Narasi Analisis Keracunan pada MBG

0
25
- Advertisement -

Kolom Firayanti Amelia 

Sebagai mahasiswa S2 Ilmu Gizi yang mempelajari Keamanan Pangan, saya memahami bahwa penerapan Manajemen Berbasis Gizi (MBG) tidak hanya menekankan pada kecukupan nutrisi, tetapi juga sangat bergantung pada aspek keamanan pangan di setiap tahapan penyediaan makanan. Salah satu isu penting dalam konteks tersebut adalah keracunan pangan.

Keracunan pangan merupakan kondisi akut yang terjadi akibat konsumsi makanan yang terkontaminasi bahan kimia, racun alami, atau mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, atau Staphylococcus aureus. Dalam kerangka MBG, kasus keracunan mencerminkan kegagalan pengendalian risiko dalam rantai penyediaan pangan. Artinya, meskipun menu telah disusun dengan nilai gizi seimbang, makanan tetap dapat membahayakan bila aspek keamanannya tidak dikelola dengan baik.

Berdasarkan analisis yang saya lakukan, terdapat beberapa titik kritis yang berpotensi menyebabkan keracunan pada MBG. Pertama, pemilihan bahan pangan yang tidak aman. Bahan yang rusak, terpapar pestisida berlebih, atau tercemar mikroba dapat menjadi sumber keracunan.

Kedua, poses pengolahan yang tidak higienis. Penjamah makanan yang tidak mencuci tangan, penggunaan peralatan kotor, atau proses pemasakan yang tidak mencapai suhu aman dapat memicu pertumbuhan patogen.

Ketiga, penyimpanan yang tidak sesuai standar. Penyimpanan pada suhu ruang terlalu lama, pendinginan lambat, atau pencampuran makanan mentah dan matang meningkatkan risiko kontaminasi.

Keempat, distribusi dan penyajian yang tidak terkontrol. Ketidaktertiban dalam penyajian, terutama pada institusi besar seperti sekolah, panti, atau layanan boga, dapat mempercepat kerusakan makanan.

Sebagai calon ahli gizi, saya menyadari bahwa peran kami bukan hanya memastikan kecukupan nutrisi, tetapi juga melindungi konsumen dari bahaya pangan. Karena itu, analisis keracunan dalam MBG menjadi dasar penting untuk memastikan bahwa seluruh proses penyediaan makanan mematuhi prinsip keamanan pangan seperti Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

Kesimpulannya, keracunan pada MBG bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menjadi cerminan bahwa pemenuhan gizi harus berjalan berdampingan dengan sistem keamanan pangan yang ketat. Edukasi, pengawasan, serta penerapan standar keamanan pangan merupakan fondasi penting untuk mencegah kejadian keracunan, sehingga makanan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman, bermutu, dan layak konsumsi.

Penulis, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi – Mata Kuliah Keamanan Pangan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here