Janji Mutaroe Akan Difilmkan
Sineas Aca Hasanuddin yang terkenal dengan sinetron Penjual Bubur Naik Haji akan membuat film yang berlatar belakang cerita budaya Bugis Makassar.
Film itu sendiri mengisahkan tentang pasangan antara pemuda ganteng bernama Aco (Aco Tenri Pakkua) yang dengan Besse (Besse Ayu Rosnawaty
yang cantik. Mereka adalah pasangan serasi.
Sore yang cukup cerah, seperti biasanya Pantai Losari di Makasar, dipenuhi pengunjung dengan berbagai tujuan. Ada yang menikmati suasana pantai yang begitu indah dan ramai, ada menyaksikan matahari terbenam, ada yang menikmati pisang epe (penganan khas Makasar) yang berjejer dipantai, ada pula yang menikmati suasana romantis bersama pasangan. Diantaranya Aco dan Besse.
Di kampus, Aco mendapat kabar kalau bapaknya dikampung kecelakaan, ia harus pulang kampung, hal ini disampaikan pada Besse. Sesampai dikampung, Aco menemui bapaknya yang terbaring lemah dirumah sakit dengan kaki yang digips karena patah. Dengan demikian, ia tidak mampu lagi bekerja sebagai mengangkut gabah. Aco memutuskan mengganti ayahnya sebagai pemotor gabah (orang-orang yang mengangkut gabah dari sawah kerumah menggunakan motor yang sudah dimodifikasi).
Mendapat kabar Aco cuti kuliah, karena menggantikan ayahnya menjadi tukang ojek gabah, Besse pun pulang kampung dan dengan ditemani Indo Dalle, ia menemui Aco.
Sepulang dari jalan-jalan memadu kasih, Aco tidak mampir dirumah Besse karena ia mengejar sholat magrib dimesjid dekat rumahnya. Ia pun memacu motor tuanya dengan kencang. Besse yang masuk kedalam rumahnya, langsung dimarahi ayahnya karena dianggap keras kepala karena masih terus menjalin hubungan dengan Aco. Dengan berbagai alasan Besse membela Aco dan dengan berbagai alasan pula ayah Besse menghina Aco. Aco sudah berganti pakaian dengan pakaian sholat, ia mengumandangkan azan di Mesjid. Bubaran sholat, seorang jamaah menanyakan keadaan orang tua Aco yang sakit-sakitan. Orang tersebut tersebut memuji Aco yang rela berhenti kuliah demi menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga dan demi kelanjutan sekolah adiknya. Mudah-mudahan setelah ayahnya sembuh, Aco bisa melanjutkan kuliah kembali. Aco mengucapkan Amiin.
Besse yang ngambek dikamarnya dihampiri oleh ibunya dan dinasehati agar jangan membatah ayahnya, karena apa yang dikatakan ayahnya demi masa depan Besse yang lebih cerah. Besse pun mengatakan apakah dengan memilih pemuda lain ada bisa dipastikan masa depan saya cerah. Apakah tujuan hidup semua orang adalah masa depan cerah. Apa arti bergelimang harta tapi tidak bahagia, tidak ada rasa cinta. Ibu Besse diam, iapun menyadari kalau apa yang dikatakan anaknya benar. Dengan disinari cahaya rembulan, Aco dipercayakan oleh pelatih untuk menggantikannya melatih silat anak-anak dikampungnya. Pemilik Perguruan mengagumi kemampuan Aco melatih. Ia pun ditawari sebagai pelatih tetap diperguruan silat tersebut. Dengan senang hati Aco menerimanya.
Seperti biasanya, Aco bersama teman-temannya mengangkut gabah. Dirtengah sawah. Dengan dibonceng Indo Upe, Besse diantar menemui Aco. Ketika hendak pulang Besse dan Aco bingung karena motor Aco kotor, joknyapun sangat pendek karena dimodif untuk angkut gabah. Besse minta ikut Aco. Aco menolak karena disamping jok motornya pendek, juga kotor. Besse tetap kekeh untuk ikut diboncengan Aco akhirnya Aco pun mengalah.
Motor Aco melaju ditengah sawah bersaing dengan pemotor ojek gabah yang lain. Tapak Besse sangat bahagia diboncengan Aco. Orang-orang yang melihatnya heran sekaligus kagum dengan hubungan cinta keduanya. Motor Aco melaju dijalan raya tiba-tiba berhenti karena beberapa orang berlarian menuju sebuah rumah. Ternyata seorang Pemuda dikampung itu pulang dari rantau, disambut gembira keluarga dan tetangganya. Ia mebawa mobil Jeep Robicon dengan pelat Kalimantan Timur ( biasanya mobilnya dikirim lewat expedisi lalu ia sendiri naik pesawat setelah mobil sampai). Mobil itu dipenuhi dengan oleh-oleh untuk keluarga dan tetangganya. Para tetangga kagum melihat keberhasilan Rustam yang baru setahun merantau sudah memiliki mobil mewah dan perhisan emas kalung, gelang serta cincin ukuran jumbo begitupula dengan jam tangannya yang terbuat dari emas. Rustam sempat beradu pandang dengan Besse yang berdiri dipinggir jalan sementara Aco masih diatas motor. Besse membuang muka kearah lain. Aco yang melihat kejadian itu menatap tajam ke Rustam. Besse mengajak Aco pulang.
Orang-orang membicarakan keberhasilan Rustam yang dalam waktu hanya lebih setahun mampu mengumpulkan harta yang banyak tidak seperti Ambo Tang yang berhasil menjadi pedagang kayu gaharu di Irian, bukannya harta yang dikumpulin, tapi kawin cerai yang kabarnya sekarang beristeri 4. Makanya ada yang bilang “Bugis” Kepanjangannya, Banyak Uang Ganti Isteri. Semua tertawa.
Besse dimarahi ayahnya karena dianggap tidak punya malu (degaga siri’na) masa ada gadis mau dibonceng pakai ojek gabah. Besse dianggap bukan hanya mempermalukan dirinya tapi mempermalukan keluarga, ia menjadi pembicaraan warga.
Sementara itu diteras (lego-lego) rumah Aco, mereka juga membicarakan keberhasilan Rustam di perantauan. Sesorang menyuruh Aco merantau biar bisa berhasil juga, namun Aco menolak karena ia lebih senang hidup dikampung. Seorang meninpAco dan membenarkan sikap Aco dengan mengatakan “ Pada lao teppada Upe” Artinya; Rejeki orang beda-beda. Ada rejekinya diperantauan, ada dikampung. Ternyata dirumah Besse , orang-orang juga membicarakan Rustam. Ayah Acopun kagum dengan keberhasilan perantau yang bernama Rustam itu.
Rumah Rustam yang sudah dipenuhi para kerabat dan tetangga. Mereka asik mendengarkan cerita Rustam sambil menikmati bermacam-macam makanan dan minuman kaleng yang semuanya peroduksi Malaysia (kebiasaan perantau dari Kalimantan membawa makanan dan minuman produksi Malaysia). Seseorang menanyakan apakah Rustam sudah punya calon diperantauan, Rustam mengatakan kalau dia belum ketemu yang cocok.
Malamnya diacara Pesta “Padendang” Rustam beradu pandandang dengan Besse yang saat itu bersama Indo Upe serta teman gadis lainnya tanpa Aco. Rustam tampak tertarik dengan Besse dan menghampirinya, Rustam mengulurkan tangan ke Besse untuk kenalan namun tgangan Rustam disambar oleh Indo Upe yang langsung menyebut namanya lalu mendorong tangan Rustam. Saat itu Aco datang Indo Upe langsung menyuruh Besse menghampiri Aco dan mengabaikan Rustam. Rustam geram.
Seseorang menyampaikan kalau minggu depan ada perlombaan balap motor gabah biasa diadakan disawah yang berlumpur. Pengendara sambil mengangkut gabah berlombah memacu motornya melewati sawah-sawah yang berlumpur. Penonton sangan ramai. Yang pastinya banyak gadis cantik, siapa tau ada berkenan dihati Rustam. Rustam tertarik, ia minta dicarikan motor yang baru, dan anak muda yang sanggup jadi jokinya.
Sorak Sorai penonton memberi semangat pada jagoan mereka yang sedang memacu motor gabahnya. Terjadi persaingan hebat antara beberapa pemuda yang sedang berlomba dan yang paling banyak mendapat dukungan adalah Aco. Besse bersama rekan-rekannya terus berteriak mendukung Aco. Smentara Rustam cs memberi dukungan pada joki yang mengendarai motor Rustam. Ketika pendukung Aco saling ledek dengan pembalap Rustam yang saling susul menyusul, Rustam justeru sibuk memperhatikan Besse yang bersama Indo Dalle
Susul menyusul diantara pembalap terus berlangsung diiringi teriakan para pendukung masing masing. Mejelang garis finish, tiba-tiba terjadi insiden, motor Aco dengan sengaja disenggol oleh motor milik Rustam hingga motor Aco terbalik dan motor milik Rustam masuk finish dan menjadi juara. Merasa dicurangi, Aco naik pitam, ia berlari menghampiri joki Rustam dan menghajarnya. Melihat jokinya dipukul, Rustam marah menyuruh anak buahnya mengeroyok Aco. Teman-teman Aco pun tidak tinggal diam, mereka langsung turun kali membantu Aco hingga terjadi perkelahian massal antara dua pendukung ditengah sawah yang berlumpur. Aco yang punya ilmu silat, tampak mampu mengatasi para penyerang hingga akhirnya seorang pemuda menghunus badik dan menikam Aco namun Aco sempat mengelak lalu menendang badik itu hingga terlempar jauh. Ia memelintir tangan penyerang lalu menenggelamkannya kedalam lumpur. Perkelahian terus berlangsung, semuanya sudah bermadi lumpur dan susah dikanAco, perkelahian berhenti setelah polisi melepaskan tembakan.
Besse dimarahi ayahnya karena masih terus menjalin hubungan dengan Aco yang pengangguran dan hanya anak petani miskin.
Rustam terus berusaha mendekati Besse . Ayah Besse kagum dengan bualan Rustam anak muda yang baru setahun merantau namun sudah menjadi perantau yang sukses memiliki pertambangan dll. Dari pembicaraan mereka juga diketahui kalau ternyata Rustam dengan ayah Besse masih ada hubungan famili jauh. Sejak saat itu, Rustam seringkali datang kerumah Besse dengan bermacam-macam barang oleh-oleh untuk menarik hati keluarga Besse terutama Besse Setiap Rustam datang, Ayah dan ibu Besse selalu mengajak Besse menemani. Ayah, Ibu Besse serta nenek Besse makin kagum dengan Rustam. Rustam menyampaikan kalau sebenarnya ia pulang kampung untuk mencari pendamping hidup. Ibu Besse mengatakan kalau dikampungnya ini banyak gadis cantik (sambil melirik pada Besse ), Besse melengos.
Kedekatan hubungan Rustam dengan keluarga Besse, membuat Aco makin tersisihkan. Kedatangan Aco menemui Besse makin terutup, sementara peluang Rustam mendapatkan Besse makin terbuka.
Rindu yang tak terbendung membuat Aco datang menemui Besse , lagi lagi ia disambut dingin oleh ayah Besse dan menyatakan Besse lagi tidur dan tidak boleh diganggu. Ayah Besse menutup pintu. Aco bukannya pergi tapi terus menunggu didepan pintu. Beberapa saat kemudian, Rustam datang, ia disambut hangat oleh ayah Besse dan mempersilahkannya masuk. Ia lalu berteriak memanggil Besse agar menemui Rustam. Aco terbakar emosi, begitu Rustam hendak melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, Aco langsung mencengkram kerah bajunya lalu mengingatkan kalau tak seorangpun yang boleh menyentuh Besse Kalau Rustam nekad, ia tak segang menghabisinya. Ayah Besse yang melihat kejadian itu mengusir Aco karena mengganggu tamunya. Ayah Besse mengingatkan juga kalau Aco tidak berhak melarang orang lain menemui Besse karena Besse bukan siapa-siapanya Besse Yang berhak melarang orang menemui Besse adalah dirinya karena Besse adalah anaknya, dan dia melarang Aco menemui Besse
Ditempat latihan silat, Aco banyak melamun. Ia tak segan memukul anak didiknya bila salah. Usai latihan, pemilik perguruan silat menanyakan apa yang mebuat Aco berubah sikap. Awalnya Aco menutupi kegalauan hatinya, namun karena terus didesak akhirnya Aco menjelaskan kalau ia sakit hati pada seseorang yang mencoba mendekati kekasihnya. Pelatih mengatakan kalau Aco tidak berhak melarang orang lain mendekati Besse Karena bagaimanapun juga Besse belum miliknya, selama janur kuning belum milengkung, maka masih milik bersama. Kalau kamu mau orang lain tidak mengganggunya atau berusaha memilikinya, maka kamu harus memilikinya, lamar dan nikahi. Aco diam.
Mendengar permohonan Aco kedua orang tua Aco mengatakan, melamar Besse ibarat memanjat hujan, suatu yang mustahil. Secara turunan, keluarga Aco masih darah biru tapi Besse adalah anak orang terkaya dikampung itu. Ayah Aco menyuruh mencari gadis lain. Aco menolak, ia hanya mau menikah kalau sama Besse. Karena Aco ngotot, orang tua Aco terpaksa mengalah dan dengan terpaksa mengirim duta untuk melamar Besse Ternyata lamaran diterima tapi dengan syarat; Aco harus membayar mas kawin 1 Miliar, sapi 2 ekor, tanah 2 ha. Emas 1kg. hal mustahil untuk dipenuhi ayah Aco. Menjual seluruh harta yang dimilikinyapun belum cukup membayar mas kawin.
Aco geram, ia datang menemui orang tua Besse , ia perotes dengan mas kawin yang dimintanya. Dengan sinis ayah Besse menyampaikan kalau urusan mas kawin adalah urusan dirinya, urusan Aco adalah sanggup atau tidak sanggup memenuhi mas kawin tersebut, kalau tidak, lupakan Besse
Ayah dan njuga teman-temannya menyalahkan perlakuan Aco yang perotes mas kawin. Karena belum ada seorangpun pernah perotes mas kawin. Karena itu adalah hak orang tua wanita, berapapun dia mau. Aco disarankan mencari Uang yang banyak lalu bayar mas kawin yang diminta.
Aco pusing memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang banyak. Ia juga malu karena tidak mampu membayar mas kawin. Acopun memutuskan untuk merantau dengan harapan bisa merubah kehidupannya dan kembali melamar Besse Iapun menemui Besse dan menyampaikan tekatnya untuk merantau. Besse tidak bisa mencegah, keduanyapun bersumpah untuk saling setia sampai kapanpun, hanya ajal yang mampu memisahkannya. Suasana Romantis mereka berdua terganggu dengan hadirnya Indo Upe yang langsung berteriak kencang karena capek keliling mencari Besse yang ternyata sedang berduaan dengan Aco. Lagu “Janci Mutaroe”
Dengan menumpang kapal laut, Aco merantau ke Kalimantan, dianjungan kapal ingatannya selalu pada Besse Teringat masa masa indah bersama Besse diselang selingi dengan penolakan orang tua Besse dan kehadiran Rustam yang mencoba merebut Besse
Begitu juga dengan Besse , didepan jendela dengan diteringi sinar rembulan, ia mengenang masa masa indah bersama Aco. Besse menelpon Aco namun tidak tersambung, maklum, Aco ditengah laut lepas.
Aco bersama beberapa penumpang turun dari kapal. Keluar dari pelabuhan, yang pertama dilakukan Aco adalah Video call dengan Besse Selesai video call, ketika hendak menyimpan Hpnya diransel, tiba-tiba ransel bersama hpnya disambar oleh orang yang naik motor. Aco berusaha mengejar namun jambret itu sudah berlalu dengan tancap gas. Aco kebingungan karena ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Termasuk keluarganya yang ada di Samarinda. Jadilah ia menggelandang di Balikpapan.
Kepergian Aco serta persetujuan kedua orang tua Besse menjadi peluang besar bagi Rustam mendapatkan Besse Namun nyatanya, Besse tetep menolak cinta Rustam. Meski ibu Besse membujuk Besse agar menerima Rustam.
Ketika ia sedang duduk melamun dipantai, kenangannya pada Besse ketika berdua menikmati indahnya beberapa tempat wisata di Sul Sel., begitu pula dengan Besse diiringi Lagu “Totona passompe’E”. Lamunan Aco buyar karena seorang anak muda dikeroyok beberapa pemuda. Anak muda yang dikorok itu lari berlindung pada Aco, namun pengeroyok trerus menghajarnya, Kasihan melihat anak muda yang dikeroyok, Aco pun mencoba melerai, namun komplotan tersebut bukannya berhenti, malah menyerang Aco. Aco yang awalnya cuma menangkis, karena terus diserang, akhirnya terpaksa membela diri dan menyerang komplotan anak muda tersebut dan berhasil mengatasinya. Pemuda itu berterima kasih, lalu pergi. Beberapa saat kemudian, seorang Tinghoa sebut saja Ahong, turun dari mobil menghampiri Aco dan memuji keberanian Aco ia juga menawari Aco bekerja sebagai pengawal peribadinya. Aco sempat berpikir lalu akhirnya ia menolak dengan alasan ingin mencari pekerjaan lain yang halal. Sebelum meninggalkan Aco, Ahong tidak lupa menitipkan kartu nama siapa tau Aco berubah pikiran.
Di Rumah milik Bandar Narkoba (belakangan diketahui kalau bandarnya adalah Rustam) rombongan anak muda yang habis berantem dengan Aco tadi berkumpul. Salah seorang dari mereka menelpon bosnya (Rustam) menyampaikan kalau rencana menguasai Balikpapan , mendapat perlawanan dari Ahong cs. Yang mendapat dukungan dari seorang anak muda yang jago silat. Rustam tampak marah besar, ia memerintahkan anak buahnya menghabisi Ahong cs. Termasuk anak muda yang mebela Ahong.
Aco mulai mencari kerja, yang ternyata tidak segampang dengan apa yang Aco bayangkan. Ia melamar kiri kanan namun tidak ada yang menerimanya. Satu hal yang tidak pernah dilupakan oleh Aco adalah, sholat 5 waktu. Aco bahkan rajin mengumandangkan Azan dan terkadang jadi imam dimesjid. Aco pun minta izin untuk nginap di Mesjid dan diizinkan oleh imam masjid. Pagi-pagi, Aco mengepel dan membersihkan halaman masjid.
Ibu Aco yang duduk dekat jendela memandang bulan purnama dan anak-anak yang “Massallo” permainan tradisional dihalaman rumahnya, ia teringat akan Aco yang tidak ada kabar beritanya.
Sementara dirumah Besse , Besse juga melamun dijendela sambil melantungkan lagu Bugis (Sajang Rennu)
Satu hari ketika hendak mengikuti tes disebuah perusahaan, dengan penuh semangat dan berkeringat karena jalan kaki, ditengah jalan ia melihat seorang yang sedang dikeroyok 2 orang perampok yang hendak mengambil tas yang berisi uang. Tampa pikir panjang, saat salah seorang perampok hendak menghujamkan pisaunya kedada Rahmat, Aco yang bermodalkan ilmu silatnya langsung lompat dan menangkap pisau tersebut. meski tangan Aco berdarah, namun ia mampu menghajar kedua perampok tersebut hingga melarikan diri. Rahmat (Pengusaha sukses dibidang pertambangan batubara yang berasal dari tanah Bugis ingin berterima kasih namun Aco sudah berlalu, dan sesampainya dikantor, ternyata ia sudah terlambat dan tidak bisa ikut tes.
Seperti biasa, sore hari Aco lagi lagi melamun dipantai. ( Lagu: Tanah Ogi Wanuwakku) Sebuah mobil berhenti didekat Aco membuat lamunan Aco buyar. Beberapa anak muda dengan berbagai peralatan perang langsung menyerang dan menuduhnya sebagai anak buah Ahong. Aco menolak dituduh tersebut. Namun rombongan tersebut tidak perduli dan terus mengeroyok Aco. Perkelahian seru berlangsung, namun karena jumlah tidak seimbang akhirnya Aco terdesak, seorang anak buah Rustam hendak menyerag Aco dengan mandau dari belakang, Aco berkelit sambal memutar badan dan menendang Mandau yang nyaris merenggut nyawanya hingga terbang, Aco melompat dan menangkap Mandau tersebut dan hendak mengayunkan pada anak muda tadi, tiba-tiba seorang dari mereka berteriak, “ada polisi”. Rombomngan anak muda itu kabur. Aco serta beberapa oaring yang tidak kuat melarikan diri dibawa kekantor polisi, disana ia diintrogasi, dan dijelaskan kalau komplotan yang dia lawan adalah komplotan pengedar narkoba yang menjadi Target operasi Polisi. Dan karena tidak ada bukti keterlibatan Aco dengan komplotan tersebut atau komplotan lain, maka Aco dibebaskan.
Rustam yang sedang berada dirumah Besse , mendapat telpon dari anak buahnya kalau mereka tidak berhasil menghabisi anak muda yang membantu Ahong cs, Rustam geram. Ia menyuruh anak buahnya untuk mencari dan mmenghabisi orang itu. Ibu Besse menanyakan apa yang terjadi. Rustam terpaksa berbohong dan mengatakan kalau ada orang yang ingin menyerobot pertambangannya. Tapi masalah kecil, anak buahnya bisa menyelesaikan sendiri.
Di masjid tempat Aco tinggal sementara, ia berkenalan dengan H Hasan pemilik usaha jual beli alat-alat pertanian yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani didaerah itu. H Hasan menanyakan asal usul Aco juga pekerjaan Aco kenapa tinggal dimesjid. Aco pun menjelaskan kalau ia berasal dari Sulawesi Selatan dan hanya kerja serabutan, karena tidak punya keluarga maka ia menginap di masjid, sekaligus jadi marbot. H Hasan yang juga menceritakan kalau dirinya juga berasal dari Sulawesi Selatan. Ia juga sempat luntang lantung ditanah rantau hingga akhirnya jadi Preman di terminal yang disegani, hingga jadilah dia seperti sekarang ini. (H Hasan berhasil dirantau menggunakan cappa kawali). Ia pun mengajak Aco tinggal dirumahnya, dengan senang hati, Aco menerima tawaran H Hasan.
Sebagai Ketua BPDKKSS, H Hasan menemui Andi Jamaluddin sebagai Ketua BPWKKSS untuk membicarakan rencana pelantikan pengurus BPW KKSS, ia juga mengajak Aco. Andi Jamaluddin Ketua KKSS (Kerukaunan Keluarga Sulawesi Selatan) yang juga anggota DPR didaerah itu.(A Jamaluddin berhasil dirantau Menggunakan cappa lilana) Andi Jamaluddin banyak bercerita tentang rencana kerja Ketua Umum BPPKKSS Tentang Pembangunan Kampus unggulan dll. ( Ini bisa kita ambil cuplikan pidato Ketua Umum BPPKKSS yang berbicara tetang rencana kerjanya kedepan, Bahkan seandainya Bapak KETUM bersedia, Acara ini memang KETUM Pidato tentang KKSS). Kalau KETUM KKSS tidak bisa hadir, acara ini bisa juga diganti dengan acara Pertandingan domino yang dilaksanakan BPW KKSS Kaltim. Setelah itu, H Hasan mengenalkan Aco kepada Andi Jamaluddin. Iapun memeberi nasehat kepada Aco tentang bagaimana hidup diperantauan. Diantaranya: “Tellui somperenna lino: “Lempuu, Getteng, Ada Tongeng na Appasikua. Narimakkuannanaro aaja’ laalo musaala panguju, aja’to mutettangngi sempajangmu, aja’laalo mucapa-capai pappasekku, nasaba’ anu maddupa tu matti”. Artinya: Ada tiga hal yang menjadi kiat utama merantau yakni; Kejujuran, Keteguhan hati, tutur kata yang berlandaskan kebenaran, dan keikhlasan menerima apa adanya. Oleh sebab itu, janganlah kamu salah rencana dan salah melangkah, dan juga janganlah kamu pernah meninggalkan sembahyang lima waktu, serta janganlah kamu memandang remeh petuah ini, karena itu mengandung kebenaran yang akan menjadi kenyataan kelak.
Terjadi perdebatan antara kedua orang tua Besse yang hendak memaksakan kehendak menjodohkan dengan Besse dengan Rustam dengan berbagai alasan, sementara Besse tetap menolak dengan berbagai alasan pula. Karena silau dengan harta Rustam, orang tua Besse menerima lamaran Rustam tampa persetujuan dari Besse Bagi mereka, cinta bisa datang belakangan.
Aco yang tinggal dirumah H Hasan , mengerjakan apa saja, termasuk mengantar jemput Ratna, anak H Hasan kesekolah atau bepergian. Teman-teman Ratna sering menggoda kalau Ratna pasangan serasi dengan Aco Hubungan keduanyapun makin lama makin akrab ibarat sepasang kekasih. H Hasan menawarkan Aco pekerjaan sebagai Satpam, kebetulan ada perusahaan butuh Satpam, kebetulan HRD nya adalah teman H Hasan. Aco pun menerima tawaran itu.
Sebuah mobil mewah datang kekantor dimana Aco bekerja sebagai Satpam. Semua tampak bergegas menyambut termasuk Aco. Rahmat turun dari mobil, Aco memberi hormat, Rahmat menatap Aco dan mengingat kejadian ketika ia diselamatkan oleh Aco . Keduanya saling berkenalan, Rahmat mengajak Aco ketemu Direktur perusahaan tersebut (Pak Martinus asli Dayak, bisa org Toraja, bisa juga Org Dayak untuk menggambarkan bahwa orang Bugis Makasar bergaul dan akrab dgn suku mana saja. ). Pak Martinus menyambut kedatangan Rahmat . Rahmat mengajak Aco ikut masuk. Melihat kehadiran Rahmat bersama Aco, Pak Martinus heran. Rahmat menjelaskan kalau ia berutang nyawa pada Aco dan minta Pak Martinus meperhatikan Aco . Pak Martinus berjanji akan membicarakan dengan bagian HRD untuk mencarikan posisi yang tepat buat Aco Rahmat mengatakan kalau disini tidak ada posisi yang kosong, ia bersedia menampung Aco . Pak Martinus menyanggupi memberi posisi yang cocok untuk Aco . Aco mengucapkan terima kasih lalu pamit keluar.
Bahagian keuangan yang pulang mengambil uang di Bank diikuti perampok 4 orang. Ketika turun dari mobil, tas yang dibawanya dirampas, perampok bergegas naik motor, namun dengan sigap, Aco menerjang sang perampok yang bersenjata api menembak, namun meleset. Perampok terus mengacungkan pestol sambil menembak. Keempat perampok itu melaju dengan motornya, dengan sigap Aco menaiki motor seorang karyawan yang baru sampai dan mengejar ke empat perampok tersebut. terjadi kejar-kejaran ditengah kota antara Aco dengan keempat perampok sesekali perampok menembak Aco , dan sempat menyerempet lengannya. Perampok menembak Aco dan mengenai perut Aco namun Aco terus mengejar. Hingga akhirnya perampok kehabisan peluru. Susul-menyusul dan saling tendang diatas motor terjadi. Disebuah tikungan, motor perampok terjatuh, Aco melompat dan menerjang. Terjadi perkelahian seru. Dua orang berhasil lolos, Aco terus mengejar perampok yang membawa uang. Hingga akhirnya Aco berhasil menendang motor perampok hingga terjatuh. Perampok lari kepantai merampas speed boat yang sedang parkir lalu memacunya degan kencang. Aco meminjam speed boat lalu mengejar perampok. Terjadi kejar mengejar disungai. Kejar-kejaran terus berlangsung hingga akhirnya speed boat Aco sempat sejajar dengan speed boat perampok. Aco melompat ke speed boat perampok dan menghajarnya. Perkelahian diatas speed boat berlangsung seruh hingga akhirnya meski Aco mendapat beberapa luka sabetan pisau namun mampu membekuk perampok tersebut dan uang yang ada ditas terselamatkan.
Dirumah Besse tampak ada kesibukan, ternyata hari itu Rustam akan diadakan penentuan hari Pernikahan dll. (Mappasiarekeng). Besse tampak terus menagis dikamarnya. Ia disuruh berganti pakaian dan dandan namun ia menolak. Ayahnya masuk dan memarahinya dan mengancam akan memukulnya. Besse terpaksa bangkit menuju lemari rias. Ayah Bessepun keluar lagi menemui tamunya.
Semua yang hadir kaget melihat penampilan Besse , rambut acak-acakan, make up yang diolesi bedak dan lipsrtick coreng moreng serta daster usang sehingga lebih mirip orang gila. Ayahnya menarik Besse masuk kedalam kamar. Besse memperotes pernikannya dengan Rustam, dengan berdiri ia menyatakan penolakannya dinikahkan secara paksa. Ayah Besse yang merasa dipermalukan, bangkit dan menyeret Besse masuk kekamarnya.
Dirumah Rustam, Rustam bersemangat menyambut para tamu yang mengenakan pakaian adat untuk pergi mappasiarekeng. Para ibu Hajja mengenakan talulu (Pakaian khas Hajja Bagi Bugis Makasar)
Sementara itu dikamar Besse, Besse bertengkar dengan ayahnya. Ia tetap menolak dinikahkan dengan Rustam. Ia mengambil badik dibalik bantalnya lalu menyerahkan pada bapaknya.
Seorang anak buah Rustam memacu motornya sambil berteriak memanggil Rustam. Semua pada heran. Teman Rustam tadi lompat dari motornya lalu berlari menyeruak tamu-tamu untuk menemui Rustam. Ie membisik Rustam agar cepat kabur karena anakbuahnya yang satu ditangkap polisi menjual Sabu-sabu. Saat yang bersamaan Rustam mendapat telpon dari anak buahnya dari Balikpapan kalau aksinya merampok uang perusahaan gagal lagi dan yang menggagalkan adalah orang sama yang kini jadi satpam (sebenarnya Aco). Rustam geram dan membanting barang-barang yang ada didekatnya. Rustam mengambil barang seadanya lalu bergegas pergi menaiki mobil robiconnya, bersamaan dengan itu muncul motor dan mobil polisi yang hendak menangkapnya, Terjadi kejar kejaran antara mobil Rustam dengan motor dan mobil polisi.
Aco dirawat dirumah sakit, Ratna yang menungguinya. Pak Martinus serta para karyawan datang membesuk. Dan Sebagai ucapan terima kasih, Pak Martinus menyerahkan uang pada Aco namun Aco menolak dengan alasan, itu sudah menjadi tugas dia sebagai bagian keamanan. Cukup uang pengobatannya saja yang ditanggung perusahaan, Pak Martinus pun mengatakan kalau itu sudah menjadi kewajiban perusahaan.
Rahmat datang membesuk, ia kaget karena melihat Aco ditemani seorang gadis cantik. Ketika Ratna keluar ruangan, Rahmat menanyakan siapa gerangan gadis tersebut, apakah isteri atau pacar Aco . Aco menjelaskan kalau Ratna sudah dianggap adik kandung sendiri karena ayah Ratnalah yang menolong dia selama ini, ayah Ratna pulah yang membantunya sehingga dia dapat diterima diperusahaan tempatnya bekerja sekarang.
Aco sudah masuk kantor lagi. Ia dipanggil menghadap oleh Pak Martinus. Ia diangkat sebagai kepala security sekaligus pengawal peribadi Pak Martinus. Dengan fasilitas, mess dan kendaraan dinas.
Aco pindah kemess perusahaan, H Hasan bersama Ratna ikut mengantar. Ratnapun ikut menata dan membersihkan isi mess tersebut. Meski sudah tinggal di Mess, namun Aco masih tetap berkunjung kerumah H Hasan menemani Ratna kemanapun akan pergi masih menjadi kebiasaannya. H Hasan menyatakan kekagumannya pada Aco sebagai anak muda yang ulet, rajin, jujur dan calon suami yang baik.
Dengan Hp barunya, Aco terus berusaha menghubungi nomor telpon Besse namun tidak aktif lagi. Aco bingung bagaimana caranya mencari nomor telpon Besse.
Ditepi pantai, Aco dan Rahmat saling bercerita tentang masa lalu masing-masing. Rahmat menyampaikan kalau sebetulnya ia sudah pernah hampir menikah dengan gadis yang dicintainya, namun sepulang dari photo prewedding, mereka kecelakaan dan calon isterinya itu meninggal. Dan sampai sekarang dia belum menemukan calon yang cocok. Acopun bercerita kalau ia merantau demi cintanya kepada seorang gadis. Ia berusaha mengumpulkan uang dan akan kembali melamar kekasihnya tersebut. Rahmat sempat meneteskan airmata ketika mendengar cerita Aco yang merantau akibat malu karena tidak mampu membayar mas kawin. Sebagai ucapan terima kasih pada Aco yang telah menyelamatkan nyawanya, Rahmat bersedia membantu apapun kebutuhan Aco. Baginya Aco bukan saja sebagai teman, tapi sebagai saudara dunia akhirat. Keduanya berpelukan. Tiba-tiba sebuah tikaman mengarah kebadan Aco untung Aco cepat menghindar sekaligus mendorong badan Rahmat sehingga keduanya lolos dari tikaman badik Rustam. Sejenak Rustam terhenti karena mengenal wajah Aco begitu juga dengan Aco ia mengingat Rustam yang berusaha merebut Besse dari tangannya. Meski Aco menyebut namanya, namun Rustam yang sudah dibakar emosi, kembali menyuruh anak buahnya menyerang Aco. Aco menyuruh Rahmat minggir. Terjadi perkelahian tidak seimbang antara Aco dengan Rustam, membuat anak buah Rustam turun tangan dan mengeroyok Aco. Melihat Aco agak kewalahan dikeroyok anak buah Rustam, tanpa pikir panjang, ia melompat dan membantu Aco. Melihat Rahmat ikut membantu Aco, Seorang anak buah Rustam menikan Rahmat, dengan cepat Aco menendang tangan anak buah Rustam hingga badik terlempar. Aco pun menendang sipengeroyok hingga jatuh pingsan. Kesempatan itu digunakan Rustam untuk menghujamkan badiknya ke perut Aco. Tangan Aco terluka namun terus meyerang Rustam, perkelahian seru antara Rustam dan Aco terus berlanjut. Hingga akhirnya Aco berhasil memelintir tangan Rustam membuat Rustam tidak berkutik. Polisi datang dan mengamankan Rustam cs. Dikantor polisi.
Di rumah sakit tempat Aco dirawat, Polisi mengucapkan terima kasih karena telah membantu polisi menangkap Rustam yang termasuk DPO Polisi karena Rustam disamping pimpinan perampok, ia juga Bandar narkoba.
Seseorang yang tampak bijak, mengingatkan kedua orang tua Besse kalau sudah bukan zamannya kita memaksakan kehendak pada anak-anak kita. Anak adalah manusia ciptaan Tuhan yang punya akal pikiran, serta perasaan. Setelah dinasehati panjang lebar. Pembicaraan terhenti karena mereka melihat berita tentang penangkapan Rustam yang gembong rampok sekaligus bandar narkoba. Ayah Besse yang melihat berita itu sangat terpukul dan menyatakan penyesalannya. Ia nyaris menjerumuskan anak dengan menikahkannya dengan orang yang salah. Ayah Besse masuk kamar dan melepaskan tali yang mengikat tangan Besse Ia memeluk Besse dan menyatakan penyesalannya.
Besse jadi senang karena baginya, terbuka lagi peluang untuk menjalin hubungan dengan Aco namun yang jadi masalah, ia tidak tau nomor Hp Aco Begitu juga dengan Aco dengan tertangkapnya Rustam, maka peluang untuk melanjutkan hubungannya dengan Besse terbuka, namun persoalan keduanya sama, nomor Hp. Besse terus berusaha mencari nomor Hp Aco begitu juga dengan Aco terus mencari nomor hp Besse
Rahmat menyampaikan pada Aco kalau ia akan pulang ke Makasar, dan akan menetap di Makasar. Karena akan menggantikan posisi ayahnya sebagai Dirut. Meski diajak pulang ke Makasar dan bekerja diperusahaannya, namun Aco masih ingin tetap di Balikpapan . Ia cuma berpesan, seandainya Rahmat pulang kampung, agar Rahmat mencarikan nomor telepon Besse Karena Besse adalah segalanya bagi Aco, Rahmatpun berjanji untuk membantu Aco mencarikan Besse.
Aco berhasil menemukan nomor Hp Besse dari salah seorang temannya yang baru datang dari kampung dan hendak melanjutkan perjalanan kedaerah lain. Dengan penuh semangat, Aco menghubungi nomor Besse Besse sempat mengangkat hp nya dan menanyakan siapa yang menelpon namun karena didipinggir jalan dan ribut karena suara kendaraan yang lalulalang, maka suara Aco kurang jelas. Besse pun memamatikan Hpnya. Aco kembali menghubunginya, Besse pun mengangkat hpnya namun belum sempat bicara Hp Besse dijambret. Besse berusaha berteriak dan mengejar jambret namun tidak berhasil. Aco berkali -kali menghubungi Besse namun tidak berhasil, Aco kembali kecewa, ia mencoba menghubungi temannya yang memberikan nomor Besse namun nomor temannya tersebut tidak aktif (sudah ganti nomor).
Rahmat yang sudah pindah ke Makassar, diajak kedua orang tuanya menghadiri acara pernikahan kerabatnya di Kampung. Upacara pernikahan secara adat berlangsung meriah. Rahmat bersama keluarga hadir begitu juga dengan Besse bersama kedua orang tuanya. Kedua keluarga yang ternyata masih ada hubungan keluarga itupun bertemu. Rahmat tampak tertarik dengan Besse . Ketertarikan Rahmat bisa terbaca oleh kedua orang tuanya. Sepulang dari pesta. Kedua orang tua Rahmat meminta Rahmat segera menikah, disamping karena dia pengen segera menimang cucu, Rahmat juga sudah termasuk perjaka tua. Kedua orang tua Rahmat langsung memilih Besse sebagai calon isteri yang cocok. Disamping cantik, Besse juga masih kerabat dekatnya. Kakek Rahmat masih adik kakak dengan dengan nenek Besse Rahmat pun setuju. (Rahmat tidak tau kalau Gadis yang dijodohkan dengannya itu adalah Besse karena kedua orang tua mereka selalu menyebut nama “Rosnawati” sementara nama Rosnawaty sangat banyak di Sulawesi Selatan”.
Aco terus teringat Besse dan mengenang masa indah bersama Besse Begitu juga dengan Rahmat sedang melamun membayangkan wajah Rosnawaty. Besse pun demikian sedang melamun sambil membayangkan secara bergantian antara wajah Aco dan Rahmat. (Diringi lagu Bugis).
Ayah Besse mengharap Besse menerima lamaran Rahmat namun ia tidak memaksa, ia hanya mengingatkan jangan sampai Besse menunggu Aco sementara Aco sudah bersama wanita lain. Ayah Besse pun memberi beberapa contoh pemuda yang merantau dan pulang membawa isteri padahal punya pacar bahkan. Bahkan ada yang sudah punya anak isteri tapi menikah lagi diperantauan. Besse mulai goyah terbukti selama ini tidak ada kabar berita dari Aco. Teman-teman Besse pun mendukung Besse agar menerima lamaran Rahmat yang tajir melintir, dari pada mengharap Aco yang tidak ketahuan ujung rimbanya..
Tampak Pak Martinus berbincang dengan Aco. Pak Martinus mendukung bila Aco menikahi Ratna, iapun bersedia membiayai pernikahan Aco. Aco tersenyum dan menyampaikan kalau Ratna dianggapnya sebagai adik, dan ia akan pulang kampung menikahi kekasihnya bila uangnya sudah cukup untuk membayar mahar yang diminta keluarganya. Pak Martinus menyatakan kesediaannya membantu Aco membayar Mas kawin yang diminta orang tua gadis pujaannya.
Disebuah tempat, Besse ketemu dengan Rahmat. Bersse ingin menceritakan masa lalunya dan hubungannya dengan seseorang (Aco) namun dicegat oleh Rahmat dengan alasan, masing masing kita punya masa lalu biarkanlah masa lalu itu menjadi milik kita dan menjadi rahasia masing masing. Mari kita membuka lembaran baru untuk kita hadapi kita berdua. Rahmat memandang Besse, Besse tertunduk.(Teringat dgn janjinya dgn Aco (Lagu Jannci Mutaroe Mengalun)
Berita gembira pernikahan Rahman disampaikan pada Aco. Ia akan menikah dengan seorang gadis bernama Rosnawati , sedikitpun Aco tidak curiga kalau Rosnawati yang dimaksud adalah Besse kekasihnya. Rahmat mengharapkan Aco hadir dihari bahagianya. Aco pun menyambut gembira kabar pernikahan sahabatnya itu dan menyatakan kesediannya untuk datang sekaligus mengulang lamaran pada Besse karena Pak Martinus bersedia membantu membayar mas kawinnya, Rahmat pun langsung menyatakan kesediaannya untuk membantu berapapun biaya yang diminta Aco. (Aco pun teringat dengan Janjinya dengan Besse. (Taro Ada Taro Gau) dia harus membukatikan katakata yang pernah ia ucapkan.
Aco menelpon orang tuanya menyampaikan kalau ia kan pulang kampung. Kedua orang tuanya sangat gembira. Ia minta orang tuanya mencari tau tentang keberadaan Besse. Ayah ibu Aco menyampaikan kalau orang tua Besse menjual rumah dan pindah ke Makasar karena malu, Besse tidak jadi menikah dengan Rustam yang ternyata Bandar Narkoba dan buronan polisi. Orang tua Aco juga menyampaikan kalau sebelum pindah, Besse pernah datang menyampaikan kalau Ayahnya bersedia menerima lamaran Aco berapapun mas kawin yang disanggupi. Aco sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Aco pun menyampaikan kepada Rahmat bahwa ia akan datang menghadiri reesepsi pernikahan Rahmat sekaligus melamar dan menikahi Besse. Kedua sahabat ini tampak bahagia.
Juru rias pengantin sedang mendandani Rahmat. Ia kaget karena mendengar kabar kalau Aco kecelakaan saat menuju bandara. Sehingga ia tidak bisa menghadiri acara pernikahannya.
Kemesraan dan kebahagiaan pengantin baru dirasakan pulah oleh Rahmat dan Besse Beberapa tempat didatangi untuk berbulan madu. Besse seakan lupa pada Aco. Besse pun menyampaikan pada Rahmat kalau ia positif hamil. Rahmat keduanya sangat bahagia dan berpelukan mesra. Kesmesraan keduanya terputus oleh suara telpon yang berdering. Ternyata Aco yang menelpon, dan menyampaikan kalau dia mau pulang kekampung untuk melamar kekasihnya. Rahmat sangat senang mendengar kabar kedatangan Aco. Ia akan menjemput Aco dari Bandara, dan harus nginap dulu dirumahnya untuk dikenalkan dengan isterinya. Setelah itu mereka akan mengantar Aco pulang kampung untuk sama-sama menlamar kekasih Aco. Rahmat bercerita pada Besse, kalau sahabat karibnya di Balikpapan yang sudah dianggap sebagai saudara akan datang.
Kedatangan Aco disambut dengan senang hati oleh Rahmat. Kedua orang teman ini berpelukan melepas kangen.namun betapa kagetnya Rahmat ketika saat berepelukan itu, ia melihat Besse (kekasihnya) muncul dari dalam. Tampa terasa, Aco melonggarkan pelukannya, begitu juga dengan Besse yang tadinya sumringah mendadak terpaku. Tinggal Rahmat yang heran melihat perubahan sikap Isteri dan sahabatnya itu, untung Aco dan Besse bisa cepat menguasai diri. Suasana pertemuan agak mencair kembali . Rahmat mengenalkan Aco pada Besse . Rahmat juga mencaritakan kalau Besse juga asalnya dari kampung yang sama dengan Aco, begitu juga kepada Besse Rahmat juga menceritakan pada Besse tentang Aco yang merantau karena tidak mampu membayar mas kawin pada gadis yang sangat dicintainya dan selama di Kali mantan, Aco hanya memikirkan kekasihnya dan berjuang mencari uang untuk segera kembali melamar kekasihnya. Besse disamping kasihan, ia juga merasa bersalah karena telah menghianati cinta Aco Aco pun serba salah karena yang merampas kekasihnya adalah teman akrab yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri.
Karena tidak tahan melihat kekasihnya dalam pelukan orang lain, Aco yang sedianya menginap, langsung pamit, namun Rahmat tidak mengijinkannya, Aco harus nginap. Ia memaksa Aco masuk kekamar yang sudah disiapkan oleh Besse . Dengan terpaksa Aco pun menginap.
Usai makan malam, bertiga istirahat diruang keluarga. Besse mengupaskan apel lalu menaruhnya dipiring kecil. Rahmat mengambil dan menyodorkan pada Aco yang terus melamun. Aco kaget lalu meraih aple yang sudah dikupas tersebut. Tiba-tiba hp Rahmat bordering, ia ditelpon untuk menghadiri rapat RT. Dan sebagai warga baru, wajib hadir untuk bersilaturahmi dengan warga setempat. Rahmatpun pamit pada Aco dan mepersilahkan Aco dan Besse ngobrol-ngobrol.
Sepeninggal Rahmat, suasana kaku dan hening beberapa saat. Hingga akhirnya keduanya bersamaan bicara, lalu keduanya diam, lalu sama-sama bicara lagi, kemudian sama –sama diam lagi. Keduanya diam sejenak lalu Aco mempersilahkan Besse bicara, namun Besse mempersilahkan Aco bicara duluan. Aco pun bicara dengan air mata yang menates karena menahan emosi. Aco menyalahakan Besse yang mengingkari janji untuk menunggunya sampai kapanpun. Sementara Besse menyalahkan Aco yang tidak pernah ada kabar beritanya.. Terjadi pertengkaran dan saling menyalahkan diantara keduanya. Aco kehilangan kendAco dan berusaha mencium Besse namun Besse menolak karena kini sudah menjadi isteri orang lain dan wajib menjaga siri suaminya. Aco terdiam, Rahmat mengetuk pintu sambil mengucap salam. Aco dan Besse mengusap air mata seakan tidak terjadi sesuatu. Besse lalu bergegas membuka pintu. Rahmat masuk dengan senyum. Ketiganya duduk dalam suasana hening. Untuk mencairkan suasana, Besse menanyakan hasil rapat Rahmat. Rahmat tersenyum getir, lalu dengan pelan ia menyampaikan kalau sebenarnya ia tidak pergi rapat. Telpon tadi adalah telpon bohongan. Ia curiga ada sesuatu antara isteri dan sahabatnya, sehingga ia membiarkan keduanya bicara. Dan iapun sudah tau duduk persoalannya. Aco dan Besse kaget. Dengan tenang Rahmat menenangkan keduanya. Ia mengatakan kalau keduanya tidak salah, yang salah adalah dirinya… cuma masalahnya bagaimanapun juga Besse sudah menjadi isterinya, “sirinya”. Rahmat menarik napas lalu tiba-tiba berdiri dan berteriak “karena isteri saya adalah harga diri saya, maka siapapun tidak boleh menyentuhnya”. Rahmat marah karena ia menyaksikan Aco berusaha memeluk Besse . Sebagai laki-laki yang punya harga diri, ia menantang Aco duel. Rahmat mengatakan, dua orang saudara harus bertarung nyawa demi “siri”nya. Aco diam, Rahmat mempersilahkan Aco mengambil badiknya, karena baginya tidak adil bila ia bertarung dengan Aco tampa badik.
Merasa terus ditantang, Aco jadi marah. “ Baik, saya diam bukan karena takut, tapi karena berhadapan dengan orang dulu pernah berikrar menjadi saudara saya dunia akhirat. Kalau kamu marah karena saya telah menyentuh isterimu, dan untuk itu saya sudah minta maaf karena hilaf, maka sekarang saya marah karena disamping kamu telah merampas kekasih saya, kamu menutup pintu maaf dan terus menantang saya”. Suasana tegang makin meninggi, pertarungan dua sahabat seakan tidak terelakkan, Tiba-tiba Besse meraih pisau pengupas apel dan siap menancapkan kedadanya. Sekali lagi Besse mengingatkan, dari pada Rahmat dan Aco saling bunuh, lebih baik dirinyalah yang mati. Kepada Rahmat, Besse mengingatkan dia tau kalau menjaga “siri” bagi orang Bugis adalah diatas segalanya dan nyawa adalah taruhannya. Tapi “siri“ yang mana yang membuat Rahmat berang, dan harus bertarung nyawa. Aco memang ingin memeluk dirinya dan itu ditolaknya karena menjaga harga dirinya harga diri Rahmat yang kini menjadi suaminya dan Aco memahami itu dan mengurungkan niatnya. Kepada Aco, Besse mengingatkan kalau dirinya tidak dirampas oleh Rahmat, tapi karena dirinya menerima dengan ikhlas lamaran Rahmat karena kekasih yang diharapkan tiada kabar berita, bagai ditelan bumi. Apakah dirinya harus menjadi perawan tua karena menunggu yang tak pasti. Apakah kehilafan seorang sahabat harus diakhiri dengan saling membunuh. Kalau kali an berikrar sebagai saudara dunia akherat, kenapa pintu maaf, kali an tutup. Rahmat dan Aco terdiam. Pada saat yang bersamaan, Pak RT datang karena mendengar ada keributan. Rahmat mengatakan kalau hanya pertengkaran kecil. Aco pamit pergi. Karena tidak ada lagi mobil yang bisa mengantarnya pulang kampung, Aco pun menginap dihotel. Ditengah malam, seorang mengenakan masker mengendap-endap memasuki rumah Rahmat, ia memasuki kamar Rahmat dan langsung menyerang Rahmat dengan badik yang sudah disiapkannya. Untung Besse terbangun membuat sang penyerang kabur meninggalkan Rahmat yang bersimbah darah.
Dihotel tempat Aco menginap, tampak Aco buru buru menyeret kopernya keluar dari hotel, namun tiba tiba ia diserang seseorang yang menegenakan masker. Untung Aco refleks menghindari tikaman badik. Namun tetap mengenainya namun tidak terlalu fatal. Sang penyerang membuka masker dan ternyata dia adalah Rustam, dia menyatakan dendamnya pada Rustam yang telah memmbantu Ahong dan membuatnya nyaris tertangkap polisi. Rustam juga menyampaiakan kalau dia sudah menghabisi Rahmat yang bukan saja memabntu Aco tapi juga menikahi Besse. Terjadi perkelahian antara Aco dengan sang penyerang hingga akhirnya Aco dapat mengusai badik sang penyerang dan menikamkan keuluh hati membuat penyerang terkapar. Setelah membuka masker penyerang ternyata dia adalah Rustam. Diruang Gawat Darurat, berjejer Aco dan Rahmat yang terluka juga mayat Rustam. Dirumah Rahmat, Polisi memeriksa CCTV. Dihalaman rumah sebelum masuk, Rustam mengenakan topeng. Jelaslah kalau yang hendak membunuh Rahmat adalah, Rustam, bukan Aco.
Disebuah gedung, tampak tulisan “Selamat Datang Para PesertaTudang Sipulung SAUDAGAR BUGIS MAKASAR. Sebagai ketua BPWKKSS di salah satu propinsi di Indonesia sekaligus sebagai pengusaha sukses di Daerah tersebut (Untuk sementara sebut saja KalTim) A Jamaluddin datang bersama Aco yang menuntun buah hatinya bersama Ratna. Begitu juga dengan Rahmat yang menuntun buah hatinya bersama Besse Kedua sahabat itupun berpelukan. Begitu juga dengan isteri masing-masing saling cipika-cipiki. Rahmat memandang anak mereka yang laki sementara anak Aco yang perempuan. Untuk mempererat hubungan mereka, Ia berniat menjodohkan anaknya dengan anak Aco. Besse langsung menimpali agar jangan sebarang ikrar, Kita jangan mengulangi kesalahan masalalu orang tua kita, dengan berikrar menjodohkan anak-anak mereka. Biarlah mereka yang memutuskan, mudah mudah sesuai dengan harapan kita. Peserta Pertemuan Saudagar Bugis Maksar sdh memasuki ruangan pertemuan yang dihadiri tokoh tokoh Bugi Makasae dari segala penjuruh. Bila Ketua Umum BPPKKSS berkenan hadir, diisi dengan pidato beliau.













