Oleh: Dr. Ir. ABDUL RIVAI RAS, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (DPP APPMBGI) & Wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS)
Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI tahun 2026 di Hotel Claro Makassar tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai ajang silaturahmi tahunan para pengusaha. Dalam konteks global hari ini – yang ditandai oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian geopolitik, dan perubahan struktur pasar dunia – PSBM justru menjadi forum strategis yang menentukan apakah saudagar Bugis-Makassar mampu bertahan, beradaptasi, atau bahkan memimpin dalam lanskap ekonomi baru yang semakin kompetitif.
Kita sedang menyaksikan dunia yang berubah jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu. Perang terbuka antara Amerika Serikat–Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026 bukan hanya konflik militer, tetapi juga sudah berkembang menjadi “shock” ekonomi global yang berdampak langsung pada negara-negara seperti Indonesia. Ketergantungan dunia pada jalur energi seperti Selat Hormuz menjadikan setiap eskalasi konflik sebagai ancaman sistemik terhadap stabilitas harga energi, rantai pasok, hingga inflasi global.
Bagi Indonesia, dampaknya sangat nyata. Sebagai net importer minyak, kenaikan harga minyak dunia langsung membebani APBN. Bahkan setiap kenaikan satu dolar per barel berpotensi menambah beban subsidi hingga lebih dari Rp10 triliun.
Di saat yang sama, sektor industri strategis seperti nikel – yang menjadi tulang punggung hilirisasi nasional – mulai terganggu akibat tersendatnya pasokan bahan penunjang seperti sulfur dari kawasan Teluk. Ini menunjukkan satu hal penting, bahwa dunia usaha tidak lagi bisa berpikir lokal, karena risiko global kini menembus batas negara dengan sangat cepat.
Mengambil Peran Progresif
Dalam konteks inilah PSBM harus mengambil peran yang lebih progresif. Forum ini tidak boleh berhenti pada nostalgia kejayaan saudagar Bugis-Makassar di masa lalu, yang dikenal tangguh, adaptif, dan berani merantau. Justru nilai-nilai tersebut harus ditransformasikan ke dalam kerangka bisnis modern yang berbasis teknologi, data, dan jejaring global.
Pertama, adaptasi terhadap teknologi dan pemanfaatan data bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dunia bisnis hari ini bergerak dalam logika digital, di mana keputusan tidak lagi berbasis intuisi semata, tetapi pada analisis data yang presisi. Saudagar yang tidak mampu membaca tren pasar melalui data akan tertinggal, bahkan tersingkir. E-commerce, artificial intelligence, big data analytics, hingga supply chain digital telah menjadi “bahasa baru” dalam perdagangan global.
PSBM harus menjadi katalis bagi transformasi ini. Bukan sekadar membicarakan pentingnya digitalisasi, tetapi mendorong implementasi nyata, misalnya melalui inkubasi bisnis digital, pelatihan teknologi bagi UMKM Bugis-Makassar, hingga pembentukan ekosistem platform bersama yang memungkinkan kolaborasi lintas sektor. Jika tidak, saudagar lokal akan kalah bersaing dengan korporasi global yang sudah jauh lebih siap secara teknologi.
Kedua, penguatan jejaring bisnis harus naik ke level strategis. Selama ini, jejaring sering dimaknai sebagai hubungan sosial atau kedekatan personal. Padahal dalam ekonomi global, jejaring adalah instrumen kekuatan. Negara-negara maju membangun kekuatan ekonominya melalui aliansi bisnis lintas negara, integrasi rantai pasok, dan kemitraan strategis.
Dalam kerangka itu, saudagar Bugis-Makassar memiliki modal sosial yang sangat kuat. Tradisi diaspora yang telah berlangsung ratusan tahun menciptakan jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Namun, jaringan ini perlu diorganisasi secara lebih sistematis dan profesional. PSBM harus menjadi “hub” yang menghubungkan para pengusaha dengan peluang investasi, akses pasar internasional, serta mitra strategis global.
Ketiga, integrasi kearifan lokal dengan strategi bisnis modern adalah keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki semua pihak. Nilai-nilai seperti siri’ (harga diri), pesse (solidaritas), dan keberanian mengambil risiko adalah fondasi etos kerja yang sangat relevan dalam dunia bisnis. Namun, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan dalam konteks kekinian.
Misalnya, siri’ dapat dimaknai sebagai komitmen terhadap kualitas dan reputasi bisnis. Pesse dapat diterjemahkan sebagai kolaborasi dan keberpihakan pada ekosistem usaha bersama. Sementara semangat merantau bisa dimodernisasi menjadi ekspansi pasar global berbasis inovasi. Jika ini dilakukan dengan tepat, saudagar Bugis-Makassar tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga memiliki diferensiasi yang kuat di pasar global.
Keempat, perubahan strategi bisnis global menuntut fleksibilitas dan kecepatan adaptasi. Model bisnis yang kaku dan terlalu bergantung pada satu sektor atau pasar akan sangat rentan terhadap guncangan. Konflik Iran-AS-Israel menjadi contoh nyata bagaimana faktor eksternal dapat mengganggu rantai pasok dan mengubah harga komoditas secara drastis dalam waktu singkat.
Dalam situasi seperti ini, diversifikasi menjadi kunci. Saudagar tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas atau satu pasar. Perlu ada strategi mitigasi risiko yang matang, termasuk eksplorasi pasar baru, pengembangan produk alternatif, serta penguatan sektor-sektor yang lebih tahan terhadap krisis, seperti pangan dan kebutuhan dasar.
Namun, di balik semua tantangan ini, terdapat peluang yang tidak kecil. Kenaikan harga komoditas global justru bisa menjadi windfall bagi Indonesia, terutama pada sektor batu bara, CPO, dan nikel.
Pertanyaannya: apakah saudagar kita siap memanfaatkan peluang tersebut? Atau justru hanya menjadi penonton di tengah momentum yang seharusnya bisa dimaksimalkan?
Aksi Nyata
Di sinilah pentingnya PSBM sebagai forum refleksi sekaligus aksi. Pertemuan ini harus menghasilkan agenda konkret, bukan sekadar wacana. Misalnya, pembentukan konsorsium bisnis Bugis-Makassar untuk ekspor komoditas strategis, penguatan industri hilir berbasis lokal, hingga pengembangan pusat data ekonomi yang dapat menjadi referensi bersama dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, PSBM juga perlu mendorong sinergi dengan pemerintah. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, peran negara sebagai stabilisator menjadi sangat penting. Kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif harus diimbangi dengan kesiapan dunia usaha untuk merespons secara cepat. Kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ekonomi Indonesia sendiri menunjukkan resiliensi yang cukup kuat. Pertumbuhan di kisaran 5%, inflasi yang relatif terkendali, serta cadangan devisa yang solid menjadi modal penting dalam menghadapi tekanan global. Namun, kita tidak boleh terlena. Ketahanan makro harus diterjemahkan menjadi kekuatan mikro di level pelaku usaha.
Akhirnya, PSBM XXVI harus menjadi titik balik. Dunia telah berubah, dan cara kita berbisnis juga harus berubah. Saudagar Bugis-Makassar memiliki sejarah panjang sebagai pelaku ekonomi yang adaptif dan visioner. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mentransformasikan warisan tersebut ke dalam konteks global yang serba digital, cepat, dan kompleks.
Jika PSBM mampu menjawab tantangan ini dengan langkah konkret dan terukur, maka saudagar Bugis-Makassar tidak hanya akan bertahan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam peta ekonomi global. Namun jika tidak, maka forum ini berisiko menjadi sekadar ritual tahunan yang kehilangan relevansinya.
Pilihan ada di tangan kita.., menjadi pelaku perubahan, atau korban dari perubahan itu sendiri.














