Diogenes: Ainal Insan

0
37
- Advertisement -

Oleh Masrur Makmur Latanro

Siang bolong, di pasar Athena ramai sesak manusia. Tapi Diogenes Sinope justru menyalakan lentera, berjalan menyusuri kerumunan sambil berteriak: “Anthrōpon zētō” aku mencari manusia. Atau dalam bahasa Arab: “Aina al-insān?” Mana itu manusia? Manusia ada di mana-mana, tapi Diogenes tidak menemukannya. Sebab yang ia cari bukan homo sapiens yang bernafas, makan, dan beranak-pinak. Yang ia cari adalah manusia yang memanusiakan dirinya. 10 tahun ke depan, kita hidup di super mall yang lebih ramai, yaitu: 9 miliar manusia hilir mudik, konten tak henti. Tapi pertanyaan Diogenes tetap relevan: di tengah keramaian ini, di mana manusia yang benar?

Al-Qur’an menyebut manusia dengan 3 istilah: Basyar berarti fisik biologis. Insan berarti makhluk yang lupa dan butuh belajar. An-Nas berarti makhluk sosial. Hakikat manusia bukan cuma daging dan tulang. Aristoteles bilang zoon logikon — hewan yang berakal. Tapi akal saja juga tidak cukup. Hitler juga berakal. Tapi, dengan Genosida membunuh 11 juta orang Yahudi. Lalu menembak kepalanya sendiri. Manusia sejati adalah basyar yang dididik akalnya dan ditata moralnya sehingga naik derajat jadi insan kamil.

Nabiullah Ibrahim AS diperintah menyembelih Ismail. tapi hakekat yang dikorbankan rasa kepemilikan. Daging tidak sampai ke Allah. Yang sampai adalah takwa. Inilah definisi manusia sejati: makhluk yang berani menyembelih “ismail” dalam dirinya. Ismailmu mungkin hartamu, jabatanmu, gelarmu, egomu. Selama kita masih diperbudak “ismail-ismail” itu, kita masih di level kebinatangan. Manusia sejati adalah yang inni dzahibun ila Rabbi,
pergi meninggalkan sifat binatang menuju Tuhan.

Mari mempertebal kesetiakawanan seperti Nabiullah Ibrahim AS, ketika ditanya fa aena tazhabun ? Kemana kamu Ibrahim ? Aku ingin menjumpai Tuhanku sembari di tangannya menggiring 100 onta, 300 lembu dan 1000 domba untuk Qurban. Kelas menengah Indonesia 47,85 juta jiwa, tapi dalam 3 tahun terakhir hanya 2 juta yang berkurban dengan jumlah khewan Qorban 2,1 juta. Terdiri dari :
530 sapi dan 1,6 juta kambing. Nilai total rupiah sekitar Rp 32 Trilyun. Artinya hanya 4 orang dari 100 orang yang sadar berkurban. Inilah krisis social care umat Islam Indonesia.

Apa yang mau dibanggakan soal kekayaan ? Faham the Law of Diminishing Marginal Utility menyebutkan: harta tidak bikin bahagia. Hanya moral being yang berwujud social care yang membuat kita manusia.

Diogenes mencari manusia dengan lentera di siang hari karena ulah manusia yang hidup tapi tidak sadar: korupsi tapi shalat, kaya tapi pelit, pintar tapi durhaka. Ini yang disebut Zygmunt Bauman sebagai Liquid Modernity: paceklik identitas, jati diri goyah, empati luntur. Tepak sekali pernyataan filosof Rusia, Tols Stoy:

*Jangan ceritakan tentang agamamu kepadaku. Izinkan aku melihat agamamu lewat tindakanmu. Jika kamu merasakan sakit, kamu masih hidup. Tapi, jika kamu merasakan sakit orang lain pertanda anda adalah manusia*

Jika Diogenes Sinope hidup hari ini, dia akan berkata: aku akan padamkan strongking yang aku pegang, tapi nyalakan lentera dirimu lewat social intelligence. Selamat Berkurban,
Selamat Idhul Adha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here