Tuhanku, Ajari Aku Mencintai Tanpa Batas

0
31
- Advertisement -

Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati Masalah Budaya, Ekonomi dan Politik

MALAM beranjak perlahan menutupi panggung dunia. Angin malam berhembus pelan, seolah membawa rahasia langit yang tak semua manusia sanggup memahaminya. Di sebuah beranda kecil, seorang perempuan cantik duduk sendiri, memandang langit yang penuh bintang.

Namanya Amelia.

Malam itu, dadanya terasa seperti rumah yang terlalu lama dihuni kesedihan.

“Tuhanku…” bisiknya lirih, seperti seseorang yang berbicara kepada cakrawala yang begitu puspa warna.. “Mampukan aku mencintai tanpa batas.”

- Advertisement -

Amelia mengucapkan kalimat itu, dengan nada begitu berat, yang lahir dari reruntuhan hatinya yang terluka oleh cinta yang tak terbalas.

Pengalaman cintanya memang begitu pahit. Ternyata mencintai manusia itu, sering kali seperti menanam pohon di tanah yang belum tentu mau menerima akarnya. Kadang tumbuh, kadang layu, kadang ditebang sebelum sempat berbuah.

Amelia pernah mencintai seperti sungai yang mengalir deras, yang memberi air pada sawah-sawah kehidupan orang lain. Namun balasan yang ia terima justru bendungan-bendungan kekecewaan.

Ia pernah mencintai seperti matahari, yang memberi cahaya tanpa memilih siapa yang mesti disinari. Namun balasan yang ia terima justru bayang-bayang pengkhianatan.

Malam itu ia bertanya pada langit.
“Tuhanku, apakah mencintai tanpa batas itu mungkin ?”

Tak ada jawaban disana.
Angin malam berhembus lebih lembut dari biasanya. Seperti tangan tak terlihat yang menepuk pundak Amelia. Di kejauhan, hujan mulai turun perlahan. Ia memandang hujan itu lama. Lama sekali.

Tiba-tiba Amelia menyadari sesuatu yang memberinya pelajaran hidup yang sangat bermakna. Bahwa hujan tak pernah bertanya siapa yang akan menerima airnya. Hujan tak pernah memilih jatuh di atap istana atau di atap gubuk. Hujan tak pernah membedakan, apakah membasahi kebun bunga atau tanah yang penuh duri. Hujan tak pernah menuntut balasan. Hujan hanya turun begitu saja, tanpa pamrih. Tanpa syarat.

Dan di situlah Amelia mulai mengerti, bahwa cinta yang tanpa batas itu, bukanlah cinta yang tidak terluka. Ia adalah cinta yang tetap mengalir meskipun luka yang menyakitkan itu menjadi bagian dari perjalanannya.

Perempuan cantik itu tertunduk.
“Tuhanku… selama ini aku mencintai dengan syarat yang macam-macam.”
“Aku mencintai jika dihargai.”
“Aku mencintai jika dipahami.”
“Aku mencintai jika tak disakiti.”

Padahal cinta yang Amelia rindukan adalah cinta sejati yang bukan transaksional. Cinta sejati seperti matahari yang tetap terbit meskipun dunia sering menutup jendelanya.

Amelia memejamkan matanya.

Dalam hening malam itu, ia merasa sesuatu yang aneh mengalir dalam dirinya. Seperti ada cahaya kecil yang menyala di dalam dadanya. Seberkas cahaya yang menghapus luka batinnya. Cahaya yang membuat luka batinnya tak lagi menjadi racun.

Amelia mulai mengerti bahwa mencintai tanpa batas itu, bukan berarti mencintai semua orang dengan cara yang sama. Mencintai tanpa batas itu adalah mencintai dengan hati yang tak lagi dikurung oleh dendam.

Ia teringat kata bijak para sufi yang mengatakan bahwa cinta manusia hanyalah bayangan kecil dari cinta Tuhan yang tak bertepi. Seperti laut yang memantulkan langit. Seperti embun yang menyimpan rahasia samudra. Dan mungkin, pikir Amelia, manusia tidak diminta menjadi samudra. Manusia hanya diminta menjadi sungai yang terus mengalir menuju muara samudra.

Air matanya jatuh perlahan. Air mata yang terasa seperti hujan pertama setelah musim kemarau yang panjang.

Lalu, ia berbisik lagi ke langit.
“Tuhanku… jika hatiku terlalu kecil untuk mencintai tanpa batas, maka besarkanlah hatiku.”
“Jika cintaku masih penuh syarat,
maka sucikanlah cintaku.”
“Jika cintaku masih mudah terluka,
maka kuatkanlah jiwaku.”
“Karena aku tahu bahwa cinta tanpa batas itu, bukanlah milik manusia. Ia adalah cahaya-Mu yang Engkau titipkan sebentar di dalam dada ini.”

Dan manusia yang beruntung bukanlah mereka yang dicintai banyak orang. Melainkan mereka yang hatinya cukup luas untuk menjadi jalan lewatnya cinta Tuhan di dunia ini.

Malam makin hening. Hujan turun lebih deras lagi. Namun dalam dada perempuan cantik itu, seolah terbit matahari kecil.

Dan…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tak lagi meminta untuk dicintai. Ia hanya berdoa pelan. “Tuhanku… ajarkan aku mencintai tanpa pamrih, tanpa syarat, tanpa batas.” Oala indahnya. Weleh, weleh, weleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here