Literature on Stage: “Tiga Datuk – Adat, Syarak, dan Tauhid”

0
61
- Advertisement -

 

Menghidupkan Jejak Dakwah Damai Ulama Nusantara Melalui Seni Pertunjukan

PINISI.co.id– Sebuah karya seni pertunjukan bertajuk “Tiga Datuk: Adat, Syarak, dan Tauhid” akan dipentaskan dalam program Literature on Stage, menghadirkan kisah historis perjalanan tiga ulama Minangkabau—Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Patimang dalam menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke 16 – 17.

Pertunjukan ini merupakan seni pertunjukan kolaborasi lintas etnis yang mempertemukan kekayaan
budaya Minangkabau dan Bugis-Makassar dalam satu panggung. Karya ini juga dikembangkan
melalui pendekatan transdisipliner, yang mengintegrasikan sejarah, seni pertunjukan, budaya, dan
spiritualitas ke dalam satu pengalaman artistik yang utuh. Berbagai elemen seperti teater, tari tradisional, musik etnik,sastra tutur ( sinrilik, Maksurek, Tambo, dan Tembang ) serta visual multimedia diolah secara terpadu. Disutradarai oleh Sabilul Razak, pertunjukan ini tidak hanya
menyajikan sejarah, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Mengangkat tema besar “Adat, Syarak, dan Tauhid”, pertunjukan ini menyoroti bagaimana dakwah Islam di Nusantara dilakukan secara damai melalui pendekatan budaya, dialog, dan keteladanan. Tiga Datuk tidak datang untuk menghapus adat, melainkan menyucikan dan menguatkannya dengan nilainilai tauhid.

- Advertisement -

Karya ini berangkat dari kegelisahan atas minimnya pengetahuan generasi muda terhadap sejarah penyebaran Islam di Indonesia, khususnya peran penting tiga Datuk dalam membangun peradaban di
Sulawesi Selatan. Melalui medium seni pertunjukan, diharapkan sejarah tersebut dapat dihadirkan secara lebih emosional, kontekstual, dan mudah diakses oleh masyarakat luas, sekaligus memperkuat
pemahaman akan keberagaman budaya Nusantara.

Selain pertunjukan utama, acara ini akan dibuka dengan sambutan kebudayaan oleh Yang Mulia Opu Andi Maradang Mackulau, Datu Luwu XL, yang menjadi bagian penting dalam sejarah Islamisasi
Sulawesi Selatan. Kehadiran ini menjadi simbol penghubung antara karya seni dengan akar sejarah yang hidup, sekaligus memperkuat dimensi budaya dan spiritual dalam keseluruhan pertunjukan.

Pertunjukan ini didukung oleh para seniman Sulawesi Selatan,Minangkabau dan Banten di antaranya Syam Ancoe Amar sebagai Datuk ri Tiro sekaligus Dramaturg, Ilham Anwar sebagai Datuk ri Patimang, dan Boet Bismar sebagai Datuk ri Bandang. Unsur artistik pertunjukan diperkuat oleh penata musik Sulthan Ngirate, penata gerak Arimbi Budiono, serta penata visual multimedia Rezki Eka Dharmawan.

Pertunjukan akan diselenggarakan pada Sabtu, 28 Maret 2026, Waktu: Pukul 19.00 – 22.00 WIB di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat. Program ini merupakan bagian dari dukungan Dana Indonesiana – LPDP dalam upaya pemanfaatan dana abadi kebudayaan untuk mendorong penciptaan karya kreatif inovatif berbasis riset dan
budaya.

Selain sebagai tontonan, pertunjukan ini juga diharapkan menjadi ruang refleksi dan edukasi, memperkuat identitas budaya, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya harmoni antara adat

“Melalui karya ini, kami ingin mengingatkan bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan cara yang santun, menghormati budaya, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ungkap Sabilul Razak, sutradara pertunjukan.

Kontak Media
Humas & Publikasi
Amanda Lailatul Hana
0821-9170-2552/ [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here