Kolom Fiam Mustamin
BEGITULAH penampilan pagelaran pada 18 Juni 2026 di Gedung Kesenian Jakarta.
Naskah klasik tersebut diolah oleh seniwati Wa Ode Siti Marwiyah yang dikenal dengan nama Wiwiek Sipala, alumnus pertama Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Selain menempuh pendidikan di IKJ, Wiwiek yang tumbuh dalam budaya Bugis-Makassar juga menyerap pendidikan tari di Martha Graham School, Amerika Serikat.
Dengan bekal itu, sejumlah karya seni tari telah diciptakannya melalui berbagai inovasi dan adaptasi dari elemen seni lainnya, seperti teater, pemanggungan, pencahayaan, sastra, narasi, dan musik.
Cinta Abadi Datu Museng dan Maipa Deapati merupakan kisah yang bersumber dari sastra lisan Bugis-Makassar dan Sumbawa.
Naskah lisan yang dituturkan sejak abad ke-18 itu begitu melegenda dalam memori kolektif masyarakat Bugis-Makassar dan Sumbawa.
Dalam pentas yang dipagelarkan tersebut, peran penting dimainkan oleh tokoh Sang Putri Bangsawan Datu Taliwang yang diperankan oleh Rizki D. Manippi, alumnus IKJ.
Penari laki-laki yang memerankan tokoh perempuan Maipa itu menampilkan gerak dan olah tubuh yang teruji, sekaligus menunjukkan kualitas keaktorannya dalam seni peran.
Elemen pendukung lainnya adalah unsur musik, properti, narasi teks, serta tata suara yang menghadirkan bunyi air telaga, derap kuda yang berpacu, desir angin, kilat, dan guntur. Seluruhnya berpadu dengan tata pencahayaan yang menghidupkan suasana proses pengobatan sang putri di telaga pada tengah malam saat bulan purnama.
Gambaran jeritan batin sang putri diresapi melalui musik dan vokal syair dari tiga subetnik yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan tersebut.
Pagelaran ini memilih satu episode dari rangkaian kisah, yakni peminangan, jatuh sakit, dan proses pengobatan. Tokoh Datu Museng dihadirkan melalui narasi, disertai pelibatan penonton yang diajak menyalakan lilin sebagai simbol doa dan keharuan, diiringi musik vokal syair etnik yang menyentuh.
Melalui episode tersebut, imajinasi penonton telah disentuh oleh gambaran kolosal dari kisah klasik yang begitu kaya makna.
Pagelaran itu menyisakan memori dan imajinasi: kisah apa yang akan terjadi setelahnya? Tentang adat di Kesultanan Sumbawa dan Bima setelah batalnya perkawinan perjodohan. Tentang Maipa dan Datu Museng di Butta Gowa yang berperang habis-habisan demi menegakkan harkat dan harga diri melawan Belanda yang mengadu domba serta berupaya merebut Maipa dari pelukan Datu Museng.
“Datu…”
Maipa mengharamkan dirinya disentuh oleh Belanda Tomalompoa itu. Maipa lebih memilih ikhlas mati di pangkuan Datu Daengku daripada menyerahkan kehormatan dan cintanya.
Begitulah kekuatan kisah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan yang menjadikan legenda Datu Museng dan Maipa Deapati terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Bugis-Makassar, Sumbawa, dan Nusantara hingga hari ini.
,













