjid penuh dengan jamaah shalat, baik shalat lima waktu maupun shalat sunnah qabliyah,bakdiyah,shalat tarawih; manusia rajin membaca Al-Qur’an baik sendiri maupun berjamaah tadarusan. Pada Ramadhan manusia juga rajin berinfaq, bersadaqah, memberikan makanan untuk berbuka, membayar zakat dan melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, orang miskin dan lainnya.
Semua ini peristiwa yang jika dimaknai dari segi fenomenologi keagamaan merupakan upaya mensucikan diri, mengendalikan nafsu jasmaniah untuk tidak melakukan perbuatan dosa dan kejahatan, serta ihktiar untuk mendekati Tuhan.
Kemudian setelah puasa manusia melaksanakan perayaan Idul Fitri, yang juga kalau dilihat dari segi psikologi agama dan psikologi hari-hari suci merupakan peristiwa yang dimaknai sebagai perjumpaan manusia dengan Tuhan. Dalam hari-hari suci (Idul Fitri) beberapa fenomena perilaku manusia menarik dilihat seperti memakai baju baru, saling bermaaf-maafan, silaturahim dengan tetangga dan keluarga, bahkan fenomena mudik dan pulang kampung. Pada hari-hari suci keagamaan manusia berhenti menjadi produsen dan hanya menjadi konsumen.
Psikologi agama menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa keagamaan di hari-hari suci tersebut adalah pertemuan manusia dengan Tuhan. Pada hari pertemuan Tuhan dan manusia tersebut manusia bersuka cita dan bersuka ria, manusia bergembira, dan saling berkasih sayang dan menyayangi. Sebab, ketika manusia merasa dekat dan berjumpa dengan Tuhan tidak boleh ada sikap saling membenci, tidak boleh ada dendam dan rasa marah (Drijarkara,1978: 200).
Puasa dan Idul Fitri dalam Islam
Dalam Islam puasa adalah sebuah kewajiban fardhu ain yang wajib dikerjakan seseorang yang telah memenuhi syarat wajib puasa. Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Perintah puasa disebutkan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183,” Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa, sebagaimana telah diperintahkan kepada orang-orang yang sebelum kamu semoga kamu menjadi orang yang bertaqwa”.
Taqwa yang menjadi tujuan dari puasa adalah sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 177 yaitu pribadi yang meyakini kehidupan akhirat, percaya pada nabi dan rasul, menjalankan syariat Islam, melakukan perbuatan amal shaleh, membantu para kerabat, orang miskin, orang yang dalam kesulitan, menepati janji, bersabar dalam kesulitan, memerdekakan hamba sahaya, dan semacamnya.
Bulan Ramadhan memiliki banyak keistimewaan dalam beribadah. Pahala ibadah diberikan berlipat ganda, baik yang wajib maupun yang sunat. Kemudian pada bulan Ramadhan terdapat malam Lailatur Qadar yang apabila bertepatan beribadah pada malam tersebut nilai ibadahnya sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun.
Setelah tuntas puasa selama 29 atau 30 hari umat Islam merayakan Idul Fitri pada 1 Syawal. Idul Fitri secara harfiah artinya kembali. Kembali kepada fitrah, yaitu suci sebagaimana bayi yang baru lahir. Kesucian itu diperoleh setelah manusia beribadah selama bulan Ramadhan dengan berpuasa, tarawih, tadarus, sedekah, bayar zakat fitrah dan lainnya. Idul Fitri di negara kita disebut juga hari lebaran dan hari kemenangan.
Mengutip A.Hamid Husain dalam bukunya Lebih Jauh Mengenal Idul Fitri dan Idul Adha (Yayasan Alhusniyah,Jakarta 2000), menurut sejarah Idul Fitri pertama dicetuskan di Madinah ketika Nabi telah hijrah dari Makkah. Saat datang di Madinah, Nabi menemukan masyarakat merayakan dua hari raya yang sudah menjadi tradisi. Dua hari raya tersebut dinamakan Mahrajan dan Nairuz yang sudah berlangsung cukup lama. Dua hari raya ini dipenuhi berbagai atraksi dan permainan serta diselingi minuman keras memabukkan dan wanita penghibur.
Melihat tradisi di atas Rasulullah Saw bertanya,” Hari apakah yang dirayakan ini”? Masyarakat menjelaskan, bahwa kedua hari yang mereka rayakan tersebut adalah tradisi yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang mereka.
Nabi kemudian merespon penjelasan masyarakat tersebut. Kata Rasulullah, seperti dimuat dalam hadist riwayat Abu Dawud,” Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikan kedua hari tersebut untuk kalian dengan dua hari raya yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri”.
Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW menjelaskan,” Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai hari besar, dan inilah Idul Fitri dan Idul Adha hari besar kita”.
Idul Fitri harus disambut dengan gembira dan hati senang. Dalam hadis Nabi dijelaskan,” Rasulullah SAW sangat senang menyambut Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan”.
Kewajiban umat Islam di saat idul fitri adalah melaksanakan shalat Idul Fitri lengkap dengan khutbahnya. Diadakan di lapangan terbuka atau masjid untuk menunjukkan syiar Islam.
Selain itu disunahkan umat Islam mulai dari akhir Ramadhan dan saat Idul Fitri, mengumandangkan Takbir (mengagungkan Allah), Tahmid (memuji) Allah, Tasbih (mensucikan ) dan Tahlil (meng-Esakan) Allah.
Sebuah hadist Rasulullah mengungkapkan keistimewaaan Idul Fitri. Bahwa pada hari tersebut, para Malaikat ditugaskan oleh Allah berdiri di pintu-pintu jalan, gang dan lorong-lorong yang dilalui kaum muslimin menuju tempat Shalat Idul Fitri dan mendoakan mereka. Kata Rasulullah,” Pada hari raya Idul Fitri, para Malaikat berdiri di pintu-pintu jalan seraya berseru,” Wahai kaum Muslimin! Bersegeralah menuju Tuhanmu Yang Mulia, Tuhan yang selalu menganugerahkan kebaikan, kemudian melimpahkan lagi tambahan kebahagiaan yang amat banyak’.
“ Karena pada malam hari , engkau diperintahkan bangun beribadah, hal ini engkau penuhi, dan pada siang hari engkau diperintahkan berpuasa, inipun engkau taati karena Allah. Oleh karena itu, terimalah hadiah yang telah disediakan untukmu”.
“Jika shalat telah usai ditunaikan, Malaikat kembali berseru,” Ketahuilah! Bahwa Tuhanmu telah mengampuni kamu sekalian. Kembalilah ke tempatmu masing-masing dalam keadaan bahagia, beruntung dan berjaya. Hari ini adalah hari keberuntungan. Di langit tertulislah nama “ Yaumul Jaizah atau Hari Keberuntungan”.
Intisari
Puasa dan Idul Fitri yang menjadi ibadah kita kepada Allah diharapkan menambah ketebalan Iman kita dan kedekatan kita kepada Allah. Meyakini kebesaran-Nya dan makin mempertinggi akhlak dan budi pekerti kita.
Demikian juga puasa dan Idul Fitri diharapkan menumbuhkan sikap sosial dan kebersamaaan , terutama melahirkan sikap kedermawanan menolong orang-orang yang tidak mampu yang hidup dalam kekurangan. Dalam masyarakat kita di mana jumlah yang hidup di garis kemiskinan masih besar jumlahnya, maka puasa dan Idul Fitri diharapkan mampu mengulurkan tangan dan bermurah untuk membantu mereka. Tuhan akan dekat dengan kita jika kita peduli pada orang miskin , mereka yang lapar, mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Allahu ‘alam.
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA, Dosen dan Plt.Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat