PINISI.co.id- Selasa pagi waktu Hartford, 31 Maret 2026, saya dikejutkan oleh kabar duka melalui unggahan Bapak M. Ali Duppa. Untuk memastikan berita tersebut, saya langsung menelepon beliau, Ketua Umum Kerukunan Keluarga Besar Soppeng (KKBS). Dalam percakapan itu, terkonfirmasi bahwa sahabat saya, almarhum Aprial Hasfa —Sekretaris Jenderal KK Soppeng—telah wafat. Air mata pun menetes, dan dengan suara lirih saya hanya mampu berucap, “Aprial adalah sahabat yang baik.”
Isyarat kepergian sahabat ini sebenarnya telah terasa setelah hajatan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) 2026 di Makassar pekan lalu. Saat itu, Aprial tiba-tiba mengalami pusing dan kesakitan, hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Unhas, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Jantung Unhas Makassar. Dua hingga tiga hari sebelumnya, sempat beredar fotonya yang terbaring, namun sudah mulai merespons para penjenguk. Harapan akan kesembuhannya pun sempat tumbuh di hati banyak orang.
Namun, malam ini waktu Indonesia, kabar duka itu benar-benar terkonfirmasi. Aprial Hafsah telah berpulang di Makassar, dan rencananya akan diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan. Berita ini pun segera menyebar ke berbagai grup WhatsApp KKSS.
Aprial lahir pada 1 April—sehingga orang tuanya memberinya nama “Aprial.” Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ia seharusnya merayakan ulang tahun ke-61 esok hari. Namun, takdir Allah berkehendak lain. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita semua kehilangan sosok sahabat yang baik dan tulus. Saya mengenal Aprial sejak tahun 2004, saat saya mulai bekerja sebagai Staf Ahli di kantor Wakil Presiden pada era Bapak Jusuf Kalla. Suatu hari, Aprial bersama seorang temannya mengajak saya dan sahabat saya, Andi Ety Surya, makan siang di Restoran Sate Senayan, di depan kantor Wapres, Jalan Kebon Sirih. Dari pertemuan itu, kami semakin akrab dan sering berinteraksi, terutama dalam berbagai kegiatan KKSS.
Aprial adalah sosok yang hampir selalu hadir dalam setiap kegiatan KKSS, sering menjadi panitia, dan dikenal luas sebagai sumber informasi. Banyak warga KKSS yang mengenalnya sebagai penghubung berbagai kebutuhan: mulai dari tempat tinggal sementara, pekerjaan, jodoh, hingga akses kepada tokoh-tokoh organisasi. Ia membantu siapa saja tanpa banyak bertanya, tanpa memandang latar belakang, dan tanpa pamrih.
Jika ada warga KKSS yang sakit atau berduka, sering kali informasi pertama datang dari ponsel Aprial. Ia adalah penghubung, penggerak, sekaligus relawan sejati.
Aprial pernah bercerita bahwa sejak pertama kali datang ke Jakarta, ia langsung aktif di KKSS—siang dan malam—hingga akhir hayatnya. Lebih dari 30 tahun pengabdiannya, dari era Beddu Amang hingga Andi Amran Sulaiman saat ini, hampir seluruh hidupnya ia wakafkan untuk organisasi.
Dalam setiap hajatan besar seperti PSBM dan Musyawarah Nasional (Munas) KKSS, peran Aprial sangat vital, meski kerap berada di balik layar. Ia mengurus kebutuhan peserta, termasuk pembagian kamar hotel, memastikan semua berjalan lancar. Banyak orang terbantu oleh kebaikan dan dedikasinya.
Selamat jalan, sahabat yang baik. Hampir setiap saat kita berkomunikasi—berbagi cerita, tertawa, saling menyapa, dan saling membantu. Kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam bagi saya dan banyak orang.
Saya mendoakan semoga engkau mendapatkan tempat yang lapang, bercahaya, harum, dan penuh ampunan dari Allah SWT.
Sahabatmu yang berduka,
M. Saleh Mude
Hartford, 31 Maret 2026














