Bintang Jasa untuk Menteri Amran, Penanda Kepercayaan Presiden Prabowo

0
47
- Advertisement -

Kolom Ismawan Amir MSc
Türkiye–Indonesia Scholars Network

Penghargaan negara dalam sistem politik modern selalu berfungsi ganda, sebagai pengakuan kinerja dan sebagai instrumen komunikasi kekuasaan. Ia menandai prioritas, memperlihatkan preferensi kepemimpinan, sekaligus mengirim sinyal kepada publik dan birokrasi tentang arah kebijakan yang hendak ditegaskan.

Karena itu, penganugerahan Bintang Jasa Utama oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman layak dibaca sebagai peristiwa politik yang sarat makna, melampaui dimensi seremoni kenegaraan.

Fakta bahwa penghargaan tersebut diberikan kepada satu orang menteri, dan hanya satu pada fase awal pemerintahan memperkuat bobot simboliknya.

Dalam tradisi politik, selektivitas semacam ini jarang bersifat kebetulan. Ia mencerminkan kalkulasi strategis tentang sektor mana yang dianggap paling menentukan, serta figur mana yang dinilai mampu mengemban beban kebijakan dengan risiko politik tertinggi.

Dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo, sektor pangan menempati posisi sentral. Ketahanan pangan tidak berhenti pada urusan produksi dan distribusi, tetapi menjadi penopang stabilitas sosial dan legitimasi kekuasaan.

Maka, pilihan simbolik terhadap Menteri Pertanian dapat dibaca sebagai penegasan awal tentang orientasi kebijakan negara dan pola kepercayaan yang hendak dibangun.

Dalam politik kekuasaan, simbol kerap berbicara lebih jujur daripada pidato. Ia menunjukkan pilihan, arah, dan tingkat kepercayaan. Bintang Jasa untuk Menteri Amran berfungsi sebagai penanda siapa yang dinilai paling mampu menerjemahkan visi presiden ke kerja nyata, khususnya di sektor paling sensitif dalam kehidupan bernegara.

Pangan tidak pernah sepenuhnya teknis. Ia menyentuh dapur rakyat, harga pasar, stabilitas sosial, bahkan rasa aman kolektif. Banyak pemerintahan di berbagai belahan dunia goyah akibat kegagalan mengelola kebutuhan paling dasar warganya.

Karena itu, keputusan Presiden Prabowo menaruh kepercayaan besar pada Menteri Pertanian lebih tepat dibaca sebagai langkah strategis yang menyentuh jantung pemerintahan.

Dalam perspektif komunikasi dan branding kepemimpinan, kepercayaan menempati nilai tertinggi. Ia tumbuh dari konsistensi tindakan, dari kerja yang dapat dilihat dan dirasakan publik.

Andi Amran Sulaiman, dengan gaya kerjanya yang keras, cepat, dan kerap tanpa kompromi, sejak awal memosisikan diri sebagai pemecah masalah. Ia lebih sering hadir di sawah, gudang beras, atau rapat darurat di selepas shalat subuh. Gaya ini acap kali memicu gesekan, namun justru membentuk identitas yang mudah dikenali.

Pada fase ini, Bintang Jasa bekerja sebagai sinyal kekuasaan. Ia mengirim pesan. Ke publik, ia menegaskan kehadiran negara. Ke pasar, ia memberi keyakinan bahwa pemerintah memegang kendali. Dalam bahasa branding, ini berfungsi sebagai positioning statement yang kuat, disampaikan tanpa perlu banyak kata.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Philip Kotler, pakar pemasaran dan branding dunia, yang menekankan bahwa kekuatan sebuah merek, termasuk personal brand pejabat publik, bertumpu pada kejelasan posisi dan tingkat kepercayaan publik.

Dalam konteks politik, simbol yang kredibel mempercepat pembentukan kepercayaan karena legitimasi dibaca dari pengakuan institusional, bukan dari klaim personal.

Kepercayaan, tentu saja, datang bersama risiko. Semakin tinggi legitimasi simbolik, semakin besar ekspektasi publik. Menteri yang telah diberi penanda kepercayaan akan selalu dibaca sebagai perpanjangan tangan presiden. Setiap kebijakan tidak lagi dipersepsikan sebagai keputusan sektoral semata, melainkan sebagai refleksi arah kepemimpinan nasional. Ruang kesalahan menyempit, sorotan membesar.

Karena itu, Presiden Prabowo membutuhkan menteri yang tidak hanya paham teknis, tetapi juga siap menanggung risiko reputasi. Sektor pangan menuntut keputusan cepat, tegas, dan sering kali tidak populer. Setiap pilihan membawa konsekuensi politik. Dalam situasi seperti itu, kepercayaan presiden menjadi penopang utama agar seorang menteri tetap berdiri tegak di tengah tekanan.

Di sinilah nilai strategisnya menjadi terang. Presiden Prabowo tidak sedang membangun popularitas jangka pendek. Ia menanam apa yang dalam bahasa branding disebut brand governance, pemerintahan yang menghargai kerja lapangan, ketegasan sikap, dan keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu menyenangkan semua pihak.

Dalam kerangka ini, Andi Amran Sulaiman tampil bukan semata sebagai menteri teknis, melainkan representasi kebijakan pangan nasional

Bintang Jasa yang disematkan itu berfungsi sebagai tanda kebijakan prioritas presiden. Presiden telah mengirim sinyal paling terang tentang siapa yang ia percaya untuk menjaga sektor paling menentukan dalam negara. Dalam political branding, kepercayaan adalah aset paling mahal, sulit dibangun, mudah tergerus, dan selalu diuji oleh waktu.

Memasuki awal 2026, publik membaca satu pesan yang jelas dari Istana. Menteri Andi Amran Sulaiman sebagai menteri kepercayaan Presiden Republik Indonesia. The guardian of national food security.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here