Catatan Alif we Onggang
Setiap pemimpin memiliki keunikan masing-masing. Adalah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Abdul Rivai, sosok otentik yang tidak mudah disederhanakan dalam beberapa kalimat. Pada dirinya, ketegasan seorang prajurit berpadu dengan kelapangan hati seorang pemimpin yang matang ditempa pengalaman.
Rivai dikenal tegas dalam prinsip dan keputusan. Sikapnya lugas, tutur katanya langsung pada pokok persoalan, tanpa berputar-putar. Tak suka basa-basi, khas tentara. Dalam forum organisasi seperti di Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), yang ia pimpin pada periode 2009-2014 maupun dalam percakapan pribadi, ia tidak segan mengingatkan bila ada hal yang dianggap kurang tepat. Namun ketegasan itu tidak pernah berubah menjadi keras hati. Justru di situlah letak keunikannya: tegas, tetapi pemaaf.
Ia mampu membedakan antara kesalahan dan orang yang berbuat salah. Setelah menegur, ia membuka dialog. Setelah mengingatkan, ia memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak ada dendam berkepanjangan. Sikap itu membuat banyak orang tetap merasa dihargai, meski pernah dikritik atau ditegur. Sejumlah teman pernah mengalaminya.
Dalam pergaulan, ia egaliter, tanpa dibatasi sekat sosial. Jabatan dan pangkat tidak pernah menjadi jarak. Sebagai mantan Pangdam dan Ketua Umum KKSS, ia tetap mudah ditemui, mau duduk bersama siapa saja: tokoh, pengurus, maupun warga biasa. Dalam berbagai acara, ia kerap memilih duduk di belakang, padahal kursi khusus telah disiapkan di depan.
“Ah, di sini saja. Sama-sama ada kursinya,” katanya enteng.
Baginya, kepemimpinan bukan soal dihormati, melainkan soal memberi layanan dan contoh.
Pun Rivai sesempatnya menghadiri warganya yang tertimpa musibah, membesuk di rumah sakit, atau memenuhi undangan hajatan meski yang mengundang tidak dikenalnya secara pribadi. Sehari, ia bisa mendatangi tiga acara sekaligus. Jika menghadiri undangan pembesar itu lazim. Tapi ketika yang punya hajat rakyat kebanyakan, di situlah keistimewaannya.
Pernah seorang warga KKSS mengundangnya ke pesta pernikahan fiktif — hanya iseng, sekadar berharap dikirimi passolo. Siapa sangka, Rivai benar-benar datang. Tentu ia masygul merasa dikerjai, dan Rivai hanya tertawa mengenangnya.
Maklum, Rivai jauh dari sikap feodalisme. Dalam kultur Bugis-Makassar yang sarat hierarki, ia justru menunjukkan wajah kepemimpinan yang membumi. Ia tidak menuntut perlakuan istimewa. Ia kuat dalam prinsip, tetapi lentur dalam relasi. Kombinasi itulah yang membuatnya dihormati.
Lulusan Akademi Militer tahun 1968 ini pernah menjabat Komandan Divisi Infanteri 2 Kostrad sebelum dipercaya memimpin Kodam Udayana. Lahir di Soppeng, 5 Agustus 1943, ia dikenal sebagai prajurit yang “to the point”.
Namun di balik ketegasan itu tersimpan kehangatan dan kepedulian. Ia ringan tangan membantu, mudah merogoh kocek untuk amal.
Saat menjabat Pangdam Udayana (1995–1997), situasi Timor Timur memanas oleh konflik dengan Fretilin. Ia bahkan kerap berdialog dengan Uskup Belo, mencari titik temu demi masa depan wilayah tersebut. Sebuah ikhtiar diplomasi kemanusiaan yang menunjukkan bahwa prajurit sejati tidak hanya mengandalkan kekuatan.
Belakangan, ia didapuk menjadi anggota DPR RI dari Fraksi ABRI. Ketika Timor Timur akhirnya lepas dari Indonesia, ia sedih—namun menerima itu sebagai bagian dari risiko demokrasi.
Di KKSS, ia lebih dulu menjadi Wakil Ketua Umum pada masa kepemimpinan Mohammad Taha, sekaligus Pelaksana Harian yang mendapat mandat mewujudkan kantor tetap KKSS. Amanah itu dituntaskan dengan hadirnya kantor BPP KKSS di Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat—yang hingga kini menjadi rumah bersama warga.
Ketika menjadi Ketua Umum, Rivai menggagas lahirnya Mars/Hymne KKSS yang kini selalu dikumandangkan dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar dan berbagai perhelatan penting. Ia juga memberi perhatian besar pada Majalah PINISI, media pengikat silaturahim KKSS yang kini sudah mati suri. Secara ex officio, ia menjadi Penanggung Jawab, namun tak pernah mencampuri independensi redaksi. Ia hadir dalam rapat, lebih banyak mendengar, bahkan membantu mencarikan iklan dan THR bagi awaknya.
Suatu kali ia ingin mengganti desain sampul, sebagai pemimpin redaksi saya menolaknya. Ia menerimanya tanpa merasa jumawa. Setelah itu, ia justru mengajak kami makan di restoran mewah.
“Makan sesukamu. Pilih yang paling enak dan paling mahal.”
Kami pun menyergap hidangan seperti kucing lapar. Di meja makan itu, ia kembali menegaskan pentingnya majalah terbit berkala dan mandiri. Baginya, organisasi besar harus memiliki media komunikasi yang sehat dan berkelanjutan.
Kini, Sang Jenderal telah menyisih dari panggung dunia. Ia berpulang pada Selasa, 3 Maret 2026, di Rumah Sakit RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
“Seorang prajurit tidak pernah benar-benar berpulang; ia hanya menyisih untuk memberi ruang bagi generasi berikutnya.”
Disiplin, karya, dan keteladanan yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam denyut organisasi dan dalam ingatan kolektif warga KKSS.














