Tuhan, Mampukan Aku untuk Ikhlas

0
26
- Advertisement -

Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati Masalah Budaya, Ekonomi dan Politik

SORE itu, hujan turun membasahi jalanan. Sepertinya langit kelelahan menahan tangisnya begitu lama. Butiran air jatuh satu per satu, seperti huruf-huruf yang ditulis Tuhan di halaman bumi.

Di bawah atap sebuah warung kopi di pinggir jalan, seorang lelaki muda duduk menatap hujan. Namanya Saipul. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah lama dingin. Seperti harapannya yang pernah hangat, lalu perlahan kehilangan uapnya.

Hari itu, Saipul baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini ia sebut miliknya. Sesuatu itu bukan hanya benda. Sesuatu itu bukan sekadar hubungan. Ia adalah sesuatu yang telah ia ikat dalam hatinya sebagai “bagian dari hidupnya.”

Dan ketika bagian itu diambil, ia merasa seperti rumah yang atapnya dicabut angin. Ia mencoba kuat. Ia mencoba sabar. Namun dalam dadanya, ada badai yang berkecamuk, yang tak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.

“Ya Tuhan,” bisiknya pelan. “Jika ini takdir-Mu… mengapa rasanya begitu berat?”

Hujan tidak menjawab. Namun terkadang Tuhan berbicara melalui cara hujan turun ke bumi.

Lelaki tua yang duduk di sebelahnya sejak tadi tiba-tiba berkata pelan, “Yang paling berat dalam hidup ini, bukan kehilangan.”
Saipul menoleh ke arah lelaki tua itu.
“Lalu apa?” tanyanya.
Lelaki tua itu tersenyum seperti seseorang yang sudah terlalu banyak mengalami banyak hal dalam kehidupannya.
“Yang paling berat itu adalah ikhlas.”
Saipul tersenyum pahit.
“Beban yang saya pikul ini sungguh sangat berat. Tak mudah untuk mengikhlaskannya .”
Lelaki tua itu mengangguk.
“Memang.”
“Banyak orang mengira ikhlas itu mudah,” kata lelaki tua itu sambil menatap hujan.
“Seolah-olah ikhlas itu hanyalah kata sederhana yang bisa begitu gampang dijalani.”
Lelaki tua itu menarik napas panjang.
“Tapi sebenarnya ikhlas itu seperti mencabut akar pohon yang sudah tumbuh berakar kuat di dalam hati kita.”

Akar itu bernama kepemilikan. Akar itu bernama harapan. Akar itu bernama aku dan milikku. Dan akar-akar itu, sering kali tertancap begitu dalam dari yang kita kira.

“Dulu,” lanjut lelaki tua itu, “aku juga pernah kehilangan sesuatu yang sangat kucintai.”
“Apa?”
“Segalanya.”

Lelaki tua itu tersenyum lagi, namun senyumnya kali ini seperti senja yang menyimpan luka kehidupan yang begitu perih.
“Aku kehilangan usaha, kehilangan rumah, bahkan kehilangan orang yang paling kucintai.”
“Lalu bagaimana anda bisa ikhlas?”
Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya.
“Aku tak bisa.”
Saipul terdiam.
“Aku mencoba sabar,” katanya.
“Aku mencoba kuat. Aku mencoba menerima.”
“Tapi ikhlas?”
Ia menghela napas panjang.
“Aku tak mampu.”

Hujan semakin deras. Jalanan berubah menjadi sungai kecil yang mengalir tanpa arah.

Lelaki tua itu melanjutkan dengan suara yang begitu lirih, hampir seperti doa.
“Suatu malam aku sujud sangat lama. Lama sekali”
“Aku tidak meminta Tuhan mengembalikan apa yang hilang.”
“Karena aku tahu, kehilangan itu memang tak akan kembali.”
Saipul menatapnya penuh tanya.
“Lalu apa yang Anda minta?”
Lelaki tua itu menjawab pelan,
“Aku hanya berkata…”
“Ya Tuhan… jika aku tidak mampu ikhlas, maka Engkau saja yang mampukan aku untuk ikhlas.”

Saipul terdiam lama. Seperti ada sesuatu yang jatuh di dalam hatinya —bukan luka kehidupan yang membuat hatinya remuk, melainkan seberkas cahaya kecil yang menyinari jiwanya.

Saipul baru tersadar, bahwa selama ini ia berusaha memaksa dirinya untuk ikhlas.
Padahal mungkin…
Ikhlas bukanlah ekspresi kemampuan manusia. Ikhlas itu anugerah. Seperti hujan yang tak pernah diminta turun ke bumi, namun hujan selalu turun pada waktu yang Tuhan pilih.

“Sejak malam itu,” kata lelaki tua itu,
“aku tak lagi berkata bahwa aku harus ikhlas.”
“Aku hanya berkata:”
“Tuhan, mampukan aku untuk ikhlas.”
Ia tersenyum. Lalu melanjutkan kata-katanya.
“Dan anehnya…”
“Perlahan hatiku menjadi ringan dan begitu tenang,” katanya lega.

Lega bukan lantaran sesuatu yang hilang itu telah kembali. Lega lantaran hatinya berhenti untuk menggenggam.

Hujan mulai reda. Langit perlahan membuka tirainya, dan cahaya senja jatuh seperti pelukan lembut dari langit.

Saipul menatap jalanan yang basah. Tiba-tiba ia mengerti sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami. Bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun. Semua hanya titipan Tuhan. Dan ketika Sang Pemilik mengambil kembali titipan-Nya. Maka yang diminta dari kita bukanlah kekuatan, melainkan kerelaan.

Saipul menutup matanya sebentar. Di dalam dadanya, ia berbisik pelan,
“Ya Tuhan…”
“Aku lelah melawan takdir-Mu.”
“Selama ini, aku tidak cukup kuat untuk menjadi ikhlas.”
“Namun Engkau Maha Kuat, ya Tuhanku.”
“Maka mampukanlah aku… untuk ikhlas.”

Sore itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan itu terjadi, hati Saipul tak lagi terasa seperti arena medan perang. Ia masih sedih. Ia masih terluka. Namun di sela-sela luka itu, ada ketenangan kecil tumbuh di hatinya seperti rumput yang tumbuh setelah hujan.

Dan mungkin…
Itulah tanda pertama bahwa Tuhan sedang mengajarkan sesuatu yang sangat rahasia kepadanya. Bahwa ikhlas bukan berarti tidak ada rasa sakit di dada. Ikhlas adalah tetap berkata, “Terima kasih, ya Tuhan.” Sekalipun saat itu, tangan kita masih gemetar lantaran kehilangan.

Di langit yang mulai cerah itu, seekor burung terbang menembus awan. Dan Saipul akhirnya mengerti. Bahwa terkadang Tuhan mengambil sesuatu dari tangan kita, agar kita belajar membuka lebar-lebar hati kita.

Karena hanya dengan hati yang terbuka lebar, Tuhan bisa meletakkan kedamaian-Nya di dada kita. Iya gak ? Weleh, weleh, weleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here