Catatan Fiam Mustamin
Judul ini mengandung tiga makna penting, yakni meniti kehidupan dengan kesabaran, memelihara harapan, serta menerima takdir dan ketentuan Tuhan dengan penuh keikhlasan.
Tentang bagaimana seluruh proses kehidupan itu dijalani, tentu tidak cukup ruang untuk diuraikan secara lengkap dalam tulisan singkat ini.
Kerabat Dekat Satu Kampung
Saya tumbuh bertetangga dengan orang tuanya, Uwa Djide dan Indo Sawiah, juga Lato Manna dan Nenek Safi, di Tajuncu, sekitar 13 kilometer dari Kota Watansoppeng.
Saya seumuran dengan kakak tertuanya, Arief atau La Sudi. Kakaknya yang lain ialah Djafar atau La Baba, Isirah, dan La Tarno. Bersama Arief, saya melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Watansoppeng.
Saat itu kami tinggal di rumah Ayahanda Hasanuddin Manna yang menjadi orang tua angkat saya. Sementara Suharto yang lahir kemudian tidak begitu saya kenal dekat, sebab setelah tamat SMP saya melanjutkan pendidikan ke Makassar pada tahun 1966.
Nama Suharto mulai saya dengar dari adiknya, almarhum Aprial, terutama ketika Suharto menempuh pendidikan di Akademi Militer Angkatan Laut. Dari sana pula saya mengikuti kisah perjalanan hidupnya, termasuk cerita asmara dengan seorang putri Minang hingga akhirnya menjadi sumando dan bagian dari keluarga inti urang Minangkabau.

Dari berbagai kisah dan pengalaman kedinasannya, Suharto menjalani pelayaran lintas benua ke berbagai negara dengan dinamika kehidupan yang sangat progresif dan penuh pengalaman berharga. Tentu semuanya terlalu panjang untuk diuraikan dalam satu kolom singkat ini.
Karena itu, saya memilih menyoroti tiga hal utama sebagaimana tercermin dalam judul tulisan ini, yakni kesabaran, keteguhan, dan ketakwaan dalam berserah diri kepada kehendak Sang Pencipta. Dalam pappaseng dan petuah lontarak, sikap mappesona atau berserah pada jalan takdir merupakan bagian penting dari kebijaksanaan hidup orang Bugis.
Mengingat perjalanan hidup adinda Laksda TNI Dr. Suharto Djide, saya juga teringat tiga putra atau wija to Tajuncu yang pernah menempuh pendidikan tinggi militer, yakni Andi Sahrir, almarhum Andi Sofyan Palle dari Angkatan Laut, serta almarhum Ahmad Yahya di Kepolisian.
Apa Target Bersekolah?
Kesadaran akan keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu pendorong utama perjalanan hidup Suharto. Orang tuanya hanyalah petani dan pedagang keliling di hari pasar.
Keadaan itulah yang memotivasi Suharto mencari peluang melalui sekolah kedinasan, mengingat banyak saudara yang juga membutuhkan biaya pendidikan. Pada masa itu, perguruan tinggi ikatan dinas masih sangat terbatas, sehingga kesempatan masuk tentara menjadi salah satu jalan pengabdian sekaligus harapan masa depan.
Padahal ketika itu Suharto, anak ketujuh dari sembilan bersaudara, telah menjalani kuliah di perguruan tinggi kejuruan IKIP Makassar.
Begitulah jalan takdir kehidupan yang kemudian dijalani dan disyukuri dengan penuh keikhlasan. Aamiin.













