Dengan-Ku, Dia Melihat, Dia Bicara, Dia Mendengar dan Dia Berjalan

0
30
- Advertisement -

Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati Budaya, Ekonomi dan Politik

MALAM itu, langit menggantung rendah, saat angin tak lagi terasa seperti angin. Di tepi jalan itu, yang basah oleh sisa hujan, Rahman berdiri. Lampu-lampu kota berpendar seperti mata yang setengah terjaga.

Rahman baru saja kehilangan segalanya. Kehilangan pekerjaan, kehilangan harga diri, pun kehilangan keyakinan bahwa dirinya adalah pengendali hidupnya sendiri. Selama ini, ia percaya bahwa dirinyalah yang berjalan. Dirinyalah yang mendengar. Dirinyalah yang melihat. Dirinyalah yang menggenggam nasibnya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, dirinya merasakan sesuatu yang aneh. Langkahnya terasa seperti bukan miliknya. Ia berjalan, namun sepertinya ada sesuatu yang berjalan melalui dirinya. Seperti sungai yang tak pernah memiliki air, melainkan hanya menjadi jalan bagi air untuk lewat.

Tak dinyana, Rahman terhenti di depan sebuah masjid kecil yang lampunya masih menyala. Tak ada suara disana, kecuali detak jantungnya sendiri. Dalam hening malam itu, Rahman merasakan sesuatu yang lebih sunyi dari sunyi. Sebuah kehadiran yang tak berbentuk, namun lebih nyata dari tubuhnya sendiri.

Rahman duduk di depan mimbar mesjid. Ia hanya diam, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak meminta apa-apa.

Hari-hari setelah malam itu, ia menjadi aneh. Rahman mulai menyadari bahwa ia mendengar hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia dengar. Bukan suara keras, melainkan suara-suara yang tersembunyi di balik suara. Ia mendengar kelelahan dalam tawa orang-orang di sekitarnya. Ia mendengar ketakutan dalam kemarahan. Ia mendengar doa-doa yang tidak pernah diucapkan dengan bibir.

Suatu hari, di sebuah halte, seorang lelaki tua duduk di sampingnya. Lelaki itu tersenyum. Namun Rahman mendengar sesuatu yang lain. Sebuah patah yang berderak pelan di dalam dadanya. Tanpa pikir panjang, Rahman berkata, “Tidak apa-apa. Kehilangan bukan akhir dari segalanya.”

Rahman terkejut dengan kata-katanya sendiri. Ia tak tahu dari mana kalimat itu datang. Sejurus kemudian, lelaki tua itu menangis. Rahman merasakan sesuatu yang bergetar di dalam dirinya. Bukan kebanggaan, melainkan kehampaan yang hangat. Seperti bambu kosong, yang justru karena kosongnya, ia bisa menjadi seruling bagi angin.

Perlahan Rahman mulai mengerti. Bukan dirinya yang mendengar. Justru ada Yang Mendengar melalui dirinya. Penglihatannya pun berubah. Dunia yang sama, namun maknanya berbeda. Ia melihat seorang anak kecil memungut botol plastik di pinggir jalan, dan tiba-tiba dunia terasa seperti cermin retak, yang memantulkan kenyataan yang selama ini ia abaikan.

Ia melihat ibunya menyapu halaman, dan untuk pertama kalinya ia melihat cinta dalam gerakan ibunya yang begitu sederhana. Cinta yang tak pernah meminta pengakuan.

Ia melihat langit, dan langit tak lagi terasa jauh. Ia seperti melihat sesuatu yang sedang melihat melalui matanya. Seperti cahaya yang meminjam bola matanya hanya untuk menyaksikan ciptaan-Nya sendiri.

Rahman mulai takut. Bukan takut pada sesuatu di luar dirinya. Ia takut karena dirinya mulai menghilang.

Suatu pagi, di depan pasar, seorang pemuda mencoba merampas tas seorang perempuan. Orang-orang berteriak. Begitu mendengar teriakan itu, tubuh Rahman bergerak cepat. Ia langsung berlari, dan menangkap tangan pemuda itu. Namun anehnya, ia tidak merasakan kemarahan. Yang ia rasakan hanyalah keheningan yang dalam. Seperti samudra yang tidak pernah marah pada ombak.

Pemuda itu gemetar. Rahman menatap matanya. Dan tanpa tahu mengapa, ia berkata pelan, “Kamu tidak perlu menjadi pencuri seperti ini.” Pemuda itu menangis. Tangannya terlepas. Ia jatuh berlutut. Rahman berdiri diam, napasnya tenang. Ia tidak merasa seperti pahlawan. Ia merasa seperti jendela yang baru saja dilewati cahaya.

Dan untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh bahasa. Tangannya bukan miliknya. Ada Yang Memukul melalui tangannya. Bukan untuk melukai, namun untuk menghentikan luka kehidupan.

Hari-hari berikutnya, Rahman berjalan seperti biasa. Namun kini, setiap langkahnya terasa seperti dituntun oleh sesuatu yang tidak terlihat. Ia tak lagi merasa bahwa ia yang berjalan. Ia merasa seperti jalan itu sendiri. Seperti bumi yang tidak pernah berjalan, namun ia menjadi tempat bagi langkah untuk berjalan.

Suatu pagi, saat matahari terbit, ia berdiri di tepi laut. Cahaya keemasan menyentuh wajahnya, dan untuk sesaat, ia tak tahu di mana dirinya berakhir dan di mana cahaya itu bermula. Ia menutup matanya. Dan dalam keheningan itu, ia mengerti. Selama ini, ia berpikir bahwa dirinya adalah pelaku. Namun ternyata dirinya hanyalah alat. Dirinya hanyalah seruling. Dirinya hanyalah jendela. Dirinya hanyalah jalan.

Dan ketika dirinya benar-benar kosong, ketika ia tak lagi menggenggam apa pun. Tak lagi menggenggam dirinya sendiri. Saat itulah barulah ia merasakan sesuatu yang tak terlukiskan. Bahwa ada Pendengaran yang mendengar melalui telinganya. Ada Penglihatan yang melihat melalui matanya. Ada Kekuatan yang bergerak melalui tangannya. Ada Kehendak yang berjalan melalui langkahnya.

Saat itu juga, air matanya jatuh tanpa ia tahu mengapa. Bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata seseorang yang akhirnya mengerti bahwa ia tak pernah sendirian. Bahwa sejak awal, ia tak pernah benar-benar menjadi siapa-siapa. Ia hanyalah tempat di mana Tuhan memilih untuk hadir.

Dan …
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rahman tak lagi merasa ingin menjadi apa pun, lantaran ia merasa dirinya sudah tak ada. Dan justru di dalam ketiadaan itulah, ia menemukan Yang Maha Ada. Wuiihh indahnya. Weleh, weleh, weleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here